logo web

Dipublikasikan oleh Hermansyah pada on . Dilihat: 22557

Nabi Sulaiman, Semut dan Peradilan Agama

Oleh: Purwosusilo

Sulaiman adalah nabi dan rasul utusan Allah. Di antara dua puluh lima nabi dan rasul utusan Allah, salah satu di antaranya adalah Nabi Sulaiman AS. Nabi Sulaiman ditakdirkan oleh Allah dengan banyak kelebihan. Tidak banyak orang yang diberi kelebihan oleh Allah seperti Nabi Sulaiman. Dia diberi kelebihan oleh Allah dengan berbagai kenikmatan, sehingga dalam tulisan ini, sengaja diangkat kembali sekelumit kisah kehidupan Nabi Sulaiman. Banyak hal yang menarik untuk disimak, yang dapat direnungkan dan diperhatikan, salah satu di antaranya adalah kisah antara Nabi Sulaiman AS dan seekor semut.

Di antara kenikmatan yang diberikan Allah kepada Nabi Sulaiman ialah dia dipilih oleh Allah sebagai nabi dan rasul utusan Allah dengan tugas utama untuk menyampaikan syariat Allah. Sulaiman juga dinobatkan sebagai seorang raja dari sebuah kerajaan besar di masanya, diperkuat dengan bala tentara yang tangguh dan harta benda yang melimpah. Kenikmatan ini disempurnakan dengan ilmu yang tinggi, sampai-sampai digambarkan, Nabi Sulaiman dapat memahami dan berkomunikasi dengan bahasa binatang dan hewan. Di samping itu, dia juga didampingi oleh seorang permaisuri yang sholehah, cantik dan rupawan. Pendek kata, semua kenikmatan dunia dinikmati oleh Nabi Sulaiman, yaitu harta, tahta dan wanita. Bahkan kenikmatan akheratpun insya Allah dinikmati oleh Nabi Sulaiman.

Sekalipun demikian, Nabi Sulaiman tetap sadar bahwa semua kenikmatan ini adalah karunia Allah. Kapanpun kenikmatan-kenikmatan ini dapat dicabut kalau Allah menghendakinya. Oleh karena itu Nabi Sulaiman tetap bersahaja dalam kehidupannya, bahkan tawadhu’ dalam menyikapi usul, masukan, kekuatiran dari manapun asalnya.

Di antara sikap tawadhu’ Nabi Sulaiman tersebut dilukiskan di dalam al-Quran surat an-Naml ayat 18. Yaitu bahwa ketika Nabi Sulaiman dan bala tentaranya dalam sebuah perjalanan sampai pada sebuah lembah semut. Saat itu, berkatalah seekor semut (ratunya semut) dengan penuh kekuatiran: “Hai semut-semut, masuklah kamu sekalilan ke dalam lubang-lubang persembunyian kamu, agar kamu semua tidak diinjak oleh Nabi Sulaiman dan bala tentaranya.” Sementara itu, Nabi Sulaiman dan bala tentaranya tidak merasa bahwa mereka telah menginjak para semut.

Mendengar kekuatiran semut tersebut, Nabi Sulaiman tidak marah, bahkan tersenyum dan tertawa seraya berdoa kepada Allah, yang kemudian doa Sulaiman tersebut diabadikan oleh Allah di dalam al-Quran sebagai doa syukur: “Ya Allah, berikanlah kepadaku ilham (kearifan) agar kami dapat bersyukur atas nikmat yang telah engkau berikan kepadaku dan kepada orang tuaku…”

Kalimat doa tersebut kalau dibahasakan dengan kalimat bebas seakan Nabi Sulaiman menjawab kekuatiran semut tersebut dengan kalimat: “Wahai semut-semut, jangan kuatir, karena sesungguhnya Sulaiman dan bala tentaranya bukan tipe orang seperti itu, yang suka menginjak pihak-pihak yang tidak berdaya.”

Cerita Nabi Sulaiman dan seekor semut di dalam ayat ini mengandung filosofi yang sangat dalam. Semut dalam ayat ini adalah representasi masyarakat akar rumput, rakyat biasa, para staf, karyawan, dan sebagainya. Di sisi lain, Sulaiman adalah representasi orang-orang yang berkuasa dengan berbagai kelebihan dan kewenangan dalam semua tingkatan.

Sesungguhnya para karyawan, staf dan pegawai pada umumnya mengharapkan kearifan dan kecerdasan setiap pemimpin. Akan tetapi sebaliknya para staf dan karyawanpun jangan mempunyai kekuatiran yang berlebihan seperti apa yang dilakukan oleh semut tersebut. Sebab, kekuatiran yang berlebihan justru akan menimbulkan kontra produktif, yang justru merugikan institusi.

Dalam sebuah manajemen, baik staf maupun pimpinan, semua penting dalam tugas dan wewenang masing-masing. Tidak ada orang atau bagian yang paling penting dan tidak ada pula bagian yang tidak terlalu penting. Ibarat sebuah mobil, betapapun pentingnya mesin mobil, akan tetapi bukan berarti pentil yang kecil itu tidak penting. Sebab tanpa pentil, mobil sebagus apapun tidak bisa berjalan dengan sempurna.

Oleh karena itu, sebaiknya semua suara kita padukan sehingga menjadi simfoni yang menghidupkan kalbu. Semua kekuatan kita satukan sehingga ibarat air bah yang tidak terbendung untuk kemajuan organisasi.

Sekalipun cerita tentang Nabi Sulaiman dan semut di atas tidak secara langsung berkaitan dengan manajemen, tetapi filosofi cerita tersebut banyak mengandung prinsip-prinsip manajemen sehingga filosofi tersebut perlu kita renungkan bersama, demi kemajuan peradilan agama.

