
Pada hari kedelapan tausiyah Ramadhan PA Pematangsiantar tahun 2025 merupakan giliran dari Kasubbag PTIP Idrus, S.H.I. sebagai pemateri. Beliau membawakan materi mengenai tujuh jenis nafsu. Setiap manusia pasti memiliki nafsu yang menjadi dasar setiap hal atau perbuatan yang dilakukannya, baik itu perbuatan baik maupun buruk.
Nafsu sering diidentikkan dengan sesuatu yang buruk, seperti perasaan atau keinginan seksual, sebenarnya nafsu itu sangat luas dan mencakup hal-hal. Jenis nafsu dalam Islam adalah jisim (bentuk) halus yang diciptakan oleh Allah dua ribu tahun sebelum penciptaan badan. Sedangkan jasad disebut ruh sebelum bersentuhan atau bertemu dengan jasad, dan ketika bertemu atau menyatu dengan jasad, ini disebut dalam Islam sebagai jenis syahwat. Ada tujuh jenis atau tingkatan nafsu dalam pandangan islam, sebagai berikut:

1. Nafsu Amarah
Nafsu Amarah adalah jenis nafsu yang tingkatannya paling rendah. Nafsu ini cenderung menjerumuskan Tuannya pada hal-hal yang negatif. Orang yang memiliki nafsu ini senang melakukan sesuatu yang membuatnya senang tanpa mempertimbangkan hukum dan dampaknya.
2. Nafsu Lawwamah
Tingkatan nafsu ini lebih tinggi daripada nafsu amarah. Setelah melakukan kemaksiatan timbul rasa menyesal dalam hatinya. Terkadang ia berbuat kebaikan tapi ketika sedang lalai ia kembali berbuat kejahatan. Poin positifnya ia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
3. Nafsu Mulhamah
Orang yang berada pada tingkatan ini cenderung terasa berat dalam melakukan amal kebajikan. Bila ia berhadapan dengan maksiat hatinya masih rindu dengan maksiat. Namun ia masih bisa membayangkan nikmatnya Surga dan pedihnya api neraka tapi dia masih belum bisa melawan hal itu.
4. Nafsu Muthmainnah
orang yang berada pada tingkat nafsu ini senantiasa Allah jauhkan dari rasa cemas dan gelisah dalm menerima segala ketetapan dan keputusan yang sudah Allah tetapkan padanya. Jiwanya akan selalu merasa tenteram dan sejuk bila melakukan amal kebaikan.
5. Nafsu Radliah
Sifat dari orang yang memiliki nafsu semacam ini adalah dia selalu menganggap yang makruh itu haram, menganggap yang sunat itu wajib. Jika tidak melakukan kesunahan ia merasa berdosa. Baginya takdir yang dan yang buruk sama saja. Dalam arti dia sudah menyerahkan hidupnya untuk beribadah kepada Allah.
6. Nafsu Mardliyyah
Yang paling istimewa pada tingkatan ini adalah bahwa ia sangat mencintai Allah dan Allah juga sangat mencintainya. Dia membuat Allah SWT mencintainya dengan cara ia mengerjakan ibadah sunah dan tidak melakukan dosa walaupun sekecil jarum di lautan.
7. Nafsu Kamilah
Tingkatan yang ke tujuh sekaligus tingkatan tang terakhir adalah tingkatannya para Nabi dan Rasul, manusia suci dan sempurna. Yang terpelihara dari perbuatan tercela dan Allah selalu mengawasi dan membimbingnya.
Tim IT PA Pematangsiantar