logo web

on . Dilihat: 9189

 

Pada tahun ketika dia diangkat sebagai rektor, 2008, ia mendapat anugerah sebagai salah satu dari 100 Tokoh Intelektual Muda Dunia versi Majalah Foreign Policy dari Amerika Serikat. Dia adalah satu-satunya orang Indonesia yang masuk 100 tokoh yang dirilis majalah itu.

Pada tahun 2009, Anies Baswedan terpilih sebagai salah satu Young Global Leaders oleh World Economic Forum, yang berpusat di Davos, Swiss.  Tahun berikutnya (2010), Majalah Foresight yang terbit di Jepang, memilih Anis sebagai salah satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia. Majalah bulanan berbahasa Jepang itu menilai bahwa Anies merupakan salah satu calon pemimpin Indonesia masa mendatang.

Selain bergelut di dunia pendidikan, Anies juga banyak tampil dalam dunia ketatanegaraan di Indonesia.  Namun demikian, tokoh yang lahir di Kuningan Jawa Barat dan dibesarkan di Yogyakarta ini merupakan muslim moderat yang sampai saat ini tetap konsisten pada pendiriannya untuk tidak memihak pada kekuatan politik tertentu.

Ketika pada tahun 2009, ribut-ribut ada sangkaan pidana terhadap Bibit dan Chandra, komisioner KPK, Anies dipilih oleh Presiden SBY untuk menjadi anggota Tim-8 dalam menangani kasus tersebut. Anies, yang bukan berlatar belakang hukum, dipilih menjadi Juru Bicaranya. Penuturannya yang simpatik, sistematis, tenang dan obyektif dianggap turut membantu menjernihkan suasana dalam suhu politik yang agak memanas pada masa itu.

Kini, banyak kegiatan yang Anies lakukan baik di dalam maupun di luar negeri, menghadiri berbagai pertemuan, konferensi dan seminar.  Bahkan masyarakat sudah tidak asing lagi dengan wajahnya yang tampan, karena ia sering muncul di layar kaca, baik sebagai narasumber atau sebagai host. Untuk menjadi seorang selebriti, semua syarat sudah dipenuhinya.

Prestasi-prestasi luar biasa telah diraihnya sejak Anies kecil, masa sekolah dan kuliyah di UGM dan di Amerika Serikat. Pria pemikir ini adalah cucu dari AR Baswedan, salah seorang pejuang pergerakan nasional yang pernah menjadi Menteri Penerangan pada masa awal kemerdekaan Indonesia.

**

Diam-diam, saya sangat nge”fans” dengan tokoh muda ini. Sering melihat wajahnya di layar kaca, tapi saya belum pernah ada kesempatan untuk bertemu langsung. Rabu (11/7/2012) kemarin sore, saya tidak sengaja bertemu dengannya di pesawat menuju Makassar. Malah secara kebetulan, tempat duduk saya dengan Pak Anies berdampingan.

Secara kebetulan pula, tujuan kami ke Makassar bersamaan. Sama-sama ada pertemuan di UIN Alauddin Makassar, Kamis paginya.  Pak Anies sebagai salah satu pembicara pada Seminar tentang “Perempuan, Ruang Publik dan Islam”, sementara saya memberikan Studium General tentang “130 tahun Peradilan Agama: Tantangan dan Peluang” di hadapan Civitas Akademika Fakultas Syari’ah dan Hukum, yang didahului oleh penanda-tanganan MoU antara Dirjen dengan Dekan.

Kedua acara itu waktunya bersamaan, tapi ruangannya berbeda. Hanya, kedua acara itu sama-sama dibuka Rektor.  Rektor memilih membuka acara Seminar terlebih dahulu. Sayapun diundang pula untuk menghadiri acara pembukaan seminar itu. Jadi, saya juga akhirnya berjumpa lagi dengan Pak Anies.

***

Ketika di pesawat menuju Makassar itu, nomor kursi saya 8E. Penumpang mulai masuk pesawat, saya hampir bersamaan duduk dengan penumpang yang di kursi 8D, sebelah kiri saya. Sementara kursi 8F, sebelah kanan saya yang di pinggir jendela, masih kosong.

Saya tiba-tiba melihat ada Pak Anies yang sedang sibuk menyimpan kopornya di tempat bagasi cabin.  Setelah kopornya tersimpan, Pak Anies lalu menuju tempat duduknya yang ternyata di nomor 8F sebelah kanan saya. Kami hanya saling senyum saja. Saya kaget juga, campur senang, “Kesempatan untuk bincang-bincang dengan tokoh dunia ini”, fikir saya.

Namun sayang, sepanjang perjalanan  Pak Anies lebih banyak menghabiskan waktunya dengan tidur. Malah kelihatan pulas. Belakangan beliau cerita, baru saja pulang dari Los Angeles, menghadiri acara Pertemuan Orang Indonesia se Dunia (Kongres Diaspora Indonesia). Nampaknya Pak Anies masih jetlag.

Ketika pramugari mengumumkan pertama bahwa pesawat sudah siap-siap mendarat, sekitar 15-20 menit sebelum landing, saya lihat Pak Anies sudah tidak tidur lagi, malah sempat  membaca koran sebentar. Lalu saya mulai menyusun strategi untuk dapat bincang-bincang dan menggali banyak informasi dari tokoh yang luar biasa ini.

“Pak Anies, boleh saya tanya satu hal?”, kata saya, setelah kami ngobrol soal Pertemuan orang Indonesia se Dunia di Los Angeles itu. Saya tidak memperkenalkan diri dulu kepada Pak Anies. “Oh silahkan”, jawabnya ramah.