Comments  
# achmad kadarisman, S.HI 2013-03-19 10:17
saat ini saya tidak tahu, apakah saya sudah menempati posisi sebagaimana nabi Sulaiman ataukah posisi semut.
tapi bagaimanapun juga, saya selalu berharap andaikata saya memang telah meduduki posisi yang lebih tinggi dari semut, maka saya tidak akan menginjaknya, tapi jika saya adalah semut, tolong jangan injak saya.
Reply | Reply with quote | Quote
# h. masruri, ptk 2013-03-24 13:01
Subhanallah... sungguh filosofi cerita nabi sulaiman ini bisa jadi renungan bersama selaku warga peradilan, Oleh karena itu sebaiknya semua karya dan kerja kita padukan sehingga menjadi suatu kesatuan yang menghidupkan kekuatan besar. Semua kekuatan kita satukan sehingga ibarat air bah yang tidak terbendung untuk kemajuan organisasi. Terima kasih Bapak atas pencerahannya semoga memotivasi dan mendorong warga peradilan untuk bersatu bersama mengangkat derajat peradilan Agama dan Mahkamah Agung.
Reply | Reply with quote | Quote
# AFFAN PA.GRESIK 2013-12-31 10:36
Sdr. Kadarisman, SH.MH. sekarang menduduki posisi seperti Nabi Suilaiman karena Saudara akan menikah lagi dengan Ratu Bilkis dari Malang
Reply | Reply with quote | Quote
# Muh. Irfan Husaeni/PA Pelaihari 2013-03-19 10:40
Terimakasih Bapak Dirjen atas tulisannya sangat mencerahkan,pes an moralnya mendalam belajar dari ketawadhu'an Nabi Sulaiman dengan segala kebesarannya, namun tetap menghargai makhluk kecil seperti semut. Semoga kita dapat mengamalkannya, amin.
Reply | Reply with quote | Quote
# anwaruddin 2013-03-19 10:44
Semoga bermunculan Sulaiman2 baru dalam memimpin lembaga negara kita khususnya di bawah Mahkamah Agung lebih khusus lagi di bawah naungan Badilag, yakinlah "bersama kita bisa" bisa juga diterapkan, Iyyaka na'budu waiyyaka nasta'in, sebagai ajaran kebersamaa kita. Kami, yang diutamakan kami bukan aku, karena kalau "aku"nya yang didahulukan menunjukkan kesombongan. Semoga filosofi Nabi Sulaiman yang digambarkan pak Dirjan benar2 bisa terwujud, amin.
Reply | Reply with quote | Quote
# Khairil Jamal MS.Mrd. 2013-03-19 10:48
Contoh yang sangat indah yang disampaikaann Pak Dirjen dalam membina keakraban antara atasan dan bawahan untuk mencapai kemajuan Pengadilan Agama.
Reply | Reply with quote | Quote
# Adnan 2013-03-19 11:04
Subhanallah... sungguh filosofi cerita nabi sulaiman ini bisa jadi renungan bersama kita selaku warga peradilan, entah itu pejabat, hakim, maupun staf pegawai biasa semua mempunyai peranan penting . sehingga bisa tercipta keselarasan simfoni yang menghidupkan kalbu "sesuai dengan keinginan Bapak Dirjen Kita". Semoga kita bisa sama sama mewujudkannya.. .
Reply | Reply with quote | Quote
# Masrinedi-PA Painan 2013-03-19 11:13
Alhamdulillahirabbil'alamin.
Terima kasih atas pencerahannya pak Dirjen.
Semoga kita warga Badilag mulai dari Dirjen sampai ke level staf, bahkan para honorer bisa memainkan Simfoni atau Orkestra Badilag secara harmonis, senada dan seirama sesuai dengan TUPOKSI masing-masing di mana pak Dirjen sebagai Dirigen Orkestranya. Aamiin ! :-)
Reply | Reply with quote | Quote
# zaenal 2013-03-19 11:13
sungguh i'tibar yang positif untuk menjadi renungan kita smua,,,visi dan misi suatu instansi akan tercapai jikalau semua aparaturnya mau mengimplementas ikan pedoman filosofi di atas....betapa tidak suatu instansi akan berhasil kalau smua aparaturnya saling bekerja sama, tidak ada yang merasa paling pintar, paling bekerja, paling berjasa, paling benar dll. akan tetapi dia yg merasa mempunyai kewajiban yang sama untuk memajukan institusi ini..."ibarat anggota badan jika satu bagian terluka maka merianglah seluruh badan",,jika suatu bagian tidak saling bekerjasama maka akan sukar untuk mewujudkan visi dan misi...mari kita saling bergotong royong demi institusi kita....lanjutk an
Reply | Reply with quote | Quote
# iliyansyah 2013-03-19 11:19
BENAR ...SESUNGGUHNYA JANGAN MENGANGGAP SENIORITAS ITU PENTING DALAM SEBUAH KINERJA SEHINGGA YANG BARU DAN MUDA MALAH DIANGGAP PEMBANGKANG DAN SOK TAHU.....UNTUK ITU MENGHARGAI JAUH LEBIH BERHARGA KETIMBANG JAUH MEMEROSOK KAN HATI DEMI PRESTISE
Reply | Reply with quote | Quote
# agus.s.huda 2013-03-19 11:24
filosofi dari cerita tsb memang patut untuk kita renungkan bersama .... untuk jalankan TUPOKSI masing-masing, sehingga institusi kita lebih baik, lebih maju lagi dan .....
Reply | Reply with quote | Quote
# Kamali@PATRIA 2013-03-21 08:57
.......... dan andaikata kita-kita seperti Nabi Sulaiman (dalam sikap dan tutur katanya)....... ... betapa indahnya peradilan kita, peradilan 8) di Indonesia
Reply | Reply with quote | Quote
# Sambudi PTA. Manado 2013-03-19 11:40
hikmah yang terkandung dalam kisah Nabi Sulaiman dan semut, merupakan suri tauladan yang sangat dalam dan perlu dihayati serta diterapkan dalam lingkungan kantor, jika tauladan tersebut bisa dilaksanakan niscaya tidak gate2 antara atasan dan bawahan, kisah tersebut merupakan ilmu manajemen bagaimana menghormati atasan dan menghargai bawahan
Reply | Reply with quote | Quote
# munasib Zainuri PTA Bdl 2013-03-19 11:48
cerita Nabi Sulaiman dgn semut yg diabadikan dlm al Qur'an perlu dikaji dan diambil pelajarn dlm filosofi kisah tsb ternyata memang banyak mengandung prinship2 manajemen yg perlu direnungkan bersama dan dikembangkan demi kemajuan lembaga peradilan Agama ...
Reply | Reply with quote | Quote
# Hardinal PTA Jypura 2013-03-19 12:00
:lol: Suatu pencerahan yang cukup menarik. Kiranya filosofi yang dieksplor oleh Bapak Dirjen dari kisah yang amat klasik dan terpatri di dalam Al-Qur'an tsb dapat menjadikan warga Peradilan Agama senantiasa solid dalam mengemban tugas di satker masing-masing, dan tidak berpraduga negatif terhadap semua lini. Semoga semua kita bisa dan harus bisa.
Reply | Reply with quote | Quote
# AHP - MS Aceh 2013-03-19 12:05
Benar sekali, manajemen kepemimpinan harus saling isi mengisi, take and give. Insya Allah yang memimpin dan yang dipimpin akan seiring sejalan menuju yang dicita-citakan, yaitu peradilan yang agung. Semoga !
Reply | Reply with quote | Quote
# Mujizat Murin 2013-05-22 14:19
Begitulah Hidup, kita sebagai manusia harus saling menghargai... 8)
Reply | Reply with quote | Quote
# Mujizat Murin 2013-05-22 14:20
:D :lol: :-)
Reply | Reply with quote | Quote
# Rusliansyah - PA Nunukan 2013-03-19 12:06
Dalam Al-Qur'an ada 3 binatang kecil yang dijadikan nama surah untuk dijadikan tamsil/pelajara n oleh kita semua.
Ke-3 binatang itu adalah "semut" (naml), "lebah" (nahl) dan "laba-laba" ('ankabut).
Kali ini binatang "semut" yang dijadikan Pak Dirjen sebagai tamsil untuk direnungkan bersama.
Seperti kita tahu semut adalah binatang kecil yang hidupnya berkelompok-kel ompok di dalam tanah atau lubang.

