logo web

Dipublikasikan oleh Hermansyah pada on . Dilihat: 7602

Acara tersebut dihadiri Wakil Ketua PTA Makassar Drs. Bahrussam, M.H. beserta para Ketua dan Wakil Ketua, Hakim serta Panitera/Sekretaris PA sewilayah III PTA Makassar, yaitu PA Makassar, PA Sungguminasa, PA Maros, dan PA Takalar.

Untuk meningkatkan kualitas, para hakim tidak saja dapat mengikuti bimbingan-bimbingan teknis, tapi juga perlu menempuh pendidikan formal hingga ke jenjang tertinggi.

“Kajian filsafat dan teori hukum dikembangkan di program Doktor. Oleh karena itu warga peradilan agama harus memacu diri untuk meraih gelar akademik tertinggi itu, yang saya istilahkan dengan Doktorisasi,” tandas Pak Andi—sapaan akrab Andi Syamsu Alam.

Itu sebabnya Pak Andi kembali bergurau dengan mengatakan, “Saat ini, warga peradilan agama yang saya anggap sarjana adalah mereka yang sudah Doktor”.

Menurut Pak Andi,  kritik sebagian masyarakat terhadap lemahnya putusan peradilan agama harus dijawab dengan kerja keras dan bukti nyata dengan terus-menerus meningkatkan kualitas SDM, terutama Hakim, yang pada gilirannya mendongkrak kualitas putusan.

Pak Andi menambahkan, untuk mengukur meningkatnya kualitas putusan sekaligus guna menemukan kader-kader yang potensial, perlu dilakukan ekseminasi di bawah koordinasi PTA.

“Jika diibaratkan putusan itu adalah perhiasan, maka pembuat putusan yang berkualitas adalah permatanya. Tolong carikan saya permata itu di wilayah PTA Makassar,” pinta Pak Andi kepada Wakil Ketua PTA Makassar Drs. Bahrussam Yunus, SH, MH yang mendampingi Pak Andi dalam acara pembinaan itu.

Pak Andi mengungkapkan, saat ini perkembangan peradilan agama di bidang TI dan administrasi menunjukkan signifikansinya dengan munculnya kreasi-kreasi yang mengundang decak kagum. Meski demikian, jika capaian itu tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas putusan, akan berakibat abruknya wibawa peradilan agama di mata masyarakat.

Jika aparatur peradilan agama dipenuhi dengan Doktor-Doktor yang berintegritas, Pak Andi yakin peradilan agama akan melahirkan putusan-putusan yang berkualitas sehingga memberi efek positif yang massif di masyarakat.

Ia menambahkan, salah satu tantangan serius warga peradilan agama saat ini dan ke depan adalah penyelesaian sengketa-sengketa ekonomi syari’ah.

Sistem ekonomi syariah, ungkapnya, kini semakin digandrungi berbagai kalangan, mulai mahasiswa hingga pelaku ekonomi dan perbankan. Dengan demikian, dipastikan akan semakin banyak transaksi syariah yang pada gilirannya menimbulkan sengketa. Peradilan Agama sebagai pemangku kewenangan absolut dalam mengadili perkara syariah, tandasnya, tidak boleh keliru dalam menerapkan hukum.

“Ini semua menjadi alasan mendasar kenapa hakim harus doktor,” Pak Andi menegaskan.

Pembinaan ini diisi pula dengan tanya-jawab. Peserta pembinaan yang mengajukan pertanyaan di antaranya hakim tinggi PTA Makassar Drs. H. Samparaja, S.H., M.H, Drs. H. Ahsin Abdul Hamid, S.H dan Dra. Hj. Atirah S.H. Sejumlah perwakilan peradilan agama juga mengajukan pertanyaan. Mereka adalah Ketua PA Makassar Drs. H. Usman, S.H., M.H  dan hakim PA Sungguminasa Dr. Sultan, S.Ag. S.H., M.H.

