Senin, 10 Maret 2025, menjadi momen yang penuh berkah bagi segenap pegawai Pengadilan Agama Tangerang, dengan kembali mengadakan acara Kurma (Kuliah Ramadan) di lobi lantai atas gedung Pengadilan Agama Tangerang. Kurma hari ini menghadirkan Drs. Muhyar, S.H., M.H., M.Si., Hakim Pengadilan Agama Tangerang dengan tema ceramah yang sangat relevan dan penting dalam bulan suci Ramadan, yaitu "Hakikat Puasa".

Puasa, menurut Drs. Muhyar, bukan hanya sebatas menahan diri dari rasa lapar dan haus. Namun, lebih dari itu, puasa mengajarkan kita untuk menahan diri dari perbuatan yang tercela, menjaga lisan, pandangan, pendengaran, dan seluruh anggota tubuh lainnya. Tema ini mengingatkan kita bahwa esensi puasa tidak sekadar fisik, melainkan juga menjaga hati dan perilaku kita sepanjang bulan penuh rahmat ini.


Drs. Muhyar mengutip sebuah hadis yang mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga kualitas puasa:
"Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan hausnya saja. Berapa banyak orang yang bangun malam, tidak mendapat pahala kecuali hanya bangun malamnya saja." (H.R. Imam An-Nasai dan Ibnu Majah).
Hadis ini menggambarkan betapa pentingnya menjaga kualitas puasa kita. Puasa yang sejati adalah puasa yang dapat menahan kita dari segala godaan, termasuk godaan berbicara buruk dan melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat.


Lebih lanjut, Drs. Muhyar memberikan nasihat yang menyejukkan hati,
"Jangan terlalu takut puasa kita tidak diterima, dan jangan terlalu yakin puasa kita diterima oleh Allah SWT."
Pernyataan ini mengingatkan kita untuk selalu menjaga kesungguhan hati dalam beribadah, tanpa merasa terlalu yakin atau pesimis terhadap penerimaan ibadah kita. Sebagai hamba Allah, kita diajarkan untuk selalu ikhlas dan berharap semoga Allah menerima setiap amal ibadah kita.
Sebagai bagian dari penjelasan lebih lanjut, Drs. Muhyar menjelaskan bahwa hakikat puasa itu memiliki enam aspek yang harus kita perhatikan:
- Menahan Pandangan: Menjaga pandangan agar tidak terjerumus dalam hal-hal yang tidak baik.
- Menahan Pembicaraan: Menghindari perkataan yang sia-sia, keji, atau mengundang dosa.
- Menahan Pendengaran: Berhati-hatilah dalam mendengarkan hal-hal yang bisa merusak keimanan kita.
- Menahan Seluruh Anggota Tubuh Lainnya: Termasuk menjaga tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah.
- Menghindari Makan dan Minum Berlebihan Saat Berbuka: Berbuka puasa dengan cara yang wajar dan tidak berlebihan karena hal ini bisa merusak tujuan utama puasa.
- Jangan Terlalu Takut atau Terlalu Yakin Puasa Kita Diterima: Puasa adalah ibadah yang penuh dengan kerendahan hati, kita harus senantiasa berusaha dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.



Ceramah yang disampaikan juga mengungkapkan kisah menarik pada zaman Rasulullah SAW, yang menunjukkan betapa pentingnya menjaga lisan dan perilaku dalam menjalankan ibadah puasa. Diceritakan bahwa ada dua orang perempuan yang kesulitan menjalankan puasa, lalu Rasulullah SAW memerintahkan mereka untuk berbuka. Ketika mereka berbuka, keduanya muntah darah dan daging segar. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa meskipun mereka menahan makan dan minum, mereka gagal menahan lisan mereka untuk tidak menggunjing atau membicarakan orang lain.
Poin penting yang harus diambil dari penuturan Drs. Muhyar adalah bahwa "Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain sekadar menahan lapar dan haus." Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk senantiasa menjaga kualitas puasa kita dengan menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan atau merusak pahala puasa kita.
Puasa yang sesungguhnya adalah puasa yang mampu menahan diri dari segala larangan-Nya, menjaga perilaku dan ucapan, serta berusaha untuk terus meningkatkan ketakwaan. Semoga melalui Kuliah Ramadan ini, kita semua bisa memahami dengan lebih dalam tentang hakikat puasa dan mampu menjalankan ibadah puasa dengan lebih baik, penuh kesungguhan, dan diterima oleh Allah SWT.