Filosofi perilaku semut yang disampaikan Pak Dirjen itu adalah sisi-sisi baik dari semut.
Persatuan dan kerjasama/goton g royong semuat sudah tidak diragukan lagi.
Semut bekerja dengan prinsip manajemen "BBM" (bekerja buat masyarakat) sesuai tugasnya masing2, dengan harapan "SMP" (semua merasa di-penting-kan) sehingga tercapai "SMS" (semua merasa senang).

Ketemu makanan di jalan akan digotongnya beramai-ramai untuk dikumpulkan di dalam sarangnya.
Bahkan kadang makanan itu ukurannya lebih besar dari badan semut. Tapi si semut berusaha menarik dan menggotongnya.
Dan anehnya usaha semut ini kadang berhasil dengan baik.
Ini sisi baik semut: "kerjasama/goton g royong", "bekerja keras mencapai tujuan", seperti semboyan Pak Dirjen: "bisa tidak bisa harus bisa".

Sisi buruk semut: "serakah" menumpuk-numpuk makanan di sarangnya.
Tapi ini juga bisa berarti sisi baik semut agar ada "persiapan" makanan di sarang jika hari hujan, misalnya.

Belajarlah dari pengalaman karena pengalaman adalah guru terbaik.
Belajarlah dari "semut" karena "ma khalaqta hadza bathilan"!!!
Semoga Allah senantiasa membimbing kita di jalan-Nya dalam menegakkan hukum dan keadilan!
Reply | Reply with quote | Quote
# Masrinedi-PAPainan 2013-03-19 14:27
Jazakallah atas sumbangsih pemikirannya pak Rusliansyah. Tulisan bapak ini adalah syarahan atas tulisan pak Dirjen di atas. :-)
Reply | Reply with quote | Quote
# Abd. salam PA. Sidoarjo 2013-03-19 12:25
Sebuah tulisan yang sarat dengan filosofi kepemimpinan dan kerakyatan, nasihat untuk raja dan sahaya, nasihat untuk pimpinan dan karyawannya, nasihat untuk juragan dan pembantunya.
Karena tidak akan ada raja jika tidak ada rakyat; Tidak akan ada pimpinan jika tidak ada bawahan; Tidak akan ada majikan jika tidak ada karyawan.
Jika semua menjadi raja, maka semua adalah hamba; Jika semua adalah hamba, maka semua adalah raja. Tetapi dalam kehidupan senantiasa ada raja dan sahaya, ada pimpinan dan ada yang jadi bawahan. Ada atasan ada bawahan.
Reply | Reply with quote | Quote
# nyak Ros pta medan 2013-03-19 12:32
benar bapak,tidak mungkin suatu lembaga akan berhasil kalau tidak ada kerjasama,maka hendaknya setiap diri harus ingat selalu ada tiga hal dalam hidup yang dapat menghancurkan hidup seseorang,yaitu kemarahan,keang kuhan dan dendam.
Reply | Reply with quote | Quote
# Alimuddin M. PA.Denpasar 2013-03-19 12:35
Benar sekali Pak Dirjen, fungsi utama kisah-kisah dalam Alqur'an adalah sebagai ibarat, bahan renungan dan pelajaran yang sangat berharga bagi umat manusia, wabilkhusus kita umat Islam.
Reply | Reply with quote | Quote
# Rusdi PTA Smd 2013-03-19 12:38
Memang cerita Nabi Sulaiman dan semut tsb telah dicantumkan dalam Alqur an, tetapi terkadang kita lupa bahwa mahluk yang kecil menjadi himpitan dalam kehdupan sehari- hari, untuk itu kita patut bersyukur bahwa Allah swt telah menunjukkan kepada kita semua bahwa mahluk sekecil apapun tentu membawa hikmah bagi kita.
Reply | Reply with quote | Quote
# Ujang Jamaludin PA Kuningan 2013-03-19 12:42
Semoga kita dapat meneladni akhlak dan filsafat hidup dari BAGINDA NABI SULAIMAN 'ALAIHIS SALAM. Amiiiiin
Reply | Reply with quote | Quote
# H.A.Imron AR, Pas 2013-03-19 13:20
Sebuah tulisan yang sarat dengan filosofi kepemimpinan dan kerakyatan patut kita renungkan bersama warga peradilan khususnya PA, jangan mentang2 raja seenae dewe, sikut sana sikut sini, injak sana injak sini, ingatlah roda dunia selalu berputar, satu waktu kt di atas dan di lain waktu kt di bawah. Terima kasih pak Dirjen atas pencerahannya. Semoga kita dapat mengamalkannya, amin.
Reply | Reply with quote | Quote
# MARZUQI/PTA.Bjm 2013-03-19 13:23
Banyak semut-semut dibawah yang perlu perlindungan dan tidak perlu diinjak bahkan kalau mungkin diselamatkan, suatu saat gigitannya bisa jadi peringatan dan latihan kesabaran. Insya Alloh mendapat Ridho Alloh SWT,Amin.
Reply | Reply with quote | Quote
# H. Makka A PA Polewali 2013-03-19 13:26
Subhanallah... tulisan yang sarat dengan filosofi "cerita Nabi Sulaiman" ini bisa jadi renungan bersama warga pengadilan,sela in direnungkan juga perlu diaplikasikan sehingga bisa tercipta keselarasan simfoni yang menghidupkan kalbu "sesuai dengan harapan Bapak Dirjen Kita".
Reply | Reply with quote | Quote
# MUHAIMIN pametro 2013-03-19 13:50
sebuah tamssil yang bagus, karena cerita dalam al Qur'an itu merupakan pelajaran bagi mannusia, namun tidak setiap manusia bisa menggunakannya, bagus pak DIRJEN, semoga ini menyadarkan kita semua, khususnya oarang Pengadilan Agama. :-)
Reply | Reply with quote | Quote
# Syafri Amrul PA Bengkulu 2013-03-19 15:05
Cerita nabi Sulaiman dengan Semut yang kembali ikisahkan oleh Pak Dirjen ini sungguh menginsfirasi pembaca mengarahkan kepada kearifan dalam menyikapi setiap sisi kehidupan yang melibatkan banyak pihak sehingga tidak ada pihak yang merasa tidak dipentingkan, meskipun tidak akan bisa memahami pihak Semut seperti kemampuan nabi Sulaiman, minimal dapat dijadikan pelajaran dalam memahami sesama dalam satu organisasi.
Reply | Reply with quote | Quote
# Al Fitri - PA Manna 2013-03-19 15:32
semoga semua kita bisa meneladani kisah nabi sulaiman tersebut terutama seorang pemimpin ...
Reply | Reply with quote | Quote
# perwakilan semut salatiga 2013-03-19 16:16
tolong semut2 seperti saya dan teman2 saya diperhatikan... .karena kesejahteraan semut tidak terpikirkan....
Reply | Reply with quote | Quote
# farhan semut salatiga 2013-03-19 16:17
tolong diperjuangkan nasib semut diPA
Reply | Reply with quote | Quote
