logo web

Dipublikasikan oleh Iwan Kartiwan pada on . Dilihat: 921

BUKAN SEKEDAR AKTUALISASI

(Momentum hari Pahlawan 10 November)

Hj. St. Zubaidah,S.Ag.,S.H.,M.H.

Hakim PA. Rantau

Bangsadan masyarakat Indonesia kembali diingatkan pada Hari Pahlawan 10 November yang merupakan cita-cita para pejuang menuju Indonesia merdeka yang ditandai dengan terjadinya pertempuran heroik di Surabaya. Pertempuran yang membutuhkan pengorbanan luar biasa dari para pejuang, mengorbankan jiwa dan raga maupun harta benda yang dimiliki sampai tetes darah penghabisandemi satu tujuan: MERDEKA! Merdeka dari penjajahandan merdeka dari penindasan kolonial.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang men[ghormati jasa pahlawannya. Indonesia adalah bangsa yang dibesarkan oleh kebesaran jiwa para Pahlawan sehingga menjadi bangsa yang besar, sehingga tidak ada dalih apapun untuk tidak  menghormati para pahlawan terlebih untuk melupakan mereka. Menggali, menemukan dan mengambilnya untuk dijadikan sebagai suri tauladan dan pijakan kita dalam mengisi kemerdekaan. Inilah makna sebenarnya yang tersimpan dibalik Peringatan Hari Pahlawan! Bukan sekedar acara-acara seremonial dan rutinitas belaka. Upacara menaikkan bendera, menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengheningkan cipta, membaca Pancasila dan Pembukaan UUD 1945, doa, selanjutnya kembali ke rumah masing-masing tanpa kesan dan seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Kita harus meneruskan perjuangan para pahlawan dan menumbuhkan kembali semangat kepahlawanan di setiap langkah kita. Para pejuang bangsa ini mungkin meneteskan air mata, bukan sedih karena kita lupa dengan nama-nama mereka tetapi lebih kepada kealpaan kita terhadap tujuan awal pendiri bangsa mendirikan negeri yang bernama Indonesia.

Menjadi Pahlawan, Mungkinkah?

Bangsa Indonesia saat ini membutuhkan pahlawan-pahlawan baru untuk mewujudkan kehidupan rakyat yang demokratis secara politik, adil secara sosial, sejahtera secara ekonomi, dan partisipatif secara budaya. Jika kita menoleh ke belakang, dulu generasi muda terpelajar yang memperoleh kesempatan untuk menikmati pendidikan mempunyai satu cita-cita besar bagaimana bangsa ini bisa merdeka dari belenggu penindasan kolonial. Mereka tidak hanya mempunyai gagasan besar tentang perubahan, tidak hanya berhenti pada satu forum diskusi, tetapi ada satu tindakan riil bagaimana melakukan proses transformasi nilai terhadap rakyat.

Bangsa ini sedang membutuhkan banyak pahlawan, pahlawan untuk mewujudkan Indonesia yang damai, adil dan demokratis, bersih dan bebas korupsi. karena korupsi merupakan akar dari kehancuran sebuah Negara. Bangsa kita sedang dihinggapi penyakit korupsi yang sudah berada pada  stadium lanjut. Korupsi yang melibatkan para pejabat tinggi dan prihatinnya lagi juga sudah  melibatkan para penegak hukumnya, yang seharusnya mereka sebagai pemberantas korupsi. Namun kini justru sebaliknya. Indonesia sangat membutuhkan orang-orang berani untuk memberantas korupsi tersebut.

Karekteristik seorang pahlawan adalah jujur, pemberani, dan rela melakukan apapun demi kebaikan dan kesejahteraan masyarakat. Setiap orang harus berjuang untuk menjadi pahlawan. Karena itu, hari pahlawan tidak hanya pada 10 November, tetapi berlangsung setiap hari dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hari kita berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga. Artinya, kita menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing. Setidaknya kita harus mampu bertanya pada diri sendiri apakah rela mengorbankan diri untuk mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing dan mencetak prestasi dengan cara yang adil, pantas dan wajar. maka dari itu Peringatan Hari Pahlawan sebaiknya dijadikan momentum sebagai hari besar yang dirayakan secara khidmat, dan dengan rasa kebanggaan yang besar, karena merupakan kesempatan bagi seluruh bangsa untuk mengenang jasa-jasa dan pengorbanan para pejuang.

