Jumat, 30 Agustus 2024, aparatur Pengadilan Agama Tangerang menyaksikan acara wisuda purnabakti Ketua Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Pekanbaru, Dr. Drs. Syahril, S.H., M.H., melalui kanal Youtube Mahkamah Agung Republik Indonesia di Ruang Rapat Pimpinan Pengadilan Agama Tangerang.
Wisuda purnabakti digelar di pendopo Provinsi Riau dan dipimpin oleh Ketua Mahkamah Agung RI, Muhammad Syarifuddin. Acara ini merupakan bentuk penghargaan dari Mahkamah Agung Republik Indonesia kepada Syahril yang telah berhasil melewati perjalanan pengabdian yang panjang sebagai hakim dan pimpinan dengan penuh dedikasi, loyalitas, dan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia.

Dr. Drs. Syahril, S.H., M.H. menjalani karir sebagai hakim selama 40 tahun. Syaril memulai karirnya dengan menjadi calon hakim di PA Waingapu pada 1 Maret 1984. Karir Syahril menanjak 4 tahun kemudian dengan menjadi Wakil Ketua PA Ruteng, lalu Ketua PA Ruteng, Wakil Ketua PA Bangkinang, Ketua PA Bengkalis, Ketua PA Bangkinang, Wakil Ketua PA Pekanbaru, Hakim Tinggi PTA Pekanbaru, Hakim Tinggi PTA Palembang, Hakim Tinggi PTA Yogyakarta, Hakim Tinggi PTA Surabaya, Wakil Ketua PTA Bandar Lampung, Wakil Ketua PTA Pekanbaru, Ketua PTA Palu, Ketua PTA Bengkulu, Ketua PTA Jambi dan berakhir sebagai Ketua PTA Pekanbaru.
Dalam sambutannya, Syarifuddin menyampaikan keyakinannya bahwa Syahril telah melalui banyak ujian dan tantangan selama memangku jabatan baik sebagai hakim maupun sebagai pimpinan pengadilan tingkat banding. Syarifuddin menceritakan bahwa menjalani kehidupan sebagai hakim tidak mudah. Selain harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan terkadang harus berpisah dengan keluarga demi mengabdi kepada masyarakat dan negara, hakim juga menghadapi berbagai ujian berupa tekanan psikis dan godaan materi.

“Disinilah kekuatan moral dan keteguhan prinsip seorang hakim benar-benar diuji,“ ucap Syarifuddin. “Seorang hakim harus tabah sekaligus memiliki keberanian yang besar untuk senantiasa tegak lurus menjaga integritas dan amanah, dan tidak hanya akan dipertanggungjawabkan di dunia, tetapi juga di hadapan Allah SWT.”
Syarifuddin menuturkan bahwa menjadi hakim berarti mewakafkan hidup untuk keadilan. Begitu seorang hakim menerima jabatan hakim berarti ia telah mempersiapkan diri sebagai abdi pengayom keadilan, menghamba pada kebenaran, bahkan dalam situasi yang paling sulit. Tegak dan runtuhnya suatu bangsa bergantung pada tegak atau tidaknya keadilan.


“Dalam petuah tunjuk ajar Melayu disebutkan Bila keadilan sudah mati, disanalah tempat binasa negeri. Bila keadilan sudah tercampak, rakyat sengsara negeri pun susah. Bila keadilan sudah tenggelam, dunia yang seram menjadi kelam, “ ujar Syarifuddin.
Pada kesempatan tersebut, Syarifuddin mengajak Syahril agar banyak bersyukur kepada Allah SWT karena Syahril tiba pada gerbang akhir pengabdian dengan selamat, sehat, bahkan purnabakti dalam kedudukan sebagai ketua pengadilan tingkat banding karena tugas sebagai hakim merupakan tugas yang berat dan tidak semua hakim dapat merasakan momen bersejarah ini. Syarifuddin juga mengucapkan terima kasih atas andil dan pengabdian panjang yang telah diberikan Syahril bagi lembaga peradilan di setiap penugasan.
Dalam acara wisuda purnabakti tersebut, tampak Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Non Yudisial, Ketua Kamar Pengawasan, Ketua Kamar Pembinaan, Ketua Kamar Agama, Dirjen Peradilan Agama, perwakilan Pj Gubernur Riau, Kapolda Riau dan Jajaran Forkopimda Provinsi Riau, Wakil Ketua dan para Hakim PTA Pekanbaru serta para ketua pengadilan agama se-wilayah Provinsi Riau turut hadir mengantar Syahril menuju masa purnabakti.