# wawan semut salatiga 2013-03-19 16:18
mohon kepastian akan nasib semut diperadilan agama.....
Reply | Reply with quote | Quote
# dodi semut salatiga 2013-03-19 16:20
mohon semut2 yang menjadi tulang punggung PA diperhatikan nasibnya...tanp a mereka roda tidak bisa berjalan
Reply | Reply with quote | Quote
# #W. Setiawan- PA. Indramayu 2013-03-19 17:01
Kisah Nabi Sulaiman As. diatas yang disampaikan oleh Bapak Dirjen dengan gayanya yang khas dikaitkan dengan filosofi manajemen modern sangat menarik untuk kita kita teladani bahwa seorang penguasa/pemimp in mesti mendengar keluhan dari rakyatnya yang paling rendah sekalipun. Bahkan kalau boleh saya menambahkan bahwa dalam kisah Nabi Sulaiman As. juga terdapat pelajaran lain bagaimana tata cara seorang penguasa/pemimp in yang akan menjatuhkan sanksi terhadap bawahannya mesti mendengarkan dulu alasan-alasan bawahan tsb. sebagaimana Nabi Sulaiman As. yang akan menyembelih "HUD-HUD" yakni seekor burung yang alpa meninggalkan apel akbar tanpa keterangan, namun sanksi tersebut tidak jadi diterapkan kepada sang HUD-HUD tadi setelah didengarkan alasannya bahwa dia telah pergi terbang jauh ke suatu negeri yang diperintah oleh seorang ratu, namun sang ratu dan seluruh rakyatnya ternyata menyembah matahari dst dst. Kisah dialog Nabi Sulaiman As. yang mendengarkan argumentasi sang HUD-HUD tadi serta kehawatiran sang ratu semut sebagaimana yang dipaparkan oleh Bapak Dirjen dalam kisah diatas tadi sangat berkaitan bahwa kita tidak boleh memarahi apalagi menjatuhkan sanksi kepada bawahan kita sebelum didengarkan dulu alasan-alasanny a juga kita mesti mendengarkan kritik dan saran dari siapapun juga termasuk bawahan kita untuk kemajuan dan kebersamaan kita. Semut yang kecil yang oleh Bapak Dirjen dianalogikan dengan pentil yang kelihatannya kecil, namun memiliki peran penting. Sebab tanpa pentil-- demikian Bapak Dirjen memberikan stressing--seba gus apapun sebuah mobil tak akan berjalan dengan sempurna. Salam takdim untuk Bapak Dirjen.
Reply | Reply with quote | Quote
# Mahzumi PA Fakfak 2013-03-20 05:17
Alhamdulillah atas pencerahan pak Dirjen semoga semua warga Peradilan Agama dapat merenungi haqiqi filosofi tersebut amin
Reply | Reply with quote | Quote
# Faizal Kamil.KPA Bengkalis 2013-03-20 05:59
Intinya riwayat semut dan nabi Sulaiman adalah merupakan fenomena yang banyak dilupakan orang, padahal jika kita hayati sudah barang tentu banyak hikmah terkandung didalamnya. Yang membedakan manusia dan hewan namun bisa baik berkat Nabi Sulaiman yang memiliki nilai lebih (QS At tin |
Reply | Reply with quote | Quote
# Djabir Sasole PA Soasio 2013-03-20 06:26
Benar pak Dirjen.....filo sofi dari gambaran kehidupan nabi Sulaiman dan semut tersebut patut untuk direnungkan dan dijadikan pedoman, baik sebagai pimpinan maup[un sebagai bawahan. Pimpinan bisa mengayomi bawahan, dan bawahan tahu diri dengan meningkatkan kinerja dan loyalitas.
Reply | Reply with quote | Quote
# Lukmin, S. Ag. PA Parigi 2013-03-20 06:56
Mari kita semua mencontoh dan meneladani dari cerita Nabi Sulaiman AS tersebut...muda h-mudahan allah SWT selalu memberikan hidayah untuk kita semua agar menjadi yang terbaik...Amin.
Reply | Reply with quote | Quote
# M.Yusuf PA Kendari. 2013-03-20 07:09
Pimpinan berpasangan dengan bawahan, artinya seorang pemimpin berfungsi sebagai pimpinan kalau memilki bawahan dan pimpinan itu lahir dari bawahan.Oleh karena itu sesungguhnya dari aspek perhatian bobot nilainya harus lebih besar dari pimpinan ke baahan.Berbeda halnya dari aspek penghormatan, maka bawahan memiliki bobot nilai lebih besar terhadap pimpinannya.Hub ungan keduanya memilki hubungan saling membutuhkan dan benarlah kata pak Dirjen bahwa dalam suatu organisasi seperti Pengadilan tidak ada yang tidak penting.Semoga teori dan prakteknya sama, amien
Reply | Reply with quote | Quote
# Supriyadi, PA Sampang 2013-03-20 07:15
Kalao semua pemimpin di Negeri ini sadar dan mau meneladani kisah-kisah para Rosul seperti Bapak Dirjen ini,,,saya yakin untuk mewujudkan Indonesia Emas yang cemerlang rasanya tidak terlalu sulit,,,,terima kasih pak dirjen atas tausiahnya semoga membawa Peradil;an Agama kearah yang lebih maju Amiiin
Reply | Reply with quote | Quote
# RI_5 Rtg 2013-03-20 07:41
Mari kita pedomani filosofi ini sebagai filosofi hidup kita agar selalu bersyukur dengan apa yg dianugerahkan oleh Allah kepada kita dan selalu beramal sholeh serta memiliki kepekaan sosial tinggi, bukan semakin membuat kita jumawa...
Reply | Reply with quote | Quote
# Ismail Paisuly, PA Masohi 2013-03-20 07:43
Nabi Sulaiman adalah Rasul Allah sekaligus prototive pemimpin yang baik. Moga-moga pemimpin2 kita senantiasa mengambil ibrah dari kisah-kisah keteladanan nabi Sulaiman.
Sebaliknya untuk para staf dan karyawanpun seperti kata Pak Dirjen "jangan mempunyai kekuatiran yang berlebihan sebab hal itu justru akan menimbulkan kontra produktif, yang merugikan institu". Mari kita semua bertekad " Meski dunia akan runtuh,hukum harus tetap ditegakan, dan Peradilan Agama harus selalu eksis"
Reply | Reply with quote | Quote
# Drs. Cece Rukmana Ibrahm, SH. K PA. CIBADAK 2013-03-20 07:45
Semoga dari kisah antara semut dengan Nabi Sulaiman Alaihi Salam, kita bisa mengambil I'tibar/pelajar an, betapa pentingnya hubungan harmonisasi antara pimpinan dengan bawahan dan dengan sesama karyawan lainnya, karena keharmonisan itu bisa melahirkan suasa kerja yang kondusif, yang pada gilirannya akan menhasilkan produktifitas kerja yang baik, semoga!
Reply | Reply with quote | Quote
