Sidak, Bukan Mencari Kesalahan
*
Mengetahui keinginan, kesan dan kepuasan para pencari keadilan berkaitan dengan pelayanan yang diberikan oleh pengadilan agama adalah suatu hal yang sangat penting, bahkan suatu keniscayaan. Itu mutlak diperlukan.
Tentu, itu kalau kita punya keinginan kuat untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada mereka. Kalau tidak punya niat seperti itu, aparat akan bekerja apa adanya, pelayanan yang diberikan sebatas apa yang biasa dilakukan, hanya sekedar menjalankan kewajiban, dan seperti air mengalir saja. Yang penting bekerja, lalu menerima gaji. Ya, itu saja. Tidak ada greget, tidak ada kepuasan dan tidak ada suatu kebanggaan.
Kepada kawan-kawan di Badilag, saya sering mengatakan, bekerja itu jangan hanya seperti air mengalir saja, jangan hanya seperti biasanya, hanya melakukan rutinitas dan hanya mengerjakan seperti selama ini dikerjakan.
Kita harus selalu punya niat agar apa yang kita kerjakan selalu meningkat kualitasnya dari waktu ke waktu. Niat ini akan menimbulkan konsistensi dan inovasi. Niat ini juga akan melahirkan kreativitas melayani. Tujuannya adalah kepuasan masyarakat pencari keadilan.
Itulah sebabnya, mencari tahu sejauh mana kepuasan para pencari keadilan atas pelayanan yang kita berikan adalah suatu keniscayaan.
**
Mungkin orang mengira, bahwa untuk mengetahui tingkat kepuasan pengguna pengadilan diperlukan suatu survey yang mendalam dengan menggunakan metoda yang ilmiah. Itu benar. Tapi itu kan memerlukan peneliti yang ahli, waktu lama serta dana yang tidak sedikit.
Telah banyak survey dilakukan terhadap kepuasan pengguna pengadilan agama. Di antaranya adalah survey yang dilakukan oleh Asia Foundation dengan nama “Survey on Citizens’ Perceptions of the Indonesian Justice Sector” dan survey yang dimotori oleh Cate Sumner, Australia, dengan nama “Access and Aquity Study”.
Memang, dua survey itu menghasilkan temuan-temuan yang signifikan dan sangat bermanfaat untuk peradilan agama. Dan dari dua survey ini pula lalu muncullah buku “Courting Reform: Indonesia’s Islamic Courts and Justice for the Poor” yang ditulis oleh Cate Sumner dan Tim Lindsey. Buku dan hasil-hasil survey ini sangat menginspirasi peradilan agama untuk berbuat leih baik dan lebih maju lagi.
Jadi benar, survey sangat bermanfaat. Namun, ya itu tadi, sangat mahal dan tidak sederhana.
Saya melihat, untuk mencari tingkat kepuasan pencari keadilan dan untuk meningkatkan pelayanan yang diberikan oleh pengadilan agama, melakukan inspeksi mendadak alias sidak juga sangat efektif. Sidak itu sederhana, murah dan dapat dilakukan oleh siapa saja, tidak harus oleh peneliti yang ahli.
Sidak akan terasa manfaatnya, apabila dilakukan oleh pimpinan di berbagai tingkat, atau staf atas perintah pimpinan. Dan yang lebih penting lagi sidak itu harus ditindak lanjuti oleh para pelaksana, terutama para pimpinan pengadilan agama.
***
Sadar akan pentingnya mengetahui pelayanan yang diberikan oleh pengadilan dan sejauh mana tingkat kepuasan pengguna pengadilan, saya sering kali datang secara diam-diam ke pengadilan agama. Kadang dipublikasikan dan sering pula tidak diberitakan.
Tidak hanya itu, saya sering juga menugaskan pejabat eselon IV atau staf Badilag, yang tidak dikenal oleh kawan-kawan di pengadilan agama, untuk datang secara diam-diam ke pengadilan agama. Mereka harus mengobervasi sikap dan tindakan aparat pengadilan serta menggali informasi tentang pelayanan yang diberikan oleh pengadilan agama.
Informasi itu digali dari para pihak yang hadir di pengadilan, atau bahkan dari masyarakat lainnya, seperti dari amil, pengacara, tukang parkir, penjual makanan, pemilik atau pelayan warung yang ada di sekitar pengadilan.
Saya juga sering, dalam berbagai kesempatan pertemuan dengan dunia perguruan tinggi, meminta mereka untuk ikut memantau jalannya pelayanan dan proses pengadilan.
Semuanya ini dilakukan bukan untuk mencari kesalahan kawan-kawan di pengadilan agama, namun untuk melihat pelayanan apa adanya dan keadaan sebenarnya yang ada di pengadilan agama.
