Makna Isra dan Mi'raj Bagi Squad PA Soreang

Hubungannya Dengan Peradilan Elektronik 

Soreang-Bandung | 11 Maret 2021 M | 27 Rajab 1442 H |
 
Hari ini umat Islam di dunia memperingati peristiwa besar yang pernah terjadi 14 abad silam. Peristiwa dimana Rasulullah Muhammad saw, diperjalankan oleh Allah swt dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, lalu dinaikkan ke Sidratil Muntaha.
 
Meskipun tidak melakukan acara ceremonial secara khusus, keluarga besar Pengadilan Agama Soreang tetap memperingati hari besar Islam yang jatuh tiap tanggal 27 Rajab ini, melalui aplikasi WhatsApp. 
 
"satu sisi kita sangat merindukan adanya momen khusus peringatan Isra dan mi'raj di kantor, namun di sisi lain kita berupaya untuk menjaga prokes Covid, jadi alhamdulillah, meskipun sekadar ucapan di grup WhatsApp, keluarga besar PA Soreang tetap antusias", sebut Dr. H. Nasich, wakil ketua PA Soreang, kepada Tim Red melalui chat di jaringan pribadi. 
 
Tim media Pengadilan Agama Soreang merangkum kemeriahan peringatan Isra-mi'raj via WhatsApp itu melalui berita ini.
 
 
Diawali oleh video singkat yang dibagikan H. Mahrus, Ketua Pengadilan Agama Soreang. Ia membagikan ucapan selamat bagi seluruh umat Islam, sembari mengunggah hikmah dan harapan sehubungan dengan momen besar ini.
 
 
"semoga ketaatan kita dalam mendirikan shalat lima waktu semakin merasuk, dan kedamaian selalu meliputi negara kita Indonesia" tulisnya dalam isi video singkat dengan soundtrack shalawat Badar itu.
 
Seirama dengan itu, H. Helman melalui chat dan statusnya menuturkan kegembiraannya atas peringatan Isra dan Mi'raj kali ini.
 
"selamat memperingati Isra dan Mi'raj nabi Agung habibina Muhammad saw" tulisnya lewat status whatsapp yang diunggah pukul 20.00 WIB dengan background shalawat Fatih.
  
 
Dari status-status yang diunggahnya, diketahui H. Helman saat itu sedang melakukan 'Isra' dari Bandung ke Surabaya dengan kereta api cepat. Ia mengambil cuti sehubungan dengan adanya agenda peringatan Isra-mi'raj di pesantren yang diasuhnya di Pasuruan.
 
Lain halnya dengan Dr. Mahmud Hadi Riyanto, dalam tulisan singkatannya di status whatsapp yang diunggah pukul 23:00 wib, ia menghubungkam antara kecanggihan yang terjadi dalam peristiwa Isra-mi'raj Nabi Muhammad saw, dengan mekanisme Peradilan Elektronik yang sedang gencar dikembangkan oleh Mahkamah Agung RI.
 
"di zaman Nabi saw saja, bukan cuma data tulisan yang bisa melesat cepat secara canggih, tetapi seorang manusia jiwa dan raganya yang justru mengalami proses 'elektronisasi' yang super canggih, sehingga jika hari ini Mahkamah Agung RI mengembangkan Peradilan Elektronik, itu telah sejalan dengan pesan kecanggihan yang diukir dalam sejarah peradaban manusia", simpulnya dengan emoji semangat.
 
Seperti diketahui, peristiwa Isra-mi'raj Nabi Muhammad saw terjadi dimasa dimana manusia belum mengenal transportasi modern apalagi elektronisasi kehidupan. Tak sedikit yang justru mendustakan mukjizat itu. Tetapi seorang sahabat Nabi, Abu Bakar Shiddiq, tak perlu waktu lama untuk meyakini sabda yang disampaikan baginda Nabi mengenai perjalanan monumental itu.
 
"maka hari ini kita membutuhkan semangat semangat para Shiddiq millennial. Kita membutuhkan figur figur hakim yang punya pola berpikir maju, canggih, progressif, bukan sekadar bidang materiil tetapi juga progressif di bidang teknis Peradilan. Mereka yang sigap merespon kecanggihan sistem Peradilan, tak lain adalah para Shiddiq millenial itu" pungkas mantan dosen UIN Sunan Ampel dan IAIN Jember ini.
 
Semoga segenap aparatur peradilan mampu mengaktualisasi kecanggihan yang terjadi dalam peristiwa Isra-Mi'raj Nabi Muhammad saw, ke dalam manajemen penyelenggaraan Peradilan Elektronik, tentu dengan tetap mendirikan tiang utama agama, yaitu shalat lima waktu.
Sejatinya dalam shalat itu juga terkandung dimensi kecanggihan yang luar biasa. Seseorang yang sedang melakukan shalat pada dasarnya sedang melakukan hubungan-transendental bahkan lebih dari sekadar online. Sebab kata 'shalat' sendiri mengandung arti keterhubungan yang harmonis dan essential seseorang dengan tuhannya.
 
(Red.Erf/Sor)