# Ayip-PA Tasikmalaya 2013-03-20 07:49
Allah menciptakan segala sesuatu tidak sia-sia, semuanya mengandung hikmah.
Apa yang disampaikan Pak Dirjen adalah deskripsi persuasif, informatif dan sekaligus alturistik (informasi yang indah dan menyenangkan). Tentu, harapan beliau atas uraiannya itu bukan hanya untuk direnungkan, tapi harus pula dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.
Reply | Reply with quote | Quote
# Ahmad Ridho PA Sidikalang 2013-03-20 08:05
Terima kasih pak dirjen atas tulisannya yang sangat inspiratif, alhamdulillah pojok dirjen masih terus dilestarikan oleh beliau mengingat pojok dirjen merupakan wadah komunikasi antara penguasa dengan semut dalam bentuk tulisan, untuk membentuk simfoni yang indah.
Reply | Reply with quote | Quote
# ikhsanuddin, pa wates 2013-03-20 08:07
kalau lagi dikisahkan, apalagi yg mengisahkan pak Dirjen, maka kita sering berapologi dan bangga kita punya referensi agung tentang kisah Nabi Sulaiman, namun dlm praktek nyata sehari-hari.... .masih banyak yg belum, bahkan jauh dari mirip. ayo, jadikan kisah Sulaiman dari Pak Dirjen ini sbg injeksi kemauan untuk berubah ke arah yg lbh baik.
Reply | Reply with quote | Quote
# MROISAR PAKDR 2013-03-20 08:26
Semut zaman nabi Sulaiman nampaknya beda juga dengan semut sekarang. Namun wajar sebab peminpin sekarang yang seperti Nabi Sulaiman sudah sulit ditemui,sehingg a semutpun banyak yang menyesuaikan diri.Maka tepatlah kiranya i'tibar beliu Bpk Dirjen Badilag yang menginginkan situasi seperti zamannya Nabi Sulaiman Semoga terwujud. Amin.
Reply | Reply with quote | Quote
# moehammad mujib 2013-03-20 09:36
keperkasaan sulaiman adalah rahmatan lil'alamin..nah ketika kita diberi kuasa dan keperkasaan..ap akah kita mampu meengimplementa sikan...kepemim pinan sulaiman,?walla hu 'alam......
Reply | Reply with quote | Quote
# Ita Sasmita PA Depok 2013-03-20 09:56
Saat ini yang ada kebanyakan hanya menjadi pejabat, bukan pemimpin. Pemimpin memberi, pejabat diberi. Pemimpin melayani, pejabat dilayani. Pemimpin mendahulukan kesejahteraan bawahan, pejabat mendahului kesejahteraan bawahan.
Reply | Reply with quote | Quote
# m.dihyah wahid - pa_sambas 2013-03-20 10:05
Mari kita jadikan kisah ini sebagai motivasi bagi kita untuk senantiasa memposisikan positif thingking kepada semua elemen yang ada dilingkungan kita agar gerak langkah kita bisa berjalan seiring menuju cita-cita yang ingin kita gapai, “‘Peradilan Yang Agung’”.
Reply | Reply with quote | Quote
# Ermida YS. PA Talu 2013-03-20 10:25
Cerita semut dan Sulaiman AS adalah cerita yang dapat dijadikan inspirasi untuk para Pemimpin agar dapat mendengarkan tentang kecemasan dan kekhawatiran rakyat terhadap kepemimpinan Penguasa.Sebaga i seorang Nabi yang notabenenya adalah makhluk Allah yang terpelihara dari segala salah dan dosa masih dikhawatirkan oleh rakyatnya, namun beliau tidak marah, bahkan tersenyum seraya menadahkan tangan berdoa agar diberikan kearifan oleh Allah. Sungguh kisah teladan yang menyejukkan kalbu dan semoga hati dapat seluas Samudera dalam menanggapi setiap kritikan,untuk dijadikan alat memperbaiki kekhilafan, semoga...
Reply | Reply with quote | Quote
# Itna- PA. Kalianda 2013-03-20 10:27
Filosofi yang disampaikan oleh Pak Dirjen patut disikapi dalam hubungan kerja demi keberhasilan sebuah institusi...tri makasih wejangannya pak Dirjen.. :-) :-)
Reply | Reply with quote | Quote
# Tatang Std PA Smrnda 2013-03-20 10:36
Pemimpin yang adil yang selalu berusaha menegakkan keadilan dan kejujuran serta berorientasi pada kepentingan masyarakat dan bangsany. Beliau berusaha keras menghindarkan diri dari perbuatan zalim, khianat, dan korup yang merusak tatanan kehidupan masyarakat.
Reply | Reply with quote | Quote
# Pelmizar.PTA Jakarta 2013-03-20 11:16
Benar sekali Pak Dirjen, semua kita ini penting, tidak ada yang terpenting/yang paling penting atau yang merasa dipentingkan, oleh karenanya semua kita harus bisa menghargai peran dan tugas semua pihak, sehingga semua dapat berjalan secara sinerjis. insya Allah semua tugas dapat kita laksanakan dengan sebaik-baiknya
Reply | Reply with quote | Quote
# Munir-PA.Kis 2013-03-20 11:17
semoga model kepemimpinan dan prilaku Nabi Sulaiman as yang sangat bijak dan arif dapat patut kita kita tiru, saling menyayangi apalagi lagi terhadap hamba yang dhaif, rendah hatilah kita, yakinlah bahwa tawadhu' inilah yang membuat kita menang.
Reply | Reply with quote | Quote
# Idris ismail 2013-03-20 11:40
Kearifan manager dan keloyalan bawahan bersinerji dalam sebuah institusi melahirkan MANAGEMEN IHSAN,yang outcomenya membuat tercapainya kinerja yang optimal dalam sebuah birokrasi.Tak terkecuali Institusi yang bernama Peradilan Agama.Ibarat mobil yang tengah melaju dengan kecepatan tinggi, namun para penumpangnya merasa tenang, senang dan nyaman.Barakall ahu lana jami'an.
Reply | Reply with quote | Quote
# Fadly 2013-03-20 11:57
Cerita sulaiman ini mengingatkan saya tentang cerita pak wahyu satu pesawat dengan pak anies, sy teringat inti pertemuan mereka tentang perbedaan antara kehormatan dan penghormatan. sy yakin ketika kita mampu menempatkan diri dengan baik saya percaya bahwa peradilan agama akan berjalan sesuai relnya. Amiiin
Reply | Reply with quote | Quote
# umi-PAJB 2013-03-20 12:07
Filsuf adalah orang yang mencintai kebijakan , baik perkataan maupun perbuatan dan semua atitudenya menggambarkan kebaikan. Ketika pak Dirjen menjabat ketua PA Jak-bar dengan penuh kebijakan dan kebaikan bapak mendekati dan memperlakukan semua karyawan dari hakim sampai pegawai honor dengan bijak.