Salah satu peserta pembinaan meminta adanya mutasi simpatik. Hal ini disetujui oleh Ketua Kamar Peradilan Agama, sepanjang bertujuan untuk memacu diri dan meraih gelar akademik tertinggi yang pada akhirnya peradilan agama mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas.

Wakil Ketua PTA Makassar Drs. Bahrussalam Yunus, SH, MH merespons positif upaya peningkatan kualitas putusan dan program Doktorisasi yang dilontarkan Ketua Kamar Peradilan Agama. Sebagai bukti, ia bersama beberapa hakim lainnya saat ini sedang merampungkan disertasi dalam rangka meraih gelar Doktor di Program Pascasarjana UMI Makassar.

Selain itu, Wakil Ketua PTA Makassar yang juga merupakan salah satu putra terbaik Sulawesi Selatan yang kerap menjadi nara sumber pada event-event nasional itu berkomitmen untuk terus-menerus dan secara bersama-sama melakukan upaya peningkatan SDM dan kualitas putusan.

(Admin PTA Makassar)

Comments  
# tilla@PA.Pra 2013-06-11 13:49
Tuntutlah ilmu hingga negri Cina,, dan Allah akan meninggikan derajat orang2 yang menuntut ilmu.. Tidak hanya para hakim tentunya yang diharapkan menyandang gelar doktor,,pun diharapkan semua warga peradilan menuntut ilmu setinggi tingginya.
Reply | Reply with quote | Quote
# jamaludin M.,S.HI 2013-06-11 14:04
sebuah renungan bagi generasi ke depan dan motivasi yang luar biasa dari bapk pembina, mudahan kami sebagai generasi penerus tetap semangat untuk meraih pendidikan ke jenjang :lol: yang lebih tinggi.
Reply | Reply with quote | Quote
# h. masruri, ptk 2013-06-12 13:52
Kami setuju dan sepatutnya kita dukung dan kita sambut baik imbauan Bapak TUAMARGA MARI tentang gagasannya untuk program Doktorisasi terutama bagi hakim2 muda yang masih pajang masa pengabdiannya di lembaga peradilan agama semoga Allah swt melapangkan langkah kita untuk itu Amiin
Reply | Reply with quote | Quote
# Dalih Effendy, PA. Krw. 2013-06-11 14:06
"USUL KE PAK KETUA KAMAR PERADLAN AGAMA"
Era tahun 90-an saat pak Ketua kamar peradilan agama menjadi KPTA Ujungpandang, saya masih ingat adanya pembinaan melalui diskusi hakim secara priodik diselingi adanya eksaminasi kros, ada satu sumber pijakan kita dalam diskusi adalah tulisan pak Taufiq (mantan Wakil Ketua MA) yang berjudul Meningkatkan mutu putusan Peradilan Agama dan Buku pintar yang diterbitkan oleh PTA Sulawesi Selatan pada saat itu. Metode seperti itu dengan sumber pijakan diskusi hakim seperti itu tidak ditemukan di PTA lain di Indonesia. Oleh karena itu saya usul agar tulisan pak Taufiq tentang peningkatan mutu putusan tersebut dicetak ulang dilengkapi dengan perkembangan pada saat ini untuk dijadikan bahan diskusi para hakim tinggi dalam memberikan pembinaan bagi hakim-hakim PA. pada saat bedah berkas atau diskusi hukum tentang meningkatkan mutu putusan diseluruh Indonesia.Naska h aslinya tulisan pak Taufiq dan buku pintar PTA Sulawesi selatan tersebut saya masih menyimpannya dan saya jadikan rujukan dalam diskusi mingguan dikalangan hakim pada PA Karawang.
Reply | Reply with quote | Quote
# NUrwafiah Razak 2013-06-12 09:40
Bravo Makassar, sukses terus Peradilan Agama
Reply | Reply with quote | Quote