Banyak sudah orang-orang yang punya Niat/Heart, Pikiran/Head dan Tindakan/Hand dengan semangat perubahan yang tinggi. Mereka  melakukan perubahan tanpa memikirkan pamrih atau hasil yang dicapai namun selalu berusaha meberekina yang terbaik pada diri untuk mencapai hasil optimal dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Pahlawan bagi diri sendiri

            Pahlawan untuk diri sendiri mungkin terkesan egois. Seorang dapat dikatakan pahlawan apabila ia “menyelamatkan” atau memberikan suatu jasa tertentu bagi orang lain dan lingkungannya. Akan tetapi perlu diingat bahwa sebelum kita mampu untuk “menyelamatkan” orang lain, kita juga harus mampu untuk “menyelamatkan” diri kita sendiri.“Menyelamatkan” diri sendiri sebelum “menyelamatkan” orang lain, sebab fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini masih kebalikan dari pernyataan ini. Masih cukup banyak masyarakat Indonesia yang berlagak ingin “menyelamatkan” orang lain, padahal belum mampu “menyelamatkan” dirinya sendiri. Beberapa menggunakan topeng alasan kemanusiaan, dengan wajah mencari sensasi atau jaga gengsi di balik topeng dengan alasan mengikuti perkembangan jaman, tapi lagi-lagi sebenarnya gengsi yang diutamakan.

Seseorang dapat menjadi pahlawan karena mempunyai bakat kepahlawanan dalam dirinya dan karena bakat itu menemukan lingkungan yang memicu pertumbuhannya, kemudian menemukan momentum historis yang menjadikannya abadi. Setiap orang datang membawa bakat yang berbeda, dan kemudian menemukan momentum historis yang berbeda pula. Dan sebaliknya banyak orang tidak berbakat menjadi pahlawan, karena tidak menemukan lingkungan dan momentum historis yang mengakomodasi bakatnya. Dan betapa banyak orang yang hidup di tengah lingkungan dan momentum historis yang memungkinkannya menjadi pahlawan, tetapi mereka tidak juga menjadi pahlawan. Karena memang mereka tidak berbakat. Bahkan Ahmad Mansur Suryanegara, (Sejarawan Muslim), mengatakan sejarah adalah akumulasi kerja-kerja sederhana namun memberi efek besar bagi sejarah bangsa karena momentumnya tepat.

Seseorang menjadi pahlawan juga karena memiliki keunikan. Keunikan yang bersumber dari bakat dan sebagian yang lainnya bersumber dari ruang,  waktu serta situasi. Perpaduan yang harmonis antara bakat, ruang, waktu dan situasi itulah yang menjadi faktor utama yang mengantarkan seseorang kepada  sejarah kepahlawanan. Menurut Anis M (2008), keunikan kepahlawanan terletak pada karyanya. Seseorang kemudian dianggap pahlawan karena ia melahirkan karya yang berbeda dari karya orang lain. Sejarah tidak mencatat pengulangan-pengulangan. Kecuali, untuk karya dalam bidang yang sama dengan kualitas yang berbeda secara hirarkis, tetapi berbeda dalam situasinya. Hal ini menyebabkan letak kepahlawanan setiap orang selalu berbeda. Namun tetap pada satu kesamaan: berkarya.

Rela berkorban demi bangsa dan negara merupakan hal yang paling esensial ketika merujuk arti pahlawan. Kerelaan mempertaruhkan nyawa di medan perang untuk mencapai keinginan bersama berupa kemerdekaan. Kepentingan negara seringkali didahulukan daripada kepetingan keluarga sekalipun. Mereka rela melakukan apapun demi membela negara Indonesia tercinta. Selain dalam bentuk fisik pengorbanan juga dilakukan dalam bentuk pemikiran. Pemimpin dan "arsitek" pembentuk negara seperti Ir. Soekarno, Muh.Yamin, M. Hatta, Tan Malaka adalah segelintir pemikir-pemikir era perjuangan. Karya dan tulisan yang mereka buat telah membangkitkan semangat rakyat Indonesia.

Momentum Hari Pahlawan mestinya bukanlah untuk menumbuhkan kekaguman yang berlebihan, tapi untuk mendulang keteladanan yang kemudian diaktualisasikan dalam kesadaran kita di era sekarang. Itulah yang memungkinkan kita menjadi pahlawan baru yang menuntaskan kerja-kerja kepahlawanan untuk negeri tercinta, Indonesia. Akhirnya, selamat memperingati dan mengambil teladan Hari Pahlawan.

 

 

Hubungi Kami

Gedung Sekretariat MA (Lt. 6-8)

Jl. Jend. Ahmad Yani Kav. 58 ByPass Jakarta Pusat

Telp: 021-29079177
Fax: 021-29079277

Email Redaksi : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Email Ditjen : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Lokasi Kantor