“Saya heran, Pak Anies sebagai tokoh nasional bahkan internasional, tapi kok  duduknya di Kelas Ekonomi,  tidak di depan di Kelas Bisnis. Kenapa sih Pak?”, tanya saya polos.

Pak Anies hanya tersenyum. Lalu beliau ceritera bahwa di Kelas Ekonomi dan Bisnis sama saja. Bisa duduk, istirahat atau tidur. “Kalau perjalanan panjang, 4 jam atau lebih, baru terasa bedanya antara Ekonomi dan Bisnis. Saya juga suka di Bisnis. Tapi kalau jarak pendek, sama saja”, ujarnya.

Ketika saya katakan bahwa memang di Bisnis itu harganya berlipat dari harga di Ekonomi, tapi pelayanannya sangat bagus dan gengsinya tinggi. “Pak Anies kan sangat mampu atau berhak mendapatkan fasilitas itu, dan tempatnyalah Bapak di situ”, tanya saya lagi.

Beliau menjawabnya dengan ceritera yang banyak soal kesederhanaan, keteladanan, kehormatan, kepemimpinan dan lain-lainnya lagi.

Pak Anies mengatakan,  sejak dulu, kesederhanaan itu bagaikan baju kita, yang selalu kita pakai ke mana-mana. Namun kini, kita kehilangan baju itu. Kita bisa merasakannya seperti di mall-mall, atau di kalangan pejabat bahkan di masyarakat luas. Kesederhanaan sudah menjadi barang mewah, sulit didapatkan. Kita harus segera mendapatkannya lagi.

Bagi para pemimpin, kesederhanaan itu sangat penting sebab itu merupakan bagian utama dari keteladanan. Untuk memimpin bangsa diperlukan keteladanan di segala bidang. “Saya khawatir dengan bangsa kita  ini, jika pemimpin-pemimpinnya sudah tidak lagi membiasakan kesederhanaan”, tegasnya.

Menyinggung pertanyaan usil saya tentang gengsi, Pak Anies menjelaskan bahwa kita harus bisa membedakan mana “penghormatan” dan mana “kehormatan”.  Penghormatan itu bisa dibeli, baik dengan uang atau karena posisi. Penghormatan adalah semu, sebab jika tidak ada lagi uang atau tidak menduduki lagi posisi tertentu, penghormatan  akan sirna.

Sedangkan kehormatan diperoleh dari nilai, sikap dan prilaku  yang terhormat. Para pendiri bangsa memperoleh kehormatan sebab mereka mempunyai sikap dan prilaku yang terhormat itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak mencari penghormatan.

Ketika saya katakan bahwa para pendiri bangsa itu adalah orang-orang yang ikhlas dan kita harus mencontohnya, Pak Anies setuju. Tapi beliau mengatakan bahwa kini sulit untuk mengukur keikhlasan. Mungkin salah satunya, lihat saja, “jika dipuji tidak terbang dan jika dikritik tidak tumbang”.

Beliau juga ceritera tentang korupsi, yang penyebabnya terdiri dari tiga hal: kebutuhan, kerakusan dan sistem. “Kita harus mengatasinya dengan menghilangkan penyebabnya”, tegasnya. Untuk menutupi kebutuhan para pejabat diperlukan penyediaan kesejahteraannya yang wajar, sedangkan kalau korupsi itu karena sistem perlu diperbaiki sistem itu.

Pak Anies belum sempat menjelaskan tentang kerakusan yang menyebabkan korupsi, karena tidak terasa pesawat telah mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, bahkan sudah hampir berhenti di mulut “garbarata”nya.  Sayang sekali. Namun saya merasa senang telah dapat bincang-bincang dengan intelektual muda yang selebritis ini, walaupun waktunya singkat.

****

Saya berfikir, memang hebat Pak Anies ini. Walaupun telah menjadi tokoh yang terkenal dan juga “selebritis”, tapi beliau tetap sederhana dan ramah.

Saya tidak melihat kesederhanaan Pak Anies menurunkan derajat dan kehormatannya. Bahkan dengan itu, bintangnya semakin terang.

Di akhir pertemuan di pesawat, saya minta izin untuk menulis apa yang telah beliau bincangkan lalu dipublish pada internet. Beliau mempersilahkan, lalu memberi saya Kartu Namanya. Saya sendiri pas sedang tidak membawa Kartu Nama. Saya hanya memperkenalkan diri sekilas. “Iya Pak Wahyu, saya tunggu smsnya ya!”, kata Pak Anies mengakhiri pertemuan kami. (WW).

Sumber & Foto : Wikipedia

Comments  
# Fhebby PA.Soasio 2013-01-16 08:14
perbincangan 2 tokoh yang sangat inspiratif... perlu di contoh sebagai teladan yang baik... :-)
Reply | Reply with quote | Quote
# mwiaty@pta pdg 2013-02-21 08:29
Selamat kita ucapkan buat PA Jaksel JANGAN GAMANG LAA MAJU TERUUS, semoga PA/MS dapat mengikutinya Fastabiqul khairaat. 8)
Reply | Reply with quote | Quote
Add comment

Hubungi Kami

Gedung Sekretariat MA (Lt. 6-8)

Jl. Jend. Ahmad Yani Kav. 58 ByPass Jakarta Pusat

Telp: 021-29079177
Fax: 021-29079277

Email Redaksi : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Email Ditjen : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Lokasi Kantor

Fanpage