Dan jika ada teman yg agak nakal bapak merubah dgn gaya khasnya sikap kebapakannya sehingga menjadi pegawai yg bisa diandalkan. Andai semua pejabat bersikap sebagai pemimpin pasti semua semut semut dibawahnya akan terlindungi dan secara sadar mengikuti arah kebijakan sang pemimpin.

Jadilah pejabat yg juga pemimpin, karena jabatan suatu saat akan lenyap namun kepemimpinan akan dikenang oleh semua orang
Reply | Reply with quote | Quote
# Taharuddin_PA.Pkl.Kerinci Riau 2013-03-20 12:10
Jika ditelaah,dipaha mi dan di renungkan dgn baik kisah dan sejarah Nabi Sulaiman AS,sebagaimana di sebutkan dlm alqur'an maka, khusus warga PA semestinya meneladaninya,t api terkadang org pintar ngomong tdk sesuai perkataan dgn perbuatan,lain di mulut lain di hati,mari kita semua ya'muruna bilma'ruf wayanhaona anilmunkar,Amin .
Reply | Reply with quote | Quote
# jarkasih, pa cibinong 2013-03-20 13:11
apapun posisi kita diantara dua sisi dalam kisah tersebut, hendaknya kita dapat meresapi perkataan Nabi Sulaiman dalam kalimat lain: "hadza min fadhli rabby, liyabluany aasykura am akfur".
Reply | Reply with quote | Quote
# ant 2013-03-20 13:29
Semoga hak-hak dan kesejahteraan para semut segera dibuktikan dengan turunya remunerasi yang katanya 3 x dari remunerasi saat ini, hak mendapat kesempatan pendidikan dan bintek yg tdk jauh beda dgn para hakim dan tentu saja hak utk naik pangkat terus terutama utk panitera pengganti yg notabene pejabat fungsional , walaupun tdk sebesar hak nabi sulaeman yg notabene memiliki kekuasaan lebih besar.bukankah sedekah seorang pemimpin adalah kebijakan dan keputusan yg menyenangkan hati para semut yg notabene kita kita ini
Reply | Reply with quote | Quote
# A.R.Kamea PTA Kdi 2013-03-20 13:34
Karena dikaitkan dg Peradilan Agama tentu beliau Bpk Dirjen mengharapkan agar warga PA mengambil pelajaran/hikma h dari kisah di atas utk diimplementasik an dalam tugas keseharian kita sebagai pegawai PA, siapa yg memerankan Nabi Sulaiman agar menampilkan sosok ala Nabi Sulaiman yg arif,cerdas,sed erhana dan tawadhu'. Sedang siapa yg berstatus ala semut ya.. jangan berprasangka jelek dulu sebab akan kontra produktif. Tapi seandainya tetap kena injak juga ya...mohon maaf GIGIT AJA KAKINYA biar beliau2 sadar. ok?
Reply | Reply with quote | Quote
# M. SYAEFUDDIN, PA.Sgu 2013-03-20 16:43
Ya Allah, semoga di institusiku yang aku cintai Mahkamah Agung RI dan khususnya Peradilan Agama dijauhkan dari sistem "INJAK-MENGINJA K" sehingga seluruh warganya termasuk saya tidak MEDHOLIMI dan tidak DIDHOLIMI". Aamiinnnn...
Reply | Reply with quote | Quote
# A Rahim Upuolat PA Masohi 2013-03-21 06:49
Kapasitas sebagai seorang Sulaiman dan kapasitas sebagai seekor Semut adalah amanah Allah SWT, dan Allah SWT Maha mengatahui kapabilitas masing-masing. sedangkan kapasitas atasan dan bawahan selain amanah Allah SWT juga amanah dari pimpinan. pimpinan seharusnya tahu kapabilitas seorang atasan atau bawahan sedetil-detilny a sebelum memberikan amanah, sehingga tidak asal tunjuk, atau karena suka dan tidak suka, atau karena nepotisme atau faktor X lainnya yg inkonstitusi, sehingga penyimpangan atasan atau bawahan dari amanah itu bukan saja kesalahan penerima amanah tetapi juga keteledoran dan kesalahan pemberi amanah (sang pimpinan), trims.
Reply | Reply with quote | Quote
# s.yanto.tn.PTA-Kendari 2013-03-21 09:25
Jangan remehkan walau hanya seekor semut yg kecil, karena tdk menutup kemungkinan akan dpt menjadi penyebab karier kita terhenti di tengah jalan. Itulah sebabnya kt harus selalu pandai-pandai bergaul dan berorganisasi dg org kecil/staf yg ada di lingkungan/diba wah kita. Semoga kisah Nabi Sulaiman tsb dpt dijadikan i'tibar unt kita semua. amien. Trima kasih P. Dirjen.
Reply | Reply with quote | Quote
# mamat s pa sukabumi 2013-03-21 11:06
Apa yang difirmankan Allah dalam Alqur'an senantiasa membawa renungan yang dalam dan membawa pelajaran yang senantiasa abadi. Kisah Nabi Sulaiman As dan semut dalam kisah diatas, menggambarkan betapa manusia itu tidak harus sombong dengan pangkat, kekayaan dan jabatan, karena semua itu milik Allah yang dititipkan kepada kita. Allah menyuruh kita mensyukuri nikmat itu, dengan cara hablum minallah dan habluminanas agar tercicpta keharmonisan hidup antar sesama makhluq Allah didunia ini,
Reply | Reply with quote | Quote
# abdullah berahim, pta palu 2013-03-21 12:40
cerita di atas sangat baik utk direnungkan oleh pihak, yg tergabung dlm sebh institusi, siapapun mrk, dr mana asal usulnya, apapun jabatannya, semua bersatu dlm kesatuan warga peradilan. dg demikian tdk akan ditemui ada diantara kita org-org yg sombong dan org-org rendah diri dan prustasi. semua merasa memiliki dan berkewajiban memelihara nama baik institusi ini. dan mudah2an jangan ada diantara kita org-org yg akan merusak dan mencemarkan institusi di mana kita mengabdi slm ini. amiiiiiiiiiiiii in
Reply | Reply with quote | Quote
# idrislatif pta jambi 2013-03-21 14:11
Antara seorang Raja dansemut yang kecil, ketika semut merasa kuatir dengan seorag bala tentara raja, maka semut bersembunyi; dua sisi yang saling melindungi filosofi ini jauh kabih mengandung makna kea-rifan, bila mana filosofi ini difahami tentu sanat baik dalam menjalin kerjsama dalam mencapai tujuan, yang lemah dan kuat bersartu padu, maka kebersamaan yang bisa membuat suatu cita cita tercapai ( lanjuutkan cerita baru lagi pak dirjen)
Reply | Reply with quote | Quote
# Mame Sadafal PA Kab.Kdri 2013-03-21 15:31
Nukilan Bapak Dirjen dari kisah monumental bagi umat manusia, khususnya pengikut Muhammad SAW. seharusnya menjadi pedoman, panduan bagi setiap kita aparat PA dalam melaksanakan setiap aktivitasnya terlebih lagi bagi mereka yang diamanahi suatu jabatan.Mari kita kuburkan sifat sombong, takabur dan merasa berkuasa.Semoga