# alwi kendari 2013-06-11 14:16
kami setuju dengan program doktorisasi dilingkungan peradilan agama dalam rangka peningkatan kualitas putusan, oleh karena itu perlu dipertimbangkan bagi hakim untuk dimutasike daerah yang lebih mudah memperoleh akses menempuh pendidikan yang lebih tinggi, semogaaa
Reply | Reply with quote | Quote
# anwaruddin kupang 2013-06-11 14:28
"Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim baik laik2 maupun perempuan",(al Hadis), sebenanrnya banyak sekali warga pengadilan yang ingin pendidikannya sampai doktor sebagaimana harapan bapak ketua kamar agama MA ini, tapi bagaimana kalau tempat tugasnya jauh dengan perguruan tinggi yang ada S3nya. Semoga dengan banyaknya doktor, tidak menjadikan kwalitas doktor menjadi menurun.
Reply | Reply with quote | Quote
# Al Fitri - PA Manna 2013-06-11 14:36
sesungguhnya ingin menjadi DOKTOR, mumpung anak2 masih kecil dan biaya sekolahnya ringan, namun cita2 itu belum terwwujud karena keinginan untuk pindah didekat adanya study S3 alias doktor tidak terwujud,, oleh sebab itu kedepan harapan agar dimutasi ke tempat study S3 segera terwujud...
Reply | Reply with quote | Quote
# lazuarman PA Manna 2013-06-11 14:39
Sekalipun bergurau, kita merasa tertantang dengan ucapan Bapak Ketua Kamar Peradilan Agama yang menyatakan “Saat ini, warga peradilan agama yang saya anggap sarjana adalah mereka yang sudah Doktor” Semoga ini menjadi pemicu dan pemacu bagi kita dalam meningkatkan SDM.
Reply | Reply with quote | Quote
# M. Yamin/PA. Gtlo 2013-06-11 14:56
Permata yg dicari oleh TUAMARGA itu, harus menjadi milik kita (milik semua Hakim PA), sehingga kelak permata-permata itu akan memiliki eksistensi dan punya esensi buat perhiasan Lembaga PA, yg Insya Allah menjadi dambaan MARI, bangsa dan negara.Terima Kasih buat Yang Mulia TUAMARGA atas motivasinya.
Reply | Reply with quote | Quote
# Dalih Effendy, PA. Krw. 2013-06-11 15:26
"KALAU SUDAH DOKTOR PENSIUN JADI DOSEN"
Memang banyak untungnya ketika S3 sudah ditangan, meski tidak ada jaminan akan diangkat jadi hakim tinggi atau hakim agung jika umur panjang dan sehat pensiun dari hakim untuk menjadi dosen peluangnya sangat terbuka lebar. Persoalannya mampukah kita dari sisi pinansial dan kekuatan berfikir serta penguasaan bahasa asing.dengan gaji yang baru jika anak-anak belum kuliah insya Allah cukup, tapi apakah otak kita masih bisa diajak berfikir dan tenaga kita masih mampu untuk membuat makalah, penelitian dan penulisan desertasi secara mandiri, mungkin kalau usia masih di bawah 50an secara psikis dan fisik bisa, lalu penguasaan bahasa Inggris atau Arab sudah sejauh mana, jangan sampai sudah S3 English or Arabic is under standart. lalu solusinya menurut saya bagai yang berusia 50an tahun, biayanya cukup meski anak pada kuliah dan penguasaan bahasa Asing lumayan waktunya sekarang kita iyakan ajakan Pak Tuamarga, saya pikir dari 3000an Hakim PA ada sekitar 1000an yang punya kesempatan untuk S3 seperti gambaran tersebut di atas sudah luar biasa jika kini ada 1000 hakim PA sedang S3. Subhanallah semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita yang punya niat dan keinginan untuk itu. Amin.
Reply | Reply with quote | Quote
