logo web

on . Dilihat: 5428

 

Jadilah “Pemalu”, Tapi Tidak Bikin Malu

*

Tiga hari perjalanan saya ke wilayah Lampung di medio Januari 2012 ini sungguh sangat menyenangkan. Bukan hanya sangat senang, tapi juga sangat puas.

Yang membuat senang dan puas adalah jadwal padat, perjalanan jauh, banyak pengadilan yang sempat dikunjungi, banyak ketemu dan mendengar suara kawan-kawan di PA, sempat mampir ke PN, dan sempat pula ngobrol dengan petugas Posbakum dan bahkan dengan pencari keadilan. Ditambah lagi, bisa bicara dan dialog dengan semua pimpinan PTA dan PA se provinsi serta para hakim tinggi, dalam forum Rakerda di Bandar Lampung.

**

Selasa (17 Jan) sebelum pukul 4.00 pagi, saya dan isteri sudah bangun. Berkemas, lalu pergi ke  Cengkareng mengejar Garuda yang berangkat ke Bandar Lampung pukul 6.20.  Keberangkatan agak terlambat, sehingga sampai di Bandar Lampung pukul 8 lebih.

Kawan-kawan dari PTA sudah menunggu di Bandara. Langsung saya dibawa ke PA Kalianda, Lampung Selatan dengan perjalanan sekitar 2 jam. Di sana ada acara peresmian Mushola dan melihat sistem pelayanan yang dikenal dengan istilah “one stop service”. Selesai acara di Kalianda, lalu berangkat menuju Liwa lewat Lampung Utara, mampir di PA Gunung Sugih. Sampai di penginapan di Danau Ranau, Liwa, pukul 10, langsung ramah tamah. Lebih tengah malam baru bisa tidur.

Esoknya, hari Rabu, sekitar pukul 9, setelah sejenak berendam kaki di air panas di seberang danau yang indah itu, rombongan menuju PA Liwa, meresmikan musholla dan pertemuan. Sempat pula mampir di PN Liwa, jumpa Ketua PN dan melihat-lihat suasana kantornya. Siangnya, rombongan berangkat menuju PA Kotabumi, melihat-lihat suasana kantor dan sistem pelayanannya. Setelah dialog dalam suatu pertemuan, rombongan menuju Bandar Lampung. Tiba pukul 20 lebih, istirahat sejenak, lalu membuka Rakerda dan mengisi diskusi. Lagi, baru bisa tidur setelah pukul 12 malam.

Hari Kamis pagi, ada waktu untuk berleha-leha sebentar di hotel. Sementara Rakerda berlangsung, saya minta diantar untuk keluar hotel, alasan untuk jalan-jalan melihat kota. Lalu saya minta supir secara diam-diam untuk menuju PA Tanjung Karang. Sengaja saya tidak memberi tahu kawan-kawan di PA Tanjung Karang sebelumnya. Saya ingin melihat keadaan dan pelayanan di PA apa adanya. Sekitar pukul 2 saya kembali ke Jakarta dengan rasa senang, dan langsung menuju Cisarua untuk membahas bahan Laporan Tahunan MA-RI, bersama para eselon I dan Pak Tuada Pembinaan.

Cape, memang. Perjalanan ratusan kilometer lewat darat cukup membosankan. Tapi rasa cape dan bosan, berjam-jam di dalam mobil, hilang begitu bertemu dengan seluruh hakim dan aparat di PA yang dikunjungi. Mereka dengan antusias, ramah dan penuh kekeluargaan menyambut saya dan rombongan. Saya senang bukan karena merasa dielu-elukan, namun karena begitu besarnya perhatian mereka kepada Dirjennya. Mereka nampak ingin mendengar  apa yang akan disampaikan saya, ingin dilihat suasana kantor dan pelayanannya, sekaligus ingin didengar juga masukannya, curhatnya dan bahkan keluhannya.

Mereka, terutama di daerah “terpencil” seperti Liwa, sangat mengharapkan dikunjungi oleh para pimpinannya, baik yang dari provinsi maupun Jakarta. Sekretaris Daerah yang mengatas namakan Bupati dan pimpinan daerah di Liwa, ketika menyambut kedatangan saya di PA Liwa mengatakan bahwa selama melaksanakan tugasnya beberapa tahun ini baru kali ini kedatangan seorang Dirjen.