Reply | Reply with quote | Quote
# Drs.Bisman 2013-03-22 13:40
Kehidupan 25 orang Rasul yang dikisahkan oleh Al-Quran sebenarnya sarat dengan nilai-nilai filosofi dan teladan yang baik bagi kita umat islam baik dalam melaksanakan tugas-tugas pengabdian maupun tugas-tugas kepemimpinan.Ha nya saja sebagian kita kurang mau memperhatikan dan memahami kisah-kisah tersebut. Mudah-mudahn tulisan Pak Dirjen menjadi sugesti dan motivasi bagi kita warga PA untuk menggali lebih banyak lagi kisah-kisah inspiratif dari para Rasul Allah tersebut
Reply | Reply with quote | Quote
# Saiful Bahry BADILAG 2013-03-23 08:33
Sebagai "semut" yang berada di BADILAG, saya merasakan kesejukan kepemimpinan beliau selama ini. Insya Allah, kami para "semut" bisa mengambil pelajaran dari tulisan Bapak Dirjen dan menjaga hubungan yang telah terbangun baik menjadi semakin baik, sehingga kinerja BADILAG semakin baik pula.Insya Allah Raja dan semut2 di Badilag dan MARI pada umumnya, tidak akan saling menginjak dan menggigit. Amien YRA.
Reply | Reply with quote | Quote
# HM. NASKA - PA.JAMBI. IA 2013-03-27 11:16
Ass. Ww. Tulisan ini memotivasi saya utk TADABBUR Al-QUR'AN secara lbh serius lagi. Nilai filosofis PUNGUASA vs 'semut' amatlah dalam, tp baru dlm tataran normatif. Dalam tataran aplikatif perlu perjuangan tiada henti utk menundukkan nafsu arogansi, krn merasa memiliki, tdk merasa dititipi. LIKE n DISLIKE secara subyektif kerap mewarnai acara 'bagi-bagi', shg semut pun hrs belajar tahu diri bila tak ada akses ke petinggi. SYUKRAN LAK Pak DIRJEN
yang TAWADHU' n RENDAH HATI. Good Luck...
Reply | Reply with quote | Quote
# syamsoel Qamar,MS.Calang 2013-04-02 10:12
Terimakasih Bapak Dirjen atas tulisannya yang sangat mencerahkan,pes an moralnya mendalam belajar dari tawadhu'nya Nabi Sulaiman dengan segala kebesarannya, namun tetap menghargai makhluk kecil seperti semut. Akan tetapi saat ini saya tidak tahu, apakah saya sudah menempati seperti posisi Nabi Sulaiman ataukah posisi semut.
Tapi bagaimanapun juga, saya selalu berharap andaikata saya memang telah meduduki posisi yang lebih tinggi dari semut, maka saya tidak akan menginjaknya, tapi jika saya adalah semut, mohon saya jangan injak.Semoga kita semua dapat mengamalkannya, amin.
Reply | Reply with quote | Quote
# syahril261@ymail.com 2013-04-04 08:36
semoga kisah tersebut dapat dicermati oleh pimpinan dan bawahan, semuanya harus saling menghargai....
Reply | Reply with quote | Quote
# RS.MS.Aceh 2013-04-04 14:00
Alhamdulillah walaupun sibuk mengurusi warga Peradilan agama se Indonesia ini Pak Dirjen masih sempat membuat tulisan yang sangat menyentuh kalbu ini, diharapkan kepada para pembaca semuanya untuk kita resapi makna tulisan tersebut, Syukran Katsiran Pak Dirjen.
Reply | Reply with quote | Quote
# mulyadi.z pta bengkulu 2013-04-08 14:56
Aplikasi minimal dari tulisan Pak Dirjen adalah wajib diwujudkan bagi aparat peradilan Ing Ngarso song tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Wass.
Reply | Reply with quote | Quote
# Dasma Purba PTA Medan 2013-04-10 08:27
Alhamdulillah Pak Dirjen... semoga tulisan bapak dpt kami pedomani khususnya sebagai "Semut"... Semoga semua yang bapak utarakan dapat kita kerjakan sesuai porsinya masing-masing
Reply | Reply with quote | Quote
# syamsul Bahri PA Sidoarjo 2013-04-12 08:47
Selama pemegang amanah Allah itu berpegang teguh pd apa yg telah diikrarkan maka bukanlah suatu keniscayaan untuk mewujudkannya.. . :-)
Reply | Reply with quote | Quote
# Syamsulbahri PA Mks 2013-04-12 13:45
Semoga wejangan ini dapat kita laksanakan dalam mengembang amanah sebagai aparat peradilan agama di Indonesia... semoga kita sukses Amien...
Reply | Reply with quote | Quote
# RAHMAN 2013-04-13 15:48
pilosufi yg bagus ........
Reply | Reply with quote | Quote
# Muslih PA Medan 2013-04-19 07:02
Besar kecil ciptaan Tuhan adalah i'tibar bagi manusia, ada suri tauladan didalamnya. Subhanallah.
Reply | Reply with quote | Quote
# Misbahul Munir 2013-04-19 13:45
intinya, "laa takhtakir manu dunaka farubbama asalatid damul ibar" jangan sekali-kali kamu pandang enteng orang lain, terkadang jarum yang kecil bisa menumpahkan darah.......
Reply | Reply with quote | Quote
# Misbahul Munir Kupang 2013-04-19 13:48
"Laa takhtakir man dunaka farubbama asalaatid damul ibar" janganlah kamu pandang enteng orang lain, terkadang jarum pun bis menumpahkan darah, kira2 bgt pesan moralnya....... .
Reply | Reply with quote | Quote
# Ansharullah MSA 2013-04-25 15:36
Filosofi ini sangat menyentuh dalam usaha kita terus meningkatkan kinerja kita. Perlu adanya kerjasama antara pimpinan dan bawahan, perlu adanya perhatian pimpinan terhadap kinerja bawahan. Tanpa bimbingan pimpinan bawahan juga tidak berarti, dan tanpa bawahan pun kinerja pimpinan akan mandek. Manajemen kerja kita harus selalu dibarengi dengan ukhuwah islamiyah serta ruhama bainahum, saling berkasih saya antara pimpinan dan bawahan
Reply | Reply with quote | Quote
# RAHMAN 2013-05-07 10:05
Memang sangat diperlukan sifat tersebut selain itu juga hendaknya pimpinan dan karyawan selalu mengkoreksi diri apabila terdapat kesalahan..dan jangan saling mencari kesalahan walaupun kesalahan kecil karena akan berdampak besar bagi kenyamanan dlm kantor
Reply | Reply with quote | Quote
# Marwoto. PA.Sleman 2013-05-07 10:50
subhanalloh. inilah hakekat kehidupan, satu sama lain saling membutuhkan bukan menafikan. Subhanalloh
Reply | Reply with quote | Quote
# ayep sm PA Tasikmalaya / Singaparna 2013-05-16 12:49
Luar biasa sifat itu jika dimiliki warga PA
Reply | Reply with quote | Quote
# hafifi as-sadzaliyah PA-TNG 2013-05-31 09:38
Dari judul : Nabi Sulaiman, Semut dan Pengadilan Agama.