# Rusliansyah - PA Nunukan 2013-06-11 15:27
Sekali lagi Tuamarga mengajak warga PA untuk menempuh pendidikan program S-3 sehingga nantinya semakin banyak hakim PA yang bergelar Doktor.
Kurang lebih 60-an Doktor yang berhasil ditelorkan PA sepanjang sejarahnya.
Dan ini akan terus bertambah dengan semakin banyaknya warga PA yang kuliah S-3.
Semoga para Doktor ini dapat mengamalkan ilmunya untuk kemajuan PA!
Reply | Reply with quote | Quote
# Tyti dan Ina Sungguminasa 2013-06-11 19:12
Semoga niat tulus pemangku kewenangan memberi kesempatan kepada aparat PA tuk Kuliah, benar-benar dimanfaatkan secara ikhlas "tuk meningkatkan kualitas". Semoga, Allahumma Amien
Reply | Reply with quote | Quote
# M.Yusuf PA Kendari 2013-06-12 07:14
Sesungguhnya permata yang dicari pak TUAMARGA itu terdapat dimana-mana termasuk di Wilayah PTA Makassar, hanya saja mungkin karena kurang tersosialisasik an sehingga tidak nampak di permukaan.Niat baik dari beliau dengan memberi motivasi agar para hakim meningkatkan SDM-nya dengaqn melalui pendidikan formal yang maksimal (DR) tidak lain beertujuan untuk menambah jumlah permata itu.
Reply | Reply with quote | Quote
# h. masruri, ptk 2013-06-12 07:27
Peningkatan kualitas putusan peradilan agama pada saat sekarang menjaadi issu penting dilingkungan peradilan Agama, mau tidak mau, suka tidak suka, sangat berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan peradilan agama, terutama hakim. Hakim yang berkualitas, berintegritas, bermoralitas tinggi dan berwawasan luas akan melahirkan putusan-putusan yang berkualitas dengan pertimbangan hukum yang komprehensif, demikian pernyataan Bapak TUAMARGA, selanjutnya secara sindiran dinyatakan bahwa “Saat ini, warga peradilan agama yang saya anggap sarjana adalah mereka yang sudah Doktor”ini tentulan suatu dorongan dan sekaligus tantangan buat kita semua warga Peradialan Agama di Indonesia. Mari kita berpacu diri untuk lebih madju lagi, amiin.
Reply | Reply with quote | Quote
# Dudung Abdullah..HT.PTA.Gorontalo 2013-06-12 07:38
Kita mendukung usul Pak Dalih Effendi, PA.Karawang,yai tu "tulisan pak Taufiq tentang peningkatan mutu putusan tersebut dicetak ulang dilengkapi dengan perkembangan pada saat ini untuk dijadikan bahan diskusi para hakim tinggi dalam memberikan pembinaan bagi hakim-hakim PA. pada saat bedah berkas atau diskusi hukum tentang meningkatkan mutu putusan diseluruh Indonesia". mksh
Reply | Reply with quote | Quote
# Nursal- PA.Sawahlunto 2013-06-12 07:39
Doktorisasi sebuah istilah yang sangat mengugah kita, sebuah program formal sebagaimana pesan nabi juga tuntutlah ilmu itu dari ayunan sampai ke liang lahat.. amn
Reply | Reply with quote | Quote
# AFFAN PA. GRESIK 2013-06-12 07:48
memang tolabul ilmi adalah wajib bagi kaum muslimin dan muislimat sebab suatu amalan tanpa didasari dengan ilmu akan menyebabkan amal tersebut tidak diterima oleh tuhan demikian juga dalam membikin putusan juga harus didasari dengan ilmu hukum baik materiil maupun formil oleh karena itu mari kita mendukung gagasan pak Ketua kamar Agama
Reply | Reply with quote | Quote
# AFFAN PA. GRESIK 2013-06-12 07:50
schooler is S1, S2 and S3
Reply | Reply with quote | Quote
