logo web

Dipublikasikan oleh Abdul Rahman pada on . Dilihat: 127

"JANGAN MEMPERMALUKAN SIAPAPUN"

Dalam kesempatan khutbah Jum’at tanggal 9 Pebruari 2018 di mesjid al-Mahkamah, Mahkamah Agung, almukarrom Prof. Dr. Nasarudin Umar, M.A., setidaknya menyampaikan dua kisah. Pertama, ketika Rasulullah saw akan mengimami salat maghrib dan salat sudah hampir dimulai, mendadak tercium bau tak sedap yang sangat mengganggu dan ditengarai bahwa itu adalah bau kentut. Itu artinya ada di antara jamaah salat maghrib yang kentut. Rasulullah saw menoleh ke belakang, ke arah jamaah, seraya mengatakan: “Kepada jamaah yang kentut, silahkan berwudu!” Tidak ada satu pun jamaah yang meninggalkan barisan untuk berwudu. Perintah itu diulangi Rasulullah saw beberapa kali, tetapi tetap tidak ada jamaah yang meninggalkan barisan untuk berwudu. Karena sore itu, sebelum salat magrib, ada suatu pesta yang di dalam pesta itu disediakan daging unta, maka Rasulullah saw mengatakan: “Siapa yang makan daging unta, silahkan berwudu.” Mendengar perintah itu, serentak hampir semua jamaah meninggalkan barisan untuk berwudu.

Kedua, ketika fat-hu Makkah, Rasulullah saw mengatakan: “Hadza yaum al-marhamah,”yang berarti ini adalah hari kasih sayang. Karena itu, orang-orang musyrikin Makkah merasa terlindungi, terampuni, dan terbebaskan. Padahal, dalam tradisi Arab saat itu, terhadap pihak yang kalah perang, laki-lakinya akan dibunuh dan perempuannya menjadi budak. Dengan pernyataan Rasulullah saw itu, hal yang demikian tidak terjadi. Oleh karena itu, pimpinan musyrikin Makkah saat itu, Abu Sufyan, dan pengikut-pengikutnya merasa aman dan terlindungi. Beberapa saat kemudian, muncul seorang sahabat Rasulullah saw sambil berkeliling dengan mengendarai kudanya meneriakkan:Hadza yaum al-malhamah,” yang berarti:Hari ini adalah hari pembantaian.” Mendengar teriakan sahabat beliau itu, suasana yang tadinya sudah tenang menjadi resah. Semua orang Mekkah menjadi was-was karena khawatir akan terjadi pembantaian besar-besaran oleh pasukan Rasulullah saw. Dalam suasana yang tidak menentu itu, Abu Sufyan mendatangi Rasulullah saw menanyakan berita mana yang benar, apakah yang berasal dari Rasulullah saw atau yang dari sahabat beliau. Degan bijak Rasulullah saw menyampaikan kepada Abu Sufyan bahwa berita yang benar adalah yang berasal dari beliau, bukan dari sahabat beliau. Sahabat beliau itu, kata beliau kepada Abu Sufyan, adalah orang yang cadel, tidak bisa menyebut huruf “ra” sehingga lafadz “ra” diucapkannya “l”, dan ucapan “marhamah” menjadi “malhamah.” Mendengar penjelasan beliau itu, Abu Sufyan menjadi tenang dan berita itu disampaikan juga kepada semua pengikutnya sehingga suasana kota Makkah menjadi aman dan tenang pascafat-hu Makkah.

Dari dua kisah itu, almukarrom yang amat terpelajar itu berpesan, pertama, hadis tentang “makan daging unta” itu harus dibaca sesuai dengan konteksnya. Sebab jika tidak, bisa timbul kesan bahwa daging unta itu adalah sesuatu yang membatalkan wudu, sebab siapa yang makan daging unta harus berwudu. Kedua, Rasulullah saw sebagai pemimpin tidak ingin mempermalukan siapa pun, alias selalu menjaga martabat seseorang, apa dan siapa pun dia, tidak pandang status sosialnya. Semuanya harus dijaga harga dirinya. Sebagai Rasulullah, dalam kasus bau busuk menjelang awal salat maghrib, beliau tahu siapa di antara sahabatNya yang terkentut. Tetapi demi menjaga martabat sahabatnya itu, beliau merubah perintahnya dari yang semula “Siapa yang kentut, silahkan berwudu” menjadi “Siapa yang makan daging unta, silahkan berwudu.” Dengan adanya perubahan perintah itu, sahabat yang kentut merasa tidak dipermalukan. Demikian juga dengan penjelasan bahwa sahabatnya itu cadel, suasana yang tadinya resah menjadi tenang, sedangkan sahabat yang meriakkan “Hadza yaum al-malhamah tidak merasa dipermalukan.

Itulah kewajiban seorang pemimpin, pesan almukarrom, mahaguru yang amat terpelajar itu, yakni menjaga martabat dan harga diri anak buahnya, dan selalu berupaya untuk tidak mempermalukan anak buahnya. Wallahu a’alam.

Comments  

 
# Ahmad Syafruddin 2018-02-16 07:28
Keteladanan pemimpin sang pengayom yg praktis menyusut dlm kenyataan. Bahkan menjadikan kritik positif adalah ancaman. Membudayakan komunikasi yg baik dan berbalas arah merupakan pilihan. PA.Spn, 16022018.
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# *W.Setiawan#PA.Cms 2018-02-20 07:17
Alhamdulillah dari dua kisah yang diuraikan kembali oleh Bapak Dirjen diatas kita dapat menarik pelajaran yang berharga bahwa menjaga muru'ah dengan tidak membuka aib orang lain apalagi diekspose didepan publik akan menjaga harga diri dan martabat seseorang. Dari kisah tersebut mengajarkan kepada para pemimpin untuk bijaksana dalam setiap mengambil keputusan sehingga tetap terjaga hubungan baik antara atasan dan bawahan tumbuh rasa hormat meskipun sudah tidak lagi duduk di singgasana kekuasaan. Pemimpin yang demikian itulah yang ditangisi oleh seluruh karyawannya pada saat mutasi atau purna bhakti karena kesalehannya. Bukan sebaliknya. Semoga kita termasuk umat pilihan yang diberi kemampuan untuk dapat meneladani akhlak Rasulullah Saw. Semoga.
Reply | Reply with quote | Quote
 

Add comment

Hubungi Kami

Gedung Sekretariat MA (Lt. 6-8)

Jl. Jend. Ahmad Yani Kav. 58 ByPass Jakarta Pusat

Telp: 021-29079177
Fax: 021-29079277

Email Redaksi : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Email Ditjen : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Lokasi Kantor