logo web

on . Dilihat: 11154

Saya tidak berani mengemukakan pertanyaan “ada maksud apa datang pagi-pagi ke Badilag?”,  sebab saya merasa kurang etis. Masa, baru saja beliau-beliau datang dari jauh, lalu sudah saya tanya maksud kedatangannya, rasanya kurang sopan.

Saya ingin menjadi pribumi yang baik. Makanya, sebelum beliau mengemukakan maksudnya, saya tidak bertanya maksud kedatangannya. Walaupun obrolan itu tidak mengalir, tersendat-sendat, saya tetap tidak bertanya apa maksud kedatangannya.  Sengaja, tempo ngobrol saya perlambat, untuk memberi kesempatan kepada sang tamu mengemukakan maksudnya itu. Namun,  sang tamupun tidak juga  menyampaikannya.

Setelah sekitar setengah jam kami ngobrol dan sang tamu tidak saja mengemukakan maksud kedatangannya, akhirnya sayapun bertanya. “Barangkali ada yang ingin Bapak sampaikan kepada saya. Silakan,” kata saya.

Sang tamu malah menjawab, “Lha, saya justru menunggu dari Bapak. Kan Bapak kemarin memanggil saya melalui tilpon untuk datang pagi ini. Kata Bapak mau membahas masalah mutasi”.  Begitu kira-kira. Saya kaget sekali mendengar jawaban sang tamu ini.

Sejenak saya berfikir, lalu saya katakan, “Bapak mesti kena tipu orang iseng.  Saya kemarin tidak pernah menilpon dan memanggil Bapak menemui saya."

Masya Allah. Kasihan sekali saya melihat sikap sang tamu dengan pendampingnya setelah saya jelaskan itu. Beliau kecewa dan nampak malu juga. Apalagi setelah saya jelaskan, “Bapak sih nggak buka Badilag.net. Baru saja, 2 hari lalu diberitakan di Front Page Badilag.net, lengkap dengan gambar karikaturnya tentang maraknya penipuan melalui tilpon, yang menjual nama pejabat-pejabat di Badilag dan Mahkamah Agung."

Tadinya saya tidak sampai hati memberi tahu berita di Badilag.net tentang penipuan, kepada sang tamu, sebab mesti akan sangat memukulnya. Tapi, biar saja, “biar jadi pelajaran bagi beliau dan aparat peradilan agama, terutama para pimpinannya, untuk selalu membuka Badilag.net tiap hari”, kata saya dalam hati.

Tampaknya, sang tamu ini dikerjain orang, diminta datang menghadap saya. Saya yakin, tertipunya sang tamu ini tidak menimbulkan keuntungan material bagi sang penipu. Sang penipu tidak mendapatkan apa-apa, kecuali kepuasan telah dapat memperdaya sang tamu. Sang tamu telah rugi uang, waktu, tenaga dan moril, karena malu telah kena tipu.

**

Itulah salah satu contoh nyata, ruginya tidak membuka Badilag.net. Agak mendingan, kerugian dalam kasus di atas adalah kerugian yang “hanya” diderita oleh yang bersangkutan.  Yang lebih tragis lagi, dengan tidak membaca informasi dari Badilag.net, banyak kerugian institusi dengan program-programnya yang tidak jalan atau lambat berjalan.

Kita sudah menghabiskan banyak anggaran, fikiran, tenaga dan waktu untuk membangun situs Badilag.net. Situs ini sudah relatif bagus dan sangat memadai. Tapi, jika situs kita ini tidak  diketahui dan dibuka oleh aparat PA/PTA, terutama para pimpinannya, maka pelaksanaan program atau kebijakan yang selalu dimuat pada Badilag.net ini menjadi lambat jalannya, bahkan menjadi sia-sia. Sayang sekali.

Masih ada pimpinan yang tidak tahu program-program dan kebijakan Badilag secara detail. Lalu, bagaimana dapat melaksanakan program atau kebijakan itu, jika tidak pernah membaca informasi atau edaran dari Badilag.net.  Padahal, sarana dan tenaga yang kita punyai cukup memadai.  Banyak contoh kasus tentang ini yang saya alami.

Seringkali, kalau saya melakukan kunjungan ke PA-PA ditanya banyak hal yang sebenarnya sudah sangat jelas ada di Badilag.net, bahkan berkali-kali diberitakan.

Di antara pertanyaan itu, misalnya, “Pak, di PA kami sudah seminggu SIADPA tidak jalan, padahal itu sangat diperlukan. Petugas kami belum mampu memperbaikinya, bagaimana ya Pak?”. Pertanyaan ini kan menunjukkan bahwa di PA itu tidak pernah ada yang baca berita  tentang Laboratorium SIADPA, Lasykar SIADPA atau Pojok Dirjen tentang “Mereka Bekerja 25 Jam Sehari”, atau “Laboratorium SIADPA, Satu-satunya di Dunia”. Sayang kan, gara-gara itu, sudah seminggu SIADPAnya tidak jalan.

Contoh lain, dalam suatu kunjungan ke sebuah PA, ada yang melapor, “Kami ada anggaran renovasi bangunan, cukup besar. Kami telah mengajukan usulan gambarnya ke BUA dan disetujui. Alhamdulillah, kini  tinggal pelaksanaannya”.  Setelah saya lihat gambarnya, tidak cocok dengan sistem tata ruang “one stop service” yang kita kembangkan. Padahal, anggaran cukup dan tanah masih sangat luas.  Begitu saya tanya pimpinan dan aparatnya tentang berita peresmian PA Tasikmalaya dan PA Sumber, atau Pojok Dirjen yang menjelaskan “Tata Ruang Pengadilan dan Filosofisnya”, Mereka bengong, tidak ada yang tahu.  Masya Allah, bagaimana ini.