Informasi yang terkumpul lalu didiskusikan di tingkat pimpinan Badilag, lalu diinfokan kepada pimpinan PTA dan PA yang bersangkutan, bahkan dalam beberapa kesempatan diinformasikan pula kepada jajaran pengadilan agama se Indonesia. Hal yang diinfokan adalah menyeluruh, baik hal yang negatif maupun yang positif.
Selalu, kalau saya datang sendiri secara diam-diam, setelah melihat suasana, ngobrol-ngobrol dengan para pencari keadilan dan aparat pengadilan, saya informasikan langsung kepada pimpinan atau para hakim, saat itu juga.
****
Oleh karena itu, saya mengharapkan agar para pimpinan PTA dan PA dapat menindak lanjuti hasil-hasil “sidak” ini dan menjadikannya sebagai inspirasi untuk melakukan hal-hal yang lebih baik lagi.
Saya senang sekali, berita Badilag.net edisi 15 Februari 2012, berjudul “Mendadak, Dirjen Badilag Mengunjungi PA Jakarta Utara”, mendapat perhatian besar dari para pembaca. Ketika tulisan ini dibuat, Ahad pagi (19/2/2012), berita itu tercatat dikunjungi oleh 27.905 pembaca dan memperoleh 98 komentar. Bukan main.
Saya berharap para pimpinan PTA dan PA membaca berita itu, terutama komentar-komentarnya yang sangat banyak dari seluruh Indonesia.
Saya menyadari, setelah menerima masukan dari kawan-kawan, apalagi setelah membaca komentar-komentar itu, tidak mungkin saya sendiri mendatangi satu persatu PA yang berjumlah 359 se-Indonesia. Tapi, dari komentar-komentar itu, terbetik kesimpulan pentingnya suatu kunjungan secara diam-diam. Kawan-kawan di PA pun, setidaknya yang memberi komentar, mengharapkan adanya kunjungan seperti itu.
Oleh karena itu, saya sangat mendukung komentar-komentar yang menghendaki agar Ketua PTA/MSA juga melakukan “Sidak” ke PA/MS di wilayahnya masing-masing.
Saya yakin para ketua pengadilan tingkat banding di lingkungan peradilan agama seringkali melakukan kunjungan ke PA-PA di wilayahnya. Namun, kali ini mungkin perlu pula ada variasi gaya lain, yaitu secara diam-diam.
Sebagai renungan kita bersama, terutama para pimpinan di Badilag, PTA/MSA dan PA/MS, ada baiknya kita simak komentar-komentar pembaca badilag.net itu. Komentar-komentar itu akan memberi semangat para pimpinan untuk bersikap dan bertindak lebih arif lagi, termasuk dalam melakukan kunjungan ke pengadilan.
*****
Inspeksi mendadak (sidak), turun ke bawah (turba), kunjungan kerja (kunker), kunjungan diam-diam (kun-iam?) atau apapun namanya, sangatlah penting dilakukan oleh para pimpinan ke instansi di lingkungannya.
Kunjungan ini adalah bagian dari pembinaan, bukan untuk mencari kesalahan dan tidak memberatkan pihak yang dikunjungi. Kunjungan ini akan sangat bermanfaat jika hasilnya ditindak lanjuti oleh para pelaksana dan dikontrol oleh para pimpinannya.
Lagi-lagi…, perhatian, kesungguhan, kesabaran dan keteladanan para pimpinan sangatlah diperlukan dan sangat menentukan dalam keberhasilan pembinaan. Mudah-mudahan kita sebagai para pemimpin atau calon para pemimpin dapat melaksanakannya. (WW).
| Tanggal | Views | Comments |
|---|
| Total | 1234 | 57 | | Kam. 17 | 1 | 0 | | Rab. 16 | 1 | 0 | | Sel. 15 | 2 | 0 | | Sen. 14 | 1 | 0 | | Jum. 11 | 1 | 0 | | Rab. 09 | 1 | 0 |
|
Comments
Adalah kesempatan yang sulit bagi seorang pemimpin untuk sekedar berbincang-bincang dengan 'akar rumput' di daerah dengan seorang staf atau misalnya, petugas sekuriti, secara bebas di tengah protokoler. Selain itu untuk mengusir 'prasangka mencari-cari kesalahan', memang tepat dipublikasikan hal-hal baik saja yang sudah berjalan, agar dapat dijadikan contoh yang lain. Apa yang tidak baik mungkin lebih baik hanya disampaikan langsung kepada pimpinan yang bersangkutan untuk diperbaiki.
Bagaimanapun 'kunjungan' seperti ini merupakan panggilan yang sulit ditolak oleh naluri pemimpin yang benar-benar ingin mengetahui kondisi dan kenyataan sebenarnya di lapangan. Hampir setiap malam Umar bin Khattab pun melakukan perjalanan diam-diam. Sebagai pimpinan beliau tidak hanya berdiri di atas menara gading.