***

Banyak hasil yang saya peroleh dari perjalanan ini. Banyak kreasi yang saya lihat, yang dilakukan kawan-kawan di daerah dalam melakukan pelayanan kepada pencari keadilan. Apa yang saya lihat dan apa yang  terjadi di PA Kalianda, PA Gunung Sugih, PA Liwa, PA Kotabumi dan PA Tanjung Karang banyak menginspirasi saya dalam melakukan pembinaan peradilan agama se Indonesia.

Yang pertama,  saya merasakan betapa kekeluargaan di kalangan peradilan agama begitu tinggi. Mereka nampak senang begitu saya tiba di suatu PA, walaupun kadang terlambat karena perjalanan jauh. Rasa kekeluargaan dan  persaudaraan yang tinggi akan menimbulkan soliditas yang tinggi pula. Dan ini, merupakan modal utama dalam melaksanakan tugas kita sehari-hari.

Kesan lainnya yang saya rasakan adalah sampainya pesan-pesan atau kebijakan Badilag kepada mereka. Walaupun tidak 100%, tapi saya menangkap mayoritas pesan itu sampai dan difahami mereka. Mereka, bahkan nampak sudah merasa akrab dengan saya, walaupun mungkin baru pertama kali jumpa. Saya yakin mereka selalu membuka badilag.net, sehingga “akrab” dengan saya dan mengenal program-program badilag.

Sampainya pesan-pesan Badilag, terlihat dari adanya upaya untuk melaksanakan “one stop service”, pelayanan meja informasi, sistem penerimaan tamu dan pencari keadilan, pengembangan website, SIADPA, SIMPEG dan program-program prioritas reformasi lainnya.

Saya juga sering bicara dengan menyelipkan kata, istilah atau ceritera yang populer disebutkan pada badilag.net, baik pada kolom berita, pojok dirjen atau suara pembaca. Ketika saya nyinggung soal “baso”, “pamer miskin”, bicara di Kejagung, “kado tahun baru” dan lainnya, mereka nyambung bahkan nampak tersenyum, tanda merekapun mengikutinya melalui badilag.net.  Bahkan seringkali mereka nyeletuk atau komentar sedikit panjang tentang isu-isu yang dipublikasikan melalui badilag.net itu.

Ini jelas membuat saya senang. Dan ini menggambarkan bahwa komunikasi kita berjalan dengan baik. Kini, kita tinggal meningkatkan intensitas komunikasi tersebut, misal dengan cara memberikan komentar atau masukan dari kawan-kawan di daerah terhadap kebijakan yang dimuat di Badilag.net. Atau, komentar dan masukan dari kawan-kawan di Badilag sesuai tupoksinya masing-masing terhadap apa yang dikerjakan di daerah. Komentar itu bisa melalui situs badilag.net atau situs masing-masing PA. Tidak kurang pentingnya adalah konsistensi dan perhatian para pimpinan.

Hal lain yang saya senangi dari kunjungan ini adalah munculnya banyak kreasi yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan. Di PA-PA yang saya kunjungi, misalnya, saya selalu melihat adanya penyediaan air minum gratis bagi para pencari keadilan. Air minum itu ada yang disajikan pada galon dengan  gelas-gelas bersihnya. Namun ada pula yang disajikan dalam kemasan gelas-gelas kecil.

Selain air minum gratis, di banyak PA yang saya kunjungi, saya melihat ada sajian permen-permen di meja-meja pelayanan.  Ini bukan main. Hal kecil tapi sangat signifikan dalam upaya pelayanan. Nampak seperti pelayanan di resepsionis hotel atau konter bank.

Ketika saya tanya apakah air minum dan permen itu disajikan karena ada kunjungan Dirjen. Sudah pasti mereka jawab tidak. “Kami sehari-hari seperti ini Pak”, kata mereka. Alhamdulillah. Memang harus demikian. Saya katakan, kita harus mulai dari hal-hal yang kecil lalu meningkat dan meningkat.

Kreasi lainnya dalam peningkatan pelayanan adalah adanya tulisan-tulisan yang indah, mencolok dan mudah dibaca oleh para pencari keadilan, yang ditempel di dinding-dinding kantor.  Tulisan-tulisan itu semuanya mengarah kepada peningkatan transparansi, pelayanan dan penghindaran terhadap upaya penyelewengan, baik yang dilakukan oleh para pencari keadilan maupun aparat pengadilan. Bukan main.

