bintal aidil 1 Rantauprapat I 28 April 2021

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ
 
Hari Rabu tanggal 28 April 2021 bertepatan dengan 16 Ramadhan 1442 H, Alhamdulillah dengan mengucap rasa syukur karena masih diberi kesehatan jasmani dan rohani sehingga seluruh warga Pengadilan Agama Rantauprapat masih dapat melaksanakan puasa Ramadhan dan masih dapat menghadiri kegiatan rutin yang penuh hikmah yakni Pembinaan Mental (BINTAL) dan Tadarus Al-Quran yang dilaksanakan setiap hari kerja selama bulan Ramadhan. Kegiatan yang sangat disenangi seluruh warga peradilan Agama Rantauprapat karena memiliki banyak manfaat, memberi ilmu pengetahuan tentang islam yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari serta tadarus yang mengajarkan cara membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Kegiatan ini tak luput dari kehadiran para pemimpin Pengadilan Agama Rantauprapat, Para Hakim, Para Pejabat Struktural dan Fungsional, Para Cpns dan Tenaga Kontrak/PPNPN Pengadilan Agama Rantauprapat.
 
Pembinaan Mental yang setiap hari disampaikan oleh para tokoh agama di kalangan Pengadilan Agama Rantauprapat khususnya hari ini oleh Bapak Drs. Aidil lebih sering membahas tentang puasa karena masih dalam suasana Ramadhan. Lebih lanjut beliau menjelaskan, puasa Ramadhan sebenarnya sudah ada sejak jaman sebelum Nabi Muhammad SAW, tepatnya saat jaman jahiliah. Allah menyuruh kaum jahiliah untuk melakukan ibadah puasa Ramadhan namun mereka menentangnya. Kemudian pada jaman Nabi Muhammad SAW puasa Ramadhan kembali di lakukan lagi atas perintah Allah SWT, melalui beberapa proses. Seperti disebut pada Q.S Al-Baqarah ayat 183 :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
 
Arab-Latin: Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn
Terjemah Arti: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, dijelaskan secara terperinci . 

1. Ya ayyuhallazina amanu - Wahai orang-orang yang beriman

Imam Ath Thabari menyatakan maksud ayat ini adalah : “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, membenarkan keduanya dan mengikrarkan keimanan kepada keduanya” Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini: “Firman Allah Ta’ala ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman dari umat manusia dan ini merupakan perintah untuk melaksanakan ibadah puasa”.

2. Kutiba 'alaikumus-siyamu - Telah diwajibkan atas kamu berpuasa

Al Qurthubi menafsirkan ayat ini: “Sebagaimana Allah Ta’ala telah menyebutkan wajibnya qishash dan wasiat kepada orang-orang yang mukallaf pada ayat sebelumnya, Allah Ta’ala juga menyebutkan kewajiban puasa dan mewajibkannya kepada mereka. Tidak ada perselisihan pendapat mengenai wajibnya”

3. Kama kutiba 'alallazina ming qablikum - Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian

Imam Al Alusi dalam tafsirnya menjelaskan: “Yang dimaksud dengan ‘orang-orang sebelum kalian’ adalah para Nabi sejak masa Nabi Adam ‘Alaihissalam sampai sekarang, sebagaimana keumuman yang ditunjukkan dengan adanya isim maushul.

Menurut Ibnu Abbas dan Mujahid, yang dimaksud di sini adalah Ahlul Kitab. Menurut Al Hasan, As Suddi, dan As Sya’bi yang dimaksud adalah kaum Nasrani.

4. La'allakum tattaqun - Agar kalian bertaqwa

Kata la’alla dalam Alquran memiliki beberapa makna, diantaranya ta’lil (alasan) dan tarajji ‘indal mukhathab (harapan dari sisi orang diajak bicara). Dengan makna ta’lil, dapat kita artikan bahwa alasan diwajibkannya puasa adalah agar orang yang berpuasa mencapai derajat taqwa. Dengan makna tarajji, dapat kita artikan bahwa orang yang berpuasa berharap dengan perantaraan puasanya ia dapat menjadi orang yang bertaqwa.