Klo Tujuannya mmg utk pembinaan, bukan untuk mencari kesalahan dan tidak memberatkan, tentu sangat bermanfaat sekali...,
Tetapi kenyataannya sidak selalu dilakukan apabila ada pengaduan atau ada sesuatu hal, ujungnya ya pasti cari sesuatu....
an semua sudah tertata rapi dan dapat di pertanggungjawabkan. Ini satu kelemahan bila pengawasan/pemeriksaan itu sudah terjadwal. Karenanya sy mendukung penuh adanya sidak/wasdak baik ada masalah atau tidak oleh atasan, lebih-lebih bila itu dilakukan oleh p.Dirjen sendiri. Lain lho bila hal itu diwakilkan, greget nya beda. Kita doakan saja semoga Beliau selalu sehat bisa menyidak seluruh PTA- PA yg ada, syukur-syukur sebelum beliau purna sudah tuntas semua. Amin! Kami tunggu kehadirannya di bumi anoa.
sangat tepat judul tulisan pak Dirjen sidak bukan mencari kesalahan. Bekerja baik dan benar memang tujuan jangan karena "sidak" semuanya direkayasa menjadi baik. Bukankah kita yang sudah mewakafkan diri ini bekerja di Pengadilan Agama untuk mengabdi sepenuhnya kepada tugas-tugas yang diamanahkan? maka dari itu "sidak" masih perlu dilakukan terus sebagai alat evaluasi dan kontrol menuju peningkatan kinerja. Sukses selalu buat pak Dirjen.
Selamat dan sukses terus buat Pak Dirjen. Jayalah Badilag, jayalah PTA/PA dan Jayalah kita semua warga Badilag. Amin !
Sidak dimaksudkan untuk meliha keadaan yang sesungguhnya,tidak ada rekayasa,persiapan,menutup-nutupi.Jadi kalau ada kesalahan ditemukan itu artinya berhasil(akan ada perbaikan).Jadi kalau ada. sidak ya tidak perlu takut,apalagi kalau tidak ada kesalahan ....Waspadalah
Kalau memang demikian definisinya, itu cocoknya hanya untuk pengawasan eksternal saja. Berbeda dengan pengawasan internal, hal-hal baik juga harus diapresiasi untuk memotivasi jika pimpinan memang mengharapkan hal-hal baik terus ditingkatkan (tidak sekedar dipertahankan). Kalau hanya berorientasi bekerja standar, sekedar menghindari kesalahan, maka kita hanya akan berjalan di tempat.
Sidak akan menjadi charger yang "menghidupkan kembali" semangat rasa, karsa dan cipta kita.
Kebanggaan ketika menyaksikan para pemimpin puas dengan kinerja kita, kebanggaan karena kita bekerja dengan sebaik dan sebenar-benarnya.
BTW bagaimana kalau sekali sekali sidaknya dilaksanakan pada Jum'at siang pak?
Senyatanya apa yang digambarkan oleh pak Dirjen ini, ingin mendapatkan gambaran dan fakta langsung dari kunjungan yang dilakukannya secara diam-diam itu. Tetapi sangat disayangkan, kondisi seperti itu tidak digemari oleh para KPTA maupun Direktur-Direktur di Badilag. Mengapa Direktur, banyak surat dan Bimtek yang telah dilakukan, seyogyanya dicek langsung di PA melalui Sidak tsb, apakah telah terpenuhi dan dilaksanakan oleh satker ybs atau belum?
Di lain kesempatan, semua kembali kepada keadaan semula. Maka sidak memang tepat menjadi alternatif. Benar menurut p Dirjen, sidak harus kesungguhan, kesabaran, dan terpenting keteladanan. Tanpa keteladanan dan contoh konkrit dari pimpinan/lembaga yang dijadikan contoh, sidak atau apapun bentuk pengawasan tidak akan memberikan hasil yang diharapkan, karena sidak hanya akan berefek 'ketakutan' saja.
karena hati gak pernah bohong,,,
Setiap ada keinginan baik dalam hati dan langsung dilakukan dg perilaku,,
pasti semua bisa dicapai...
berikan Pelayanan Prima buat Masyarakat Pencari Keadilan,,,SIAPA TAKUT..
Y = F (x)
Ada sebab pasti ada akibat...??
Kita harus selalu punya niat agar apa yang kita kerjakan selalu meningkat kualitasnya dari waktu ke waktu. Niat ini akan menimbulkan konsistensi dan inovasi. Niat ini juga akan melahirkan kreativitas melayani. Tujuannya adalah kepuasan masyarakat pencari keadilan.
Itulah sebabnya, mencari tahu sejauh mana kepuasan para pencari keadilan atas pelayanan yang kita berikan adalah suatu keniscayaan.kami berusaha melaksanakannya Amin