***

Di antara tulisan indah dan mudah terbaca oleh para pencari keadilan, atau oleh siapa saja yang datang ke PA adalah pamlet yang berjudul “10 Budaya Malu”.  Ini saya lihat, antara lain di PA Gunung Sugih. Konon “10 Budaya Malu” ini kini sedang dibudayakan di wilayah PTA Bandar Lampung yang mewilayahi 9 PA.

Coba kita simak “10 Budaya Malu” ini: (1) Malu Datang Terlambat, (2) Malu Tidak Ikut Apel, (3) Malu Pulang Lebih Awal, (4) Malu Tidak Masuk Kerja, (5) Malu Sering Izin (6) Malu Bekerja Tidak Terprogram/Asal-asalan, (7) Malu Pekerjaan Terbengkalai, (8) Malu Bekerja Tanpa Pertanggungan Jawab, (9) Malu Tugas-tugas Pokok Tidak Dikerjakan, (10) Malu Tak Bertata Krama dan Tidak Sopan Santun.

Subhanalloh. Bagus sekali substansi pamlet ini. Jika 10 hal tersebut dilaksanakan dengan baik oleh seluruh aparat peradilan agama, maka insya Allah tugas pokok peradilan agama akan dapat dilaksanakan dengan baik dan pelayanan kepada pencari keadilan akan dijamin memuaskan.

Saya berpikir, di zaman seperti sekarang, di mana banyak hal yang memalukan sudah tidak dianggap malu lagi, hal-hal tabu sudah tidak menjadi tabu lagi, aparat dan masyarakat sudah sangat “permissive”, maka budaya malu haruslah dikembangkan. Di zaman sekarang, pembudayaan rasa malu haruslah kembali digalakkan. Makanya saya salut kepada kawan-kawan di Lampung, terutama Gunung Sugih ini.

Tidak apa-apa, kita dianggap “pemalu” juga. Bukankah malu itu bagian dari iman? Bukankah menjadi pemalu tidak melaksanakan hal-hal yang menjadi tanggung jawabnya adalah hal yang baik? Saya setuju sekali dalam hal ini. Makanya, ayo kita ramai-ramai untuk menjadi “pemalu”.

Namun demikian, janganlah kita menjadi “pemalu”, tapi masih sering kali kita melakukan hal-hal yang memalukan.  Misal, kita masih menyampaikan panggilan di kantor kita namun masih membebani para pihak dengan biaya panggilan, kita masih terlambat dalam memberikan salinan putusan atau akte cerai, kita masih tidak memberikan sisa uang panjar, kita masih melakukan pungutan liar, kita masih “gaptek”, kita –apalagi pimpinan- masih belum bisa membuka internet, kita masih belum tahu atau belum faham SIADPA dan sebagainya.

Memang “10 Budaya Malu” itu sudah bagus, hanya mungkin perlu ditambah atau lebih dipertajam dengan, misalnya, “Malu Melakukan Penyelewengan Sekecil Apapun” dan “Malu Gagap Teknologi”.

Saya tidak berpretensi bahwa kawan-kawan di wilayah Lampung atau di manapun di Indonesia masih suka melakukan penyelewengan atau tidak peduli terhadap pemanfaatan Teknologi Informasi. Namun saya juga merasa bahwa penyelewengan yang dilakukan oknum itu mungkin masih ada walaupun dalam skala yang tidak besar. Saya juga yakin, masih banyak aparat, bahkan pimpinan pengadilan, yang tidak begitu peduli terhadap pemanfaatan Teknologi. Mereka merasa urusan TI adalah urusan tehnis operator komputer.

Oleh karena itu, dengan dibudayakannya "malu melakukan penyelewengan" dan "malu gaptek”, ditambah monitoring yang konsisten dari para pimpinannya, insya Allah visi kita: “Terciptanya Peradilan Yang Agung” akan segera tercapai.

 

Dengan demikian, marilah kita jadi “pemalu”, tapi jangan lupa, kita tidak boleh “memalukan”. (WW).

 

Comments  
# #Razak PTA Banten # 2013-08-21 14:10
# 10 budaya malu sangat bagus dan fositiv kita tanamkan dan kita amalkan dalam pekerjaan dan budaya kita sehari-hari, tapi janganlah perbuatan/peker jaan kita sampai memalukan
Reply | Reply with quote | Quote
Add comment

Hubungi Kami

Gedung Sekretariat MA (Lt. 6-8)

Jl. Jend. Ahmad Yani Kav. 58 ByPass Jakarta Pusat

Telp: 021-29079177
Fax: 021-29079277

Email Redaksi : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Email Ditjen : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Lokasi Kantor

Fanpage