TAUSIYAH RAMADHANMS BLANGPIDIE:
“ KEHIDUPAN YANG BAIK MENURUT AL-QUR’AN ”

Meski dalam suasana pandemi Covid-19, namun kegiatan-kegiatan rutin untuk meningkatkan kualitas ibadah pada bulan Ramadhan tetap berjalan sebagaimana biasanya, salah satunya adalah tausiyah Ramadhan. Pada kegiatan tausiyah ramadhanMS Blangpidie pertama yang digelar tanggal 27April 2020 yang lalu bertindak sebagai penceramah pada kesempatan pertama ini adalah Ketua MS Blangpidie, Amrin Salim, S.Ag, M.A. Tausiyah digelar setelah pelaksanaan sholat Dzuhur berjamaah di ruang sidang MS Blangpidie. Dalam tausiyah singkatnya penceramah mengangkat ayat tentang kehidupan yang baik menurut Al-Quran yakni Qur’an Suratan-Nahl ayat 97.
Beranjak dari doa Nabi Muhammad SAW :
“Ya Allah dengan ilmu-Mu tentang yang gaib dan dengan kekuasaan-Mu atas segenap makhluk hidupkan aku apabila kehidupan itu lebih baik bagiku dan matikan aku pada saat kematian itu lebih baik bagiku ”. (HR Al Hakim dan Ibn Hibban dengan sanad hasan).
Doa ini bukan hanya mengandung harapan tetapi ajaran yg sangat berharga untuk direnungkan yaitu :
Pertama, kita memohon kehidupan yg lebih baik bukan kehidupan yang jelek, bagaimana bentuknya karena banyak sekali ukurannya. Contohnya sudah menikah, punya kenderaan sendiri, hutang sudah terbayar, dan sebagainya. Dalam Islam hidup yang baik adalah sebagaimana firman Allah Azza wa jalla dalam Surah an-Nahl ayat 97 : “Man 'amila ṣāliḥam min żakarin au unṡā wa huwa mu`minun fa lanuḥyiyannahụḥayātan ṭayyibah, wa lanajziyannahum ajrahum bi`aḥsani mā kānụ ya'malụn”.
Artinya : kehidupan yang baik itu adalah hidup yang didalamnya kita dapat memelihara dan mempertahankan iman dan mengisinya dengan amal saleh.
Meskipun hidupnya sederhana digubuk kecil tapi dia sanggup mempertahankan di tengah goncangan, orang yang taat beragama terus diberi jabatan tapi tidak bisa memelihara imannya ini orang yang merugi, wanita yang digoda sanggup menjaga kehormatan meski sengsara, ulama yang tidak tergoda dengan kedudukan.
Pertanyaan selanjutnya apakah amal soleh itu, amal yang soleh adalah amal yang mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya untuk diri kita dan diri orang lain “khairunnas anfa’ahum linnas” (HR Thabrani), ada satu riwayat anjing pada kisah ashabul kahfi itu masuk surga, pelacur yang memberi makan anjing masuk surga, apalagi memberi makan orang yang berpuasa, menyantuni anak yatim, menyisihkan sebagian rezeki terutama pada masa pandemi adalah amalan yang memberi manfaat buat orang lain.
Kedua, kita bermohon mati yang baik , bagaimana mati yang baik apakah seperti iklan di surat kabar telah meninggal dengan sukses atau tenang, ukurannya bukan dilihat dari proses kematiannya tapi mati dalam mempertahankan iman, “wala tamuutuna illa wa antum muslimun” Semoga kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain dan menjadikan momentum puasa Ramadhan ini sebagai sarana untuk meningkatkan ketakwaan dan amal soleh kita kepada Allah SWT. Hati dan amal perbuatan kita sangat menentukan kualitas ibadah puasa, karena ibadah puasa adalah merupakan ibadah kejujuran dan sangat berkaitan dengan aqidah muslim yakni bagaimana kita merasakan kehadiran Tuhan dalam diri kita sehingga apapun aktivitas yang kita lakukan akan selalu berada dalam pengawasan Tuhan, untuk itu marilah kita bertakwa dimanapun kita berada (ittaqullaha haisu ma kunta). (Tim Redaksi MS Blangpidie/amsal).