Oleh :
Arief Kusuma Putra, S.Kom., M.Kom
Saryono, S.Kom.
Abdul Rahman, S.H.
Transformasi digital Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama (Ditjen Badilag) Mahkamah Agung RI telah memasuki babak baru. Setelah keberhasilan membangun arsitektur ekosistem terpadu melalui Super App, Single Sign-On (SSO), dan integrasi data di lebih dari 400 satuan kerja, perhatian kelembagaan secara alamiah mulai bergeser ke arah pemanfaatan data dan kecerdasan buatan menuju visi Peradilan Cerdas (Smart Justice). Namun, di balik narasi kemajuan tersebut, tumbuh sebuah gejala yang jarang menjadi bahan pembahasan resmi: kelelahan teknologi (technology fatigue) pada aparatur. Artikel ini berargumen bahwa kelelahan tersebut bukanlah gejala kemalasan, keterbatasan kompetensi, atau kegagapan digital, melainkan bentuk baru dari kelelahan organisasi yang muncul ketika laju tuntutan perubahan teknologi melampaui kapasitas adaptif aparatur dan satuan kerja. Dengan menggunakan lensa teoretis technostress, change fatigue, dan Job Demands-Resources Theory, artikel ini membedah anatomi dan pemicu kelelahan teknologi dalam konteks khas peradilan agama, termasuk beban ganda peran yudisial dan administratif, disparitas kapasitas di antara ratusan satuan kerja, penghayatan digitalisasi sebagai beban penilaian kinerja, serta ekspektasi ketersediaan yang meleburkan batas antara waktu kerja dan waktu pribadi. Artikel ini kemudian mengajukan sebuah argumen yang bersifat kontra-intuitif: tiga resep standar yang lazim digunakan untuk mengatasi persoalan adopsi--menambah aplikasi, menambah pelatihan, dan memperkuat mandat administratif-- justru berpotensi mempercepat kelelahan itu sendiri. Sebagai alternatif, artikel ini menawarkan kerangka resiliensi organisasi melalui lima strategi: penyeimbangan tuntutan dan kapasitas melalui kebijakan "satu masuk, satu keluar", audit gesekan pengalaman pengguna, kurasi kanal dan ritme rilis, penguatan kapasitas pendampingan lokal, serta pengukuran kesehatan adopsi yang setara dengan pengukuran kecepatan adopsi. Kesimpulan utamanya adalah bahwa resiliensi aparatur bukan biaya tambahan dari transformasi digital, melainkan bagian tak terpisahkan dari transformasi digital itu sendiri--sebab transformasi tidak gagal karena teknologinya kurang canggih, tetapi karena manusianya kehabisan tenaga di tengah jalan.