image002

Dalam rangka meningkatkan kesadaran serta ketangguhan mental aparatur peradilan, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kesadaran dan Ketangguhan Mental (Mental Health Awareness) Hakim dan Aparatur di Lingkungan Peradilan Agama dengan tema “Resiliensi Hakim dan Aparatur Peradilan Agama dalam Menghadapi Tekanan Psikologis dan Kompleksitas Perkara”. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring pada Rabu, 13 Mei 2026, pukul 09.00 s.d. 11.00 WIB.

Kegiatan menghadirkan narasumber ternama, Prof. Dr. (HC) Ary Ginanjar Agustian, Founder ESQ Corp, yang dikenal sebagai entrepreneur, motivator, penulis, dan edukator terkemuka di Indonesia dengan berbagai kontribusi dan karya bagi bangsa. Acara dimoderatori oleh Mochamad Mirza, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang juga merupakan psikolog dan ASN pada Biro Kepegawaian Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Pimpinan, Hakim, Panitera, Sekretaris, serta ASN pada Pengadilan Tingkat Banding dan Pengadilan Tingkat Pertama di lingkungan Peradilan Agama di seluruh Indonesia.

Acara diawali dengan sambutan sekaligus pembukaan resmi oleh Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama, Drs. H. Muchlis, S.H., M.H. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental dan ketahanan diri bagi seluruh aparatur peradilan agama dalam menghadapi dinamika pekerjaan dan kompleksitas perkara yang semakin tinggi.

image004

Dalam penyampaian materinya, Prof. Dr. (HC) Ary Ginanjar Agustian menegaskan pentingnya memiliki positive energy dan growth mindset dalam menjalankan tugas sebagai aparatur peradilan agama. Menurutnya, sikap tersebut akan membentuk keikhlasan, ketenangan, dan kebahagiaan dalam bekerja, di mana pun wilayah penugasannya.

Beliau juga menjelaskan tentang kekuatan affirmation, visualization, dan feeling dalam mencapai tujuan maupun cita-cita yang ingin diraih oleh setiap aparatur peradilan agama. Selain itu, Prof. Ary mengajak seluruh peserta untuk menjadi aparatur peradilan yang unggul melalui penerapan konsep 5G Leadership yang didukung oleh nilai-nilai inti (core values) yang kuat, yaitu:

  1. Grand Why, yaitu misi tertinggi dan alasan terbesar manusia diciptakan, yang berpusat pada niat untuk mengabdi, berkontribusi, dan memberi manfaat bagi sesama;
  2. Gift, sebagai bentuk apresiasi atas bakat, loyalitas, serta upaya menjaga amanah dan karakter;
  3. Grind, yang dimaknai sebagai kerja keras yang tidak terlihat, doa malam yang tidak disiarkan, konsistensi dalam sunyi, dan loyalitas dalam senyap;
  4. Growth Mindset, yakni kemampuan untuk merespons segala tantangan secara positif; dan
  5. Great Hope, yaitu kemampuan menentukan harapan dan visi masa depan.

image006

Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang diikuti dengan antusias oleh para peserta. Berbagai pertanyaan dan pengalaman terkait tekanan psikologis dalam pelaksanaan tugas peradilan menjadi pembahasan yang memperkaya wawasan seluruh peserta.

image008

Pada penutupan kegiatan, Sekretaris Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama sekaligus Plt. Direktur Pembinaan Tenaga Teknis Peradilan Agama, Drs. Arief Hidayat, S.H., M.M., menyampaikan pesan bahwa menjadi aparatur peradilan bukan hanya tentang kecerdasan hukum dan kemampuan teknis, tetapi juga tentang menjaga hati, pikiran, dan jiwa agar tetap sehat di tengah amanah yang berat.

“Kesehatan mental yang baik akan melahirkan integritas, ketenangan, kebahagiaan, serta pelayanan yang penuh empati dan keikhlasan,” pesannya.

Melalui kegiatan ini diharapkan seluruh hakim dan aparatur peradilan agama semakin memiliki ketangguhan mental, integritas, dan semangat pelayanan yang humanis dalam menjalankan tugas serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. (H2o)