LUBUK LINGGAU (27/07/2026) — Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI (Drs. H. Muchlis, S.H., M.H.) melaksanakan kunjungan kerja dan pembinaan komprehensif bagi pimpinan, hakim, serta seluruh aparatur Pengadilan Agama Lubuk Linggau. Rangkaian kegiatan ini diawali dengan momentum penuh kedisiplinan, di mana Dirjen Badilag secara langsung bertindak sebagai pembina dalam pelaksanaan apel pagi. Di hadapan seluruh jajaran PA Lubuk Linggau yang berbaris tertib, beliau membakar semangat kerja aparatur untuk mengawali tugas dengan niat pengabdian yang lurus, disiplin tinggi, serta komitmen penuh dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat pencari keadilan.
Selepas apel pagi, kegiatan dilanjutkan dengan pembinaan intensif yang mengusung tema besar "Membangun Sinergi, Loyalitas, dan Pelayanan Prima di Lingkungan Peradilan Agama" guna memperkuat marwah peradilan.
Dalam arahannya, Dirjen Badilag menegaskan bahwa integritas adalah harga mati dan fondasi utama bagi lembaga peradilan. Mengutip pesan Ketua Mahkamah Agung RI, Prof. Dr. H. Sunarto, S.H., M.H., seluruh aparatur diingatkan untuk senantiasa memegang teguh prinsip pengabdian:
"Teruslah mengabdi, tanpa berharap balas budi. Teruslah berprestasi, tanpa mengharap apresiasi. Jangan menunggu sempurna, untuk melayani secara paripurna. Justru di tengah keterbatasan, tulusnya pengabdian akan semakin berkesan."
Jabatan ditegaskan bukan sebagai sarana mencari keuntungan, melainkan ladang pengabdian yang menuntut keteladanan tertinggi. Nilai ini diperkuat dengan landasan normatif dari Al-Qur'an (QS. An-Nisa: 58) mengenai kewajiban menyampaikan amanat dan menetapkan hukum secara adil. Penegakan integritas juga dikawal melalui pengawasan berkelanjutan, peningkatan kompetensi SDM, optimalisasi layanan berbasis digital, serta komitmen kuat pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).
Pimpinan pengadilan didorong untuk menerapkan gaya kepemimpinan yang mendengar dan mengayomi. Pimpinan yang empatik tidak sekadar memberikan instruksi, tetapi juga bersedia mendengar aspirasi dan keluh kesah bawahan, serta hadir memberikan solusi atas kendala teknis maupun non-teknis. Berdasarkan ajaran QS. Ali 'Imran: 159, sikap lemah lembut adalah rahmat Allah; sikap kasar justru akan menjauhkan anggota tim. Oleh karena itu, pemaafan, doa, dan musyawarah dikedepankan untuk menjaga keharmonisan.
Loyalitas bawahan dalam sistem peradilan bukan merupakan kepatuhan buta, melainkan kesetiaan pada aturan, integritas sistem, dan penghormatan terhadap hierarki yang lahir dari kesadaran visi bersama. Budaya kerja kolektif kolegial juga ditekankan agar proses musyawarah hakim menghasilkan putusan yang matang, objektif, adil, dan berkualitas tinggi, selaras dengan barisan teratur yang kokoh.
Menutup pembinaan, aparatur PA Lubuk Linggau diingatkan untuk mengabdi secara Itqan-profesional, tuntas, dan bersungguh-sungguh sebagai wujud ibadah kepada Allah SWT serta kecintaan pada bangsa dan negara. Setiap peluh dalam menjalankan tugas peradilan diyakini membawa keberkahan dan kebahagiaan bagi keluarga di rumah.
Dirjen Badilag berharap seluruh aparatur peradilan agama senantiasa menjaga integritas tinggi, memperkuat kolaborasi dan soliditas tim, serta tidak cepat berpuas diri atas capaian yang ada. Beliau berpesan agar semangat melayani dengan setulus hati terus dijaga demi menghadirkan peradilan agama yang modern, bersih, berwibawa, dan senantiasa dipercaya oleh masyarakat pencari keadilan.(RW)