Contoh lain, sering kita chek proses perjalanan perkara tertentu di PA tertentu melalui websitenya, seperti yang pernah ditanyakan oleh Pak Atja Sandjaja, Tuada Perdata, dalam forum lokakarya di Jakarta beberapa waktu lalu, saya lihat masih banyak yang datanya tidak update, padahal sistemnya sudah ada dan bagus.

Demikian pula, program “go green” infoperkara.badilag.net dan  program “penghijauan” sistem “SMS Gateway” untuk laporan sidang keiiling, prodeo dan posbakum, setelah saya lihat dengan Tim Badilag di Laboratorium SIADPA, masih banyak yang merah. Artinya laporan-laporan itu tidak atau masih belum dilakukan.

Banyak lagi, berita dan edaran yang sering kita publish di Badilag.net masih belum ditindak lanjuti oleh semua satker dari lingkungan peradilan agama. Setelah dichek, mereka belum mengetahuinya.

***

Oleh karena itu, dengan tidak bosan-bosan saya mengajak, yok kita manfaatkan Badilag.net, dan juga mahkamahagung.go.id, sebagai media informasi dan komunikasi di antara kita, untuk kepentingan pelaksanaan tugas dan pelayanan publik.

Saya sering kali minta, agar di tiap pengadilan agama, kalau perlu, ditunjuk petugas khusus yang selalu membuka situs Badilag.net dan mahkamahagung.go.id, agar tidak ada satupun informasi atau kebijakan yang lolos dari perhatian para pimpinan. Lalu, petugas khusus ini wajib melaporkan informasi dan kebijakan itu kepada pimpinan. Selanjutnya disebarkan kepada seluruh aparat.

Saya senang, kini Badilag.net semakin banyak diminati. Setiap menu, termasuk berita dan pojok dirjen, semakin banyak pengunjung dan komentarnya. Saya mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih.
Namun yang saya harapkan, bukan hanya itu saja. Setelah membaca berita, edaran, pengumuman, pojok atau menu lainnya, para pimpinan dan aparat peradilan agama lalu dapat melakukan penguatan tekad dan tindak lanjutnya secara kongkrit.

Substansi dari berita, pojok dan  menu-menu lainnya itu tidak keluar dari penguatan komitmen dan program pelayanan publik secara umum. Termasuk di dalamnya, kegiatan-kegiatan transparansi penanganan perkara, penataan administrasi perkara dan administrasi umum, pelayanan meja informasi, peningkatan kualitas SDM, peran PTA/MSA, akses terhadap keadilan, pengembangan teknologi informasi dan sebagainya.

Badilag.net juga dapat memperkuat soliditas dan menyatukan persepsi kita. Pesan-pesan yang ada pada situs ini bukan saja top-down, tapi juga bottom up. Kita dapat melihat betapa banyaknya komentar, artikel, tulisan Suara Pembaca atau berita-berita dari daerah, yang juga banyak berisi  pesan-pesan yang disampaikan dari daerah.

Ini menunjukkan bahwa Badilag.net adalah media komunikasi kita bersama: dari kita, oleh kita dan untuk kepentingan pelayanan terhadap masyarakat kita. Mudah-mudahan, ini semua menjadi amal ibadah kita. Amin.

Makanya, sangat disayangkan jika masih ada aparat peradilan agama, apalagi para pimpinan, hakim dan pejabatnya yang masih tidak peduli terhadap eksistensi dan isi dari Badilag.net. Wallohu ‘alam. (WW).

Catatan: Kepada Sang Tamu dan pendampingnya yang saya ceriterakan di Pojok ini, saya mohon maaf. Tidak ada maksud saya untuk mempermalukan Bapak-Bapak. Insya Alloh, identitas Bapak-Bapak tidak menyebar ke mana-mana. Semua orang mesti mempunyai kekurangan, kekhilapan bahkan kesalahan. Mudah-mudahan kejadian itu ada hikmahnya bagi Bapak-Bapak, saya dan juga seluruh warga peradilan agama, terutama setelah saya ceriterakan di Pojok ini. Terima kasih.

Comments  
# syamsoel Qamar,MS.Calang 2013-04-02 09:19
Kejadian yang dialami oleh Pak Dirjen dengan tamunya itu merupakan sebuah kenyataan, karena masih banyak pimpinan PA/MS dan hakim serta pegawai yang masa pansiunannya udah dekat apa lagi yang tidak akrab dengan IT memang tidak banyak tahu tentang program dari badilag. Dan mereka menganggap persoalan mutasi masih bisa dinegosiasi(diu rus). Kenyataan karena ada pegawai yang dipindahkan tidak sesuai dengan keinginnannya.
Reply | Reply with quote | Quote
# Ratna Juita PA, Batusangkar 2014-04-23 07:32
dengan ada kejadian yang begitu merugikan karena tidak tahu, mudah- mudahan untuk seterusnya dan pagi dan sorenya kami buka Badilag Net, jangan sampai ketinggalan atau takicuah di nantarang'ha... ........
Reply | Reply with quote | Quote
Add comment

Hubungi Kami

Gedung Sekretariat MA (Lt. 6-8)

Jl. Jend. Ahmad Yani Kav. 58 ByPass Jakarta Pusat

Telp: 021-29079177
Fax: 021-29079277

Email Redaksi : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Email Ditjen : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Lokasi Kantor

Fanpage