logo web

Dipublikasikan oleh Iwan Kartiwan pada on . Dilihat: 1311

“Al-Imsāku”, Makna Terdalam Puasa

Oleh: Samsul Zakaria, S.Sy., M.H.*

“Allah tetap memancarkan cahaya matahari tanpa memperhitungkan pengkhianatan manusia terhadap-Nya. Allah “berpuasa”, menahan diri dari murka-Nya terhadap manusia…”
(Cak Nun)

 

Mungkin sulit dimengerti orang yang perutnya kosong tiada terisi, mulutnya haus nan dahaga, justru diminta untuk mengendalikan nafsunya. Sederhana sekali pertanyaannya; siapa yang lebih mudah menahan dirinya, yang kenyang atau yang lapar? Tentu orang yang kenyang perutnya. Disinilah menariknya puasa yang dijalankan oleh umat muslim setiap bulan Ramadhan. Umat muslim ditempa, dididik, digembleng untuk menjadi pribadi mulia dengan mengosongkan perutnya dari makanan dan minuman.

Orang yang terisi perutnya sudah paripurna urusan fisiknya. Sebaliknya, orang yang lapar menyisakan masalah fisik yang tidak sederhana. Sementara orang yang berpuasa, dengan masalah fisik yang “belum tuntas” dilatih untuk mengendalikan emosinya. Bagaimana umat muslim memahami logika ini? Kelompok tertentu mengatakan bahwa kalau Allah sudah bicara A ya sudah lakukan. Tidak perlu banyak tanya, komplain, dan diteliti apa maksudnya. Kelompok lain berpendapat tidak ada salahnya menyelami rahasia Allah untuk memantapkan iman.


Selengkapnya KLIK DISINI


 

 

Hubungi Kami

Gedung Sekretariat MA (Lt. 6-8)

Jl. Jend. Ahmad Yani Kav. 58 ByPass Jakarta Pusat

Telp: 021-29079177
Fax: 021-29079277

Email Redaksi : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Email Ditjen : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Lokasi Kantor

 Instagram  Twitter  Facebook

 

Responsive Voice