1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

 

Keramik Dibanting Tidak Pecah *)

Oleh: Abdul Manaf

Nasihat adalah upaya memperbaiki keadaan yang kurang baik. Dengan nasihat sesuatu yang kurang baik menjadi baik, sesuatu yang sudah baik tetap baik atau menjadi lebih baik lagi. Nasihat bagi jiwa seperti gizi makanan bagi tubuh jasmani.

Menyampaikan nasihat itu tidak semudah melaksanakannya. Dalam ilmu jurnalistik kita mengenal 4 W (What, Who, When, dan Where) dan 1 H (How). Kiranya rumus itu berlaku juga dalam hal nasihat menasihati. Apa isi nasihat yang mau disampaikan? Siapa yang akan menyampaikan nasihat, atau juga siapa yang akan menerima nasihat? Kapan waktu menyampaikannya serta dimana situasi yang tepat menyampaikannya? Semuanya sangat menentukan efektifitas sebuat nasihat.

Tidak kalah penting dari semuanya itu adalah bagaimana cara menyampaikannya. Alih-alih mau menasihati supaya menjadi baik, tapi justeru hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Fatal akibatnya. Yang dinasihati merasa tersinggung dan melakukan tindakan yang merusak.

Dalam seni berorganisasi diperlukan kepiawaian dalam hal nasihat menasihati. Membiarkan orang lain dalam keadaan yang tidak baik, apakah dia atasan, bawahan atau setingkat dengan kita, adalah tindakan yang kurang bijaksana. Bahkan, ada yang mengatakan itu adalah termasuk syetan bisu. Syetan dapat menjerumuskan seseorang dengan tipu dayanya. Syetan yang bisu justeru menjerumuskan orang dengan pembiarannya.

Teman yang baik adalah teman yang apa adanya, bukan teman yang suka mengada-ada, alias suka memuji-muji saja. Seni nasihat-menasihati adalah dengan cara tidak menyakiti dan menghinakan, tetapi dengan cara mendekati dan memuliakan.

Alkisah, ada seorang sufi pada jaman dahulu hendak mencari pekerjaan di pasar. Dia bertemu dengan penjual keramik dan bersedia bekerja memikul keramik untuk mendapatkan upah.

“Saya akan berikan upah tiga buah nasihat kalau kamu mau?” kata penjual keramik. “Uang bisa saya cari, tapi nasihat yang baik lebih berharga daripada uang, saya setuju kalau begitu,” jawab sang sufi.

Penjual keramik berjalan menaiki seekor keledai, sementara sang sufi memikul keramik berjalan kaki. “Nasihat yang pertama, jangan pernah percaya kalau ada orang yang mengatakan bahwa lebih baik lapar daripada kenyang,” kata penjual. “Itu nasihat yang baik,” kata sufi.

Selang beberapa waktu berjalan, “Nasihat kedua, jangan pernah percaya kalau ada orang yang mengatakan bahwa lebih baik berjalan kaki daripada naik kendaraan,” kata penjual. “Itu nasihat yang baik, “ kata sufi.

Keduanya melanjutkan perjalanan. Selang beberapa lama, “Nasihat ketiga, jangan pernah percaya kalau ada orang yang mengatakan bahwa ada orang bekerja yang lebih bodoh daripada kamu,” kata penjual keramik.

Seketika, sang sufi menyadari bahwa ketiga nasihat itu telah membongkar kebodohannya di hadapan orang kaya yang menindas.

Nasihat yang disampaikan dengan cara menghina tersebut, ternyata berakibat fatal bagi penjual keramik.

Sekonyong-konyong, sang sufi menjatuhkan seluruh keramik yang sedang dipikulnya sambil berkata: “Wahai penjual keramik, jangan pernah kamu percaya kalau ada orang yang mengatakan bahwa barang-barang keramik yang saya jatuhkan ini tidak ada yang pecah.” [bm]

*) tulisan ini pernah dimuat di rubrik “Pojok Dirjen” Majalah Peradilan Agama Edisi 10| Des 2016 dengan perubahan judul.

 

Comments  

 
# pitir/Wapan PA.Jambi 2017-01-25 08:53
Semoga kisah sang sufi memberikan renungan kepada kita...
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Tfk 2017-01-27 20:57
Mengatakan bodoh pd org lain itu sesuatu yg menyakitkan meskipun kita sendiri pendidikannya lebih tinggi dr orang lain
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Abd.Salam PA Mataram 2017-01-31 08:06
Saya baca cerita hikmah pak Dirjen ini tertawa terpingkal-ping kal sendiri. Ada ada sajaaaa Pak Dirjen
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# abdurrahman_Pa_Kras 2017-02-09 14:19
ass....
Semoga kita tidak menjadi setan bisu apalagi setan cerewet
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Suhadak PA Surabaya 2017-02-20 07:14
kisah yang penuh hikmah walaupun saya terpingkal pingkal menbacanya, sangat inspiratif dan kreatif...Seni menasehati adalah sesuatu yang sangat penting, sehingga tidk kaku dan selalu luwes.
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# niajimi 2017-03-06 10:42
saya agak loli (loading Lila) baca ini. tapi akhirnya saya dapat memahami bahwa nasehat yang baik pun tetap menyakitkan bila disampaikan dengan cara yang tidak baik. proses.. ya itu sangat penting. hasil kita lihat nanti.
Reply | Reply with quote | Quote
 

Add comment

Pembaruan MA

Layanan Info

BANNER SUBDIT HAKIM

hasil-tpm

Elearning

Banner majalah

tnde01

BANER WEB