# mwiaty@pta pdg 2013-06-12 07:53
Syukran buat YM Tua Marga atas motivasinya walau secara bergurau beliau menyatakan " Sa'at ini warga Peradilan Agama yang saya anggap sarjana adalah mereka yang sudah Doktor" sama kita maklumi bahwa warga Peradilan Agama yang Doktor hanya kurang lebih 60 orang, hal ini memicu kita untuk berlomba menjadi warga Peradilan Agama yang bisa menjadi permata yang dicari oleh TUAMARGA Semoga :-)
Reply | Reply with quote | Quote
# NURMADI RASYID,PA.BKL 2013-06-12 07:57
Dengan program doktorisasi dilingkungan peradilan agama dalam rangka peningkatan kualitas putusan, untuk itu kedepan perlu kajian dan pertimbangkan bagi hakim untuk dimutasi ke daerah daerah yang lebih mudah untuk memperoleh jendjang pendidikan yang lebih tinggi Amin.
Reply | Reply with quote | Quote
# Lilik Muliana Pa Kraksaan 2013-06-12 08:16
pak TUAMARGA gak pernah lelah memberi motifasi pada kita sebagai generasi pemegang tongkat estafet perjuangan Peradilan Agama yg masih dimarginalkan dan dipandang sebelah mata,image org diatas kt buktikan dg kinerja yg berkwalitas dibarengi peningkatan intelektualtual itas diri, tks P Andi atas segala motifasinya smg Peradilan Agama semakin Jaya...
Reply | Reply with quote | Quote
# fauzi . PA. Sungailiat 2013-06-12 08:34
sepatutnya kita sambut baik program Doktorisasi terutama bagi hakim2 muda yang masih pajang masa pengabdiannya di lembaga peradilan agama semoga Allah swt melapangkan langkah kita untuk itu Amiin
Reply | Reply with quote | Quote
# SYAFIQ. PA 2013-06-12 09:46
tentu semua warga PA sependapat dengan apa yang diharapkan oleh TUAMARGA untuk kemajuan Pengadilan Agama, untuk itu kami berharap ijin kuliah tidak dipersulit karena alasan jarak yg lebih dari 50 KM.
sudah saatnya Dirjen memberikan diskresi bagi mereka yang mau melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sejalan dengan harapan TUAMARGA. apabila tidak. IRONI
Reply | Reply with quote | Quote
# Zulkifli Sgr/KMS Lsk. 2013-06-12 11:12
Saya kira program doktorisasi dan peningkatan kualitas putusan harus berbanding lurus dengan program mutasi/promosi. Sebab kalaulah seseorang tetap bertahan/berput ar-putar jauh dari kota-kota besar, maka sangat sulit mendapatkan akses ke sentra-sentra pendidikan yang membuka Program S3 dan mendapatkan kasus-kasus ekonomi syari'ah.
Reply | Reply with quote | Quote
# masruhan,pta palu 2013-06-12 13:23
oke pak saya setuju dengan Doktorisasi bahkan kalau perlu Profesorisasi
Reply | Reply with quote | Quote
# Syamsulbahri PA Mks 2013-06-12 13:24
I. Sependapat dengan tulisan Dalih Effendy PA. Krw baik comment 1 maupun comment 2. perlu diketahui buku pintar itu malah sudah diperbaharui, silahkan hubungi Wilayah PTA Mks jika berminat ingin memiliki buku cetakan baru tersebut.
II. Sepatutnya kita sambut baik peningkatan kwalitas putusan, karena di situlah mahkota seorang hakim, jadi baik melalui bintek maupun melalui pendidikan formal sangat penting ditempuh, termasuk mengangkat harkat dan martabat PA... sangat betul tidak ada ruginya kalau mampu mengenyam pendidikan formal yang lebih tinggi... selamat semoga sukses...
