Oleh: H. Asmu’i Syarkowi
(Hakim PTA Banjarmasin)
Jabatan adalah amanah. Ungkapan ini sering kita dengar, bahkan kerap diucapkan dalam pidato pelantikan atau sambutan resmi. Namun, dalam praktik kehidupan, maknanya sering memudar. Jabatan justru berubah menjadi sesuatu yang diburu, diperebutkan, dan dipertahankan dengan berbagai cara. Banyak orang menginginkannya demi popularitas, agar dikenal dan disegani. Ada yang mengejarnya demi wibawa, status sosial, atau sekadar memenuhi jenjang karier. Tidak sedikit pula yang menjadikan jabatan sebagai tolok ukur keberhasilan hidup.
Padahal, dalam pandangan nilai dan agama, jabatan bukanlah sekadar kedudukan, apalagi kemuliaan. Ia adalah titipan. Amanah yang mengandung tanggung jawab besar. Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan bahwa amanah harus ditunaikan kepada yang berhak dan dijalankan dengan adil. Amanah bukan pilihan, melainkan kewajiban. Dan setiap kewajiban akan dimintai pertanggungjawaban.
Di balik jabatan yang tampak prestisius, terdapat beban moral yang tidak ringan. Jabatan bukan hanya tentang apa yang terlihat oleh manusia, tetapi juga tentang apa yang tersembunyi di hadapan Allah. Ia menuntut kejujuran dalam niat, keadilan dalam keputusan, serta kesungguhan dalam menjalankan tugas. Amanah tidak berhenti pada target dan capaian, tetapi menyentuh cara, proses, dan dampak dari setiap kebijakan yang diambil.