Oleh Dr. H. Al Fitri, S.Ag., S.H., M.H.I. (Wakil Ketua PA Kota Cimahi) e-Mail: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Isra Mi‘raj dan Makna Kehambaan dalam Kepemimpinan

Peristiwa Isra Mi‘raj merupakan tonggak spiritual yang sarat pesan kepemimpinan. Al-Qur’an membuka kisah agung ini dengan menegaskan kehambaan Rasulullah SAW: َ ع ۡ ي ِم ذسلا ُ ۡ وُه ُ هذ ن ِ ا َ اَن ِ تٰ ي ٰ ا ۡ نِ م ٗ هَ يِ ُنُِ ل ٗ َ لَ ۡ و ؕ ٗ ح ا َن ۡ ك َ ر ٰ ب ۡ ىِ ذ لَّا ا َ صۡق َ ۡ لۡا ِ دِج ۡ سَ م ۡ لا َ لَِ ا ِ ما َ رـ َحۡ لا ِ دِج ۡ سَ م ۡ لا َ نِ م ا لًۡ ي َ ل ٖ ه ِدۡ ب َعِب ىٰ ۡسَۡ ا ۡۤ ۡ ىِ ذ لَّا َ نٰحۡ ب ُ س ١ يِصَ ب ۡ لا “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya1 agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. Al Isrā’ [17]: 1) Penyebutan Rasulullah SAW sebagai ‘abdihī menegaskan puncak kemuliaan kepemimpinan bukanlah kekuasaan, jabatan, atau otoritas struktural, melainkan posisi kehambaan yang utuh di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW dimuliakan bukan karena kedudukannya sebagai pemimpin umat, tetapi karena kesempurnaan pengabdiannya sebagai hamba. Dari sinilah lahir paradigma kepemimpinan yang menempatkan spiritualitas sebagai fondasi utama.

Selengkapnya