III. Ada juga materi tentang peningkatan kwalitas putusan yang pernah dibawakan oleh Bapak Mukti Arto ketika bintek kompetensi di Bandung...itu juga bagus dipedomani dalam membuat putusan, agar putusan kita berkwalitas...s elamat...
Reply | Reply with quote | Quote
# ayep sm PA Tasikmalaya / Singaparna 2013-06-12 15:11
Yang Mulia Bapak Tua Marga, memang tidak pernah kering dari berbagai perubahan dan inovasinya buat PA, karena itu patut kita dukung, dan mari kita ikuti.
Reply | Reply with quote | Quote
# IdrisLatif PTA Jambi 2013-06-12 15:15
Inovasi yang tiada henti dari Yang Mulia Ketua Kamar Peradilan Agama Mari, memang suda saatny Program S3 menjadi target selanjutnys, tingkat akar rumput bagi kepanitraan dan kesekretariatan banyak yang akan mencoba untuk ke S3, namun masih menunggu perubahan remunerasi, semoga apa Yang Mulia sampaikan bisa diwujudkan warga peradilan agama;
Reply | Reply with quote | Quote
# abdullah berahim, pta palu 2013-06-12 18:24
wacana yg mulia tuamarga itu betul sekali dan patut kita dukung, lebih-lebih lagi bagi hakim muda yg sangat berpeluang utk menjadi hakim agung
Reply | Reply with quote | Quote
# MUHAMMAD THAMRIN 2013-06-13 03:26
Ada beberapa point yg perlu digaris bawahi dari pernyataan YM Bpk TUAMARGA MARI TERSEBUT;
1. Perlunya peningkatan kwaliatas hakim lewat pendidikan formal S3;
2. Perlunya tetap digalakkan bimbingan hakim, baik dari pusat, daerah, maupun internal santek masing2;
3. Perlunya mutasi simpatik untuk memberikan kesempatan hakim untuk mengikuti pendidikan program doktor, krn tdk semua wilayah ada program S3, contohnya dilwiyaha Indonesia Timur (sebut saja Papua);
Reply | Reply with quote | Quote
# HERIYAH PA. SENGKANG 2013-06-13 07:10
Kami sudah sangat paham dengan keinginan Yang Mulia Bapak Tua Marga, menuntut ilmu itu wajib, S2 dan S3 wajib bagi warga Peradilan Agama terutama bagi hakim, kami senantiasa berniat tinggal meliat waktu dan kesempatan.
Reply | Reply with quote | Quote
# Reni 2013-06-24 06:43
Bukan masalah kemudahan Bu...semua ingin menjadi lebih baik dengan peningkatan SDM tapi apakah ada jenjangnya???ya ng S2 atw S3 di Pengadilan Tingkat Pertama sedangkan Pengadilan Tingkat Banding Diploma dan S1...belum lagi biaya yang besar...
Reply | Reply with quote | Quote
# AFFAN PA. GRESIK 2013-06-13 07:21
darojatul bakaloret huwa daroajtul awwal, waststani, waststalist
Reply | Reply with quote | Quote
# Drs. Cece Rukmana Ibrahim,SH. Ketua PA. Cibadak 2013-06-13 08:45
Peningkatan Kwalitas Putusan adalah suatu keharusan, karena dengan putusan yang berkwalitas mencerminkan Hakimnya bermutu dan berintegritas, makanya salah satunya adalah dengan Program DOKTORISASI bisa menjadi alternatif untuk meningkatkan kemampuan dan keahlian dalam membuat pertimbangan hukum yang dituangkan dalam putusan, mudah-mudahan saja sehat semuanya dan bisa melanjutkan kuliah ke jenjang S3 nya
Reply | Reply with quote | Quote
# m abduh ar/pa majalengkah a 2013-06-13 18:47
Sebetulnya tidak ada kaitan antara gelar kesarjanaan dengan kualitas putusan, karena merumuskan putusan yg berkualitas merupakan bakat dari seseorang, yg memang bakat tersebut harus dimiliki oleh para hakim. Dan pembinaannya menurut saya adalah melalui eksaminasi rutin dan berkala dari unsur pimpinan pengadilan terhadap putusan hakim di lingkungan masing-masing yg selama ini sudah jarang dilaksanakan...
