Oleh Drs. H. Muchlis, S.H., M.H.
(Dirjen Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI)

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu amanah itu dipikul oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan bodoh.” (Q.S. Al-Ahzab ayat 72)

Ada beban yang tidak terlihat oleh mata, tetapi terasa oleh nurani. Beban itu tidak menundukkan punggung, tetapi menguji keteguhan hati. Ia tidak terdengar bising, namun menggema dalam setiap keputusan dan langkah. Dalam senyap hidup sehari-hari, amanah itu hadir dalam bentuk tugas, jabatan, ilmu, keluarga, dan segala hal yang dititipkan dari langit ke hati insan. Di tengah riuh dunia, amanah sering tampak seperti sesuatu yang sepele. Tanda tangan di selembar kertas, stempel di sudut dokumen, ucapan janji dalam sebuah akad, atau kehadiran di sebuah majelis. Di permukaan, semuanya terlihat biasa. Namun ayat tentang amanah yang ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung mengisyaratkan sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu.

Selengkapnya