sayang akan menambakan kisah Nabi Sulaiman AS. yang berkaitan dengan keutamanya dalam mengadili sengketa para pihak dengan Putusan yang adil berdasarkan nurani...

Suatu ketika ada dua seorang ibu masing-masing membawa bayinya untuk bermain di ladang, tanpa disadari disana terdapat Srigala hutan yang mengintai kedua bayi tersebut, tidak lama kemudia Srigala mengejar Ibu-Ibu yang sedang membawa bayi hingga meraka kucar kacir lari sampai terjatuh kedua bayi itu dari tangan kedua ibu tersebut.

Dengan begitu Srigala itu leluasa mengambil salah satu bayi itu dan membawanya lari, setelah itu kedua ibu itu kembali menghampiri tempat kejadian itu berharap kedua bayi mereka selamat, sesampainya disana ditemukan satu bayi yang selamat hingga mereka berebut masing-masing merasa kalau bayi yang selamat itu adalah anaknya...

dari permasalah itu kedua ibu itu membawa perkaranya ke Nabi Daud AS, untuk meminta diadili, dan menceritakan kejadiannya, lalu Nabi Daud AS. memutuskan perkara itu seraya berkata " berikan Bayi itu kepada Ibu yang lebih tua usianya " (pasalnya yang dapat melahirkan kembali )

akan tetap iBu yang lebih muda tidak terima dengan Putusan Nabi Daud AS, Hingga mengajukan Banding, dengan membawa perkara itu ke Nabi Sulaiman AS, sesampainya disana diceritakan kembali duduk perkaranya, Dengan kecerdasanya Nabi Sulaiman membuktikan perkara itu dengan naluri kedua ibu tersebut seraya berkata " Tolong ambilkan pisau untuk aku membelah bagi dua bayi ini agar masing-masing mendapatkan bayi ini" sontak kaget Ibu yang muda dan memprotes 'Wahai Nabi Allah tega nya Engkau Ingin membelah bayi ini, Sungguh aku mengalah saja agar bayi ini hidup dan diasuh oleh Ibu yg lebih tua " dengan begitu Nabi Sulaiman AS langsung memutuskan Bahwa Bayi yg selamat itu milik Ibu yang lebih Muda" ( Ibu yang muda menampakan naluri keibuan dan firasat antara ibu dan anak)

Subhanallah... ( kami pahamkan sulaiman, dan kami anugerahkan keutama Menghukumi dan keilmuan al-ayat )
Reply | Reply with quote | Quote
# wafiazkia 2013-06-28 14:40
;-) saya yakin ,,,allah selalu bersama saya
Reply | Reply with quote | Quote
# Muaz PTA. AMQ 2013-07-04 13:55
Semoga kita senantiasa menjadi semut yg pandai bersyukur. Amin
http://badilag.net/components/com_jcomments/images/smiles/normal.gif
Reply | Reply with quote | Quote
# H.Syazili PA Manna 2013-07-08 11:57
Sungguh sangat menarik uraian pak Dirjen tsb,yg dpt kita pahami bahwa Nabi Sulaiman as.adalah seorang yg dianugerhi oleh Allah Swt. Nurilhikmi (adil dan bijak),meskipun beliau memilik khozana Ilmu yg berlimpah, kedudukan yg tinggi, dsb nya, beliau tetap taat, rendah hati tidak sombong. dmk juga semut yg dapat kita ketahui sifat gotong royong, kerja sama dan kebersamaan yg kompak, sifat kordinasinya yg sangat luar biasa. yg patut kita teladani bersama di manapun kita bekerja insya Allah kita akan berhasil. Amin Yra. Tks Pak Dirjenku...
Reply | Reply with quote | Quote
# smoga apa yang ada di dalam cerita nabi sulaiaman n semut bisa terjadi ditempat kami,....tidak ada yang merasa berkuasa dan tidaqk ad yang merasa teraniaya... amin,,,,,, marhaban ya ramadhan ARY... sdk... 2013-07-12 08:23
;-)
Reply | Reply with quote | Quote
# mantap pak 2013-09-25 18:55
:lol:
Reply | Reply with quote | Quote
# Zulkifli S/KMS Lsk 2013-09-26 08:20
Alhamdulillah, Allah masih memberi kesempatan bagiku membaca tulisan Pak Dirjen meski terlambat. Kubaca hari ini, Kamis, 26 September'13 padahal teluh dimuat 19 Maret'13. Makasi pak, semoga dapat kami implementasikan .
Reply | Reply with quote | Quote
# Semut-semut yang tak dianggap 2013-11-04 11:09
semoga dengan adanya cerita ini bisa menjadi motipasi bagi para pemimpin,,,,,, karena masih banyak pimpinan yang masih berbuat se enaknya,,, kalau pimpinan tidak masuk sampai berhari2,,,, tidak apa2,,, coba kalau staf atau honorer,,, pasti udah jadi bola......
Reply | Reply with quote | Quote
# IKi, PA Masohi 2013-11-11 08:53
semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini.
Reply | Reply with quote | Quote
# Dadah Holidah PA Purwakarta 2013-11-12 08:25
Mari kita ambil i'tibar dari cerita tersebut, sehingga kita bisa saling merasa penting satu sama lain laksana bila UANG 10.000 itu teridiri dari recehan 100 bila hilang saja 1 kepng tentu belum dikatakan 10.000 bukan? karenanya setiap satker harus bersatu padu dan utuh agar maju/ sempurna.
Reply | Reply with quote | Quote
# Dadah Holidah PA Purwakarta 2013-11-12 08:27
Mdh2an kt smua bisa mengambil i'tibar dari k8isah tersebut...
Reply | Reply with quote | Quote
# rizki, PA lewoleba 2013-11-12 11:29
semua memiliki bagian masing2... saling menguatkan, mendukung, saling sinergi... tp terkadang masih banyak yang belum menyadari hal itu... semut memang mahluk kecil, tapi perannya besar, nabi Sulaiman adalah nabi yg mulia, tp kemuliaannya terkadang bisa bergantung pada peran sang semut td....moga qt bs mengambil i'tibar
Reply | Reply with quote | Quote
# harisah upuolat 2013-11-25 07:21
Filosofi yang bermakna, moga dapat difahami dan direnungkan serta diaplikasikan dalam perbuatan artinya pemimpin menyayangi bawahan dan bawahan menghormati pimpinan dan saling menhargai satu sama lain,,,,,,
Reply | Reply with quote | Quote
# usman pa solok 2014-02-12 13:45
bekerja dengan hati nurani walaupun pekerjaan berat akan terasa kenikmatannya .......
Reply | Reply with quote | Quote
# Rahmat Bilfagih /Manado 2014-02-19 07:33
menarik tulisannya, terima kasih atas kesediaan untuk tetap berbagi ilmu pak. menunggu tulisan selanjutnya..
Reply | Reply with quote | Quote
# Aisyah Bulian 2014-03-12 07:24
selamat pagi pak, Mudahan2 Kisah yang bapak cerita kan dapat menjadilah renungan dan pencerahan bagi semua pimpinan dan bawahan, Terimah Kasih ada ilmu yang bapak berikan,Semoga ada hikmah dari ceritah yang bapak berikan Kepada kami Semua, saya tungguh Tulisan bapak Selanjut nya,wassalam.
Reply | Reply with quote | Quote
# m. Syukri pa tembilahan 2014-03-27 08:42
semoga menjadi renungan yang baik sebagai pedoman hidup kita. amin.
Reply | Reply with quote | Quote
# kumalasari, pa.Tng..... 2014-04-07 12:20
perasaan sy jadi semut mulu :(...........
Reply | Reply with quote | Quote
Add comment

Hubungi Kami

Gedung Sekretariat MA (Lt. 6-8)

Jl. Jend. Ahmad Yani Kav. 58 ByPass Jakarta Pusat

Telp: 021-29079177
Fax: 021-29079277

Email Redaksi : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Email Ditjen : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Lokasi Kantor

Fanpage