Reply | Reply with quote | Quote
# Khafidatul Amanah PA Bima 2013-06-14 06:39
Yang Mulia Bapak Tua Marga ini yg sangat kami harapkan dan cita2kan sejak dulu tapi apa mau di kata tempat tugas kami jauh dr perguruan tinggi sementara kami sangat2 ingin melanjutkan study tapi terbentur oleh aturan jarak yg jauh melebihi radius yg ditetapkan yaitu 50 km, dan kalo bisa kami bermohon kalo ada diantara kami yg mau kuliah bisa dipertimbangkan kantor yg dekat kampus Tetimah kasih.
Reply | Reply with quote | Quote
# sulfa pta smrd 2013-06-14 09:27
alhamdulillah upaya pengingkatan perofesionalism e hakim terus berlanjut,seiri ng dengan bertaambahnya kelulusan DOCTOR dilingkungan warga peradikan agama.yang lebih penting tentunya ACTION bagi mereka.sehingga keberadaan mereka yang sudah DOCTOR memberikan warna khusus ,terutama dalam pembuatan putusan.dibandi ngkan sebelumnya.dan mengangkat citra peradilan dan menampik sewmentara pihak yang masing menganggap BODOH para hakim peradilan agama.selamat para DOCTOR.
Reply | Reply with quote | Quote
# Alimuddin M.PA.Denpasar 2013-06-14 14:43
Putusan adalah mahkota hakim, artinya jika mau melihat kualitas seorang hakim, lihatlah putusannya. Jadi, tidak ada alasan seorang hakim tidak bisa membuat putusan yang berkualitas.
Untuk itu, kita patut berterima kasih kepada Yang Mulia TUMARGA, yang senantiasa memotivasi kita semua untuk berusaha maksimal meningkatkan kualitas putusan kita.
Reply | Reply with quote | Quote
# Mazharuddin_Arga makmur 2013-06-14 14:44
Setuju... hanya perlu ada kebijakan dr Pimpinan utk memberi kemudahan terutama kebijakan Jam kerja bg yg mengikuti Program S2 dan S3, krn selama ini bg yg kuliyah tetap dianggap Tidak Masuk Kerja...
Reply | Reply with quote | Quote
# Alimuddin M.PA.Denpasar 2013-06-14 14:51
Jika kualitas putusan seorang hakim diukur dari tkt pendidikannya, maka harus pula dikampanyekan "DOKTORISASI PUTUSAN'. Sehingga putusan hakim yang lebih tinggi tkt pendidikannya wajib lebih bagus dari hakim yang di bawahnya, semoga!
Reply | Reply with quote | Quote
# daswir tanjung 2013-06-17 08:25
Kita sangat bangga dan bahagia, di Kamar Agama diisi oleh para Doktor, tapi jangan sekedar gelar, seharusnya mampu menjawab semua ocehan dan pendapat miring dari pihak lain kepada Peradilan Agama, sebenarnya sekarang yang dibutuhkan adalah orang yang mau bekerja keras untuk melakukan perbaikan- perbaikan terutama masalah pembuatan putusan yang menjadi mahkota para Hakim.
Reply | Reply with quote | Quote
# Pae Baqi P.A Wates 2013-06-18 08:35
Doktorisasi patut diaprisiasi oleh Warga Peradilan Agama, demi tercapainya kwalitas putusan. Kapan lagi dan mau apalagi, kalau tidak cepat dan secepatnya. Semoga sakses untuk Peradilan Agama.
Reply | Reply with quote | Quote
# m.kahfi PA.Klaten 2013-06-18 11:30
Sangat baik anjuran pak Ketua Kamar Agama untuk memacu dan memicu hakim-hakim angkatan muda, angkatan 2000 an agar selalu berusaha untuk meraih gelar S3.
Reply | Reply with quote | Quote
# Mukhtar Gani PA Watansoppeng 2013-06-19 13:44
Peningkatan kualitas itu sudah menjadi Fardu ain bagi manusia khususnya aparat peradilan terkhusus lagi hakim agar mampu menghadapi tantangan masa depan seperti apa yang dikatakan Pak Ketua Kamar karena untuk mendapatkan integritas harus dengan menuntut ilmu.
Reply | Reply with quote | Quote
# Sohel PA Jkt Selatan 2013-06-21 08:20
Doktorisasi saya sangat dukung meskipun saya belum doktor tapi hasil produknya juga seperti doktor
Reply | Reply with quote | Quote
# andi Muliany Hasyim 2013-06-23 17:45
Mari kita ikuti, Insya Allah, semoga keinginan Ketua Kamar Peradilan Agama Mahkamah Agung RI Dr. H. Andi Syamsul Alam, S.H., M.H.dapat terealisir, amin
Reply | Reply with quote | Quote
# Reni 2013-06-24 06:35
Saya S2 masih Di Pengadilan Tingkat Pertama sedang pada Pengadilan Tingkat Banding ada yang Diploma/S1...Bi aya jg cukup besar...moga2 era Doktorisasi terwujud...amie ennn...
Reply | Reply with quote | Quote
# Serly 2013-06-24 06:36
Apakah ada manfaatnya Era Doktorisasi itu???mengingat biaya cukup besar...semoga terealisasi...
Reply | Reply with quote | Quote
# Silfi 2013-06-24 06:48
Itu sebabnya Pak Andi kembali bergurau dengan mengatakan, “Saat ini, warga peradilan agama yang saya anggap sarjana adalah mereka yang sudah Doktor”.
Kesimpulan :
Pengadilan Tingkat Banding Baik Hakim, Panitera dan Staf yang masih S1 belum dianggap SDM nya....he he he
Reply | Reply with quote | Quote
# Yuri 2013-06-24 07:15
Banyak tenaga Di Pengadilan Tingkat Pertama yang sudah S2 tapi banyak di Pengadilan Tingkat Banding yang masih S1...sayang ya...dimana Era Doktorisasi...
Reply | Reply with quote | Quote
# Trubus W PTA Banten 2013-06-24 09:58
Sekarang ini "Era Doktorisasi" bagi p-ara Hakim PA yg disampaikan Bapak Ketua Kamar Agama MARI (Bapak DR. H. Andi Syamsu Alam, SH, MH)demi peningkatan SDM, adalah sebagai pemacu kita yg nota bene masih ada kesempatan untuk menggapainya,un tuk mencapai hakim yang ber SDM maksimal, berkualitas, berintegritas dan bermoralitas yang tinggi dan berwawasan luas, hingga mnelahirkan putusan-putusan yang berkualitas pula.........se moga
Reply | Reply with quote | Quote
# HAM HSB,MH PA Sidikalang 2013-06-28 15:04
Kita menyambut baik "Era Doktorisasi" akan tetapi kita terbentur dengan jarak dan waktu kuliah. Khususnya yang masih jauh dari pusat kota propinsi apa lagi ada aturan "tidak lebih dari 50 km " dari tempat tugas, bila itu terjadi pasti kita akan terbentur dengan izin belajar dari atasan.khususu untuk sumatera Utara belum ada MOU dengan S3 yang ada di Kota Medan. jadwal kuliah juga hari Kamis dan Jumat. Oleh sebab itu kita mengusulkan kepada pemangku kebijakan Khusus wilayah Sumatera Utara untuk menjalin kerja sama kearah itu menyahuti harapan Ketua Kamar Agama MARI tersebut. Semoga mendapat tanggapan dari pihak terkait. Amin
Reply | Reply with quote | Quote
Add comment

Hubungi Kami

Gedung Sekretariat MA (Lt. 6-8)

Jl. Jend. Ahmad Yani Kav. 58 ByPass Jakarta Pusat

Telp: 021-29079177
Fax: 021-29079277

Email Redaksi : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Email Ditjen : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Lokasi Kantor

Fanpage