Kamis, 17 Mei 2012 Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
Daftar LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet

RSS Feeder





Login Intranet



Online Support

 
 
 
 



FOKUS BADILAG

BUKU ELEKTRONIK : Sebuah Penilaian atas Website Pengadilan tahun 2011 (e-book version) | (14/05)
PENGUMUMAN : SE Pembinaan Hisab Rukyat April 2012 | (10/5)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Pelatihan Hukum Ekonomi Syari'ah ke Arab Saudi | (10/5)
PENGUMUMAN : Daftar 40 Nama Calon Peserta Diklat Ekosyar, Saudi Arabia, Angk. Ke-2 | (04/05)
PENGUMUMAN : Rumusan Bimtek Kompetensi Hakim PA Angkatan II dan III Tahun 2012 | (24/04)
PENGUMUMAN : Publikasi Informasi Perkara | (23/04)
PENGUMUMAN : Hasil Diskusi Forum Bahasa Arab (MLA Episode III) | (20/4)
PENGUMUMAN : Surat Pengembalian Peserta dan Rumusan Bimtek angkata I | (4/4)
PENGUMUMAN : Laporan Realisasi Anggaran DIPA 005.04 Triwulan I Tahun Anggaran 2012 | (3/4)




Hidup Bersama di Bukit yang Sama (30/1/2012) PDF Cetak E-mail
Senin, 30 Januari 2012 09:03

Hidup Bersama di Bukit yang Sama

*

Sebagaimana biasa, kalau sedang ada di ruang tunggu bandara, saya suka membuka internet, untuk melihat perkembangan situs-situs peradilan agama, mahkamahagung.go.id atau baca-baca komentar yang dipublish pada badilag.net. Malam itupun, (Rabu, 24/1/2012), saya sedang menunggu Merpati yang akan menuju Merauke pukul 21.30, di BNI-Lounge, Bandara Cengkareng. Saya masih punya banyak waktu untuk menikmati free internet yang disediakan BNI untuk para nasabahnya.

Memang, saya senang melihat-lihat internet, khususnya yang dimiliki oleh peradilan agama. Saya merasa bangga atas semangat kawan-kawan dalam mengelola situs yang menjadi kebanggaan mereka. Walaupun dengan keterbatasan dana, sarana dan tenaga, situs-situs di lingkungan peradilan agama sungguh sangat membanggakan.

Dengan segala keterbatasan tersebut, kawan-kawan di lingkungan peradilan agama se Indonesia nampak bersemangat dalam memberikan pelayanan informasi melalui dunia maya, sekaligus mempersiapkan menuju pengadilan yang agung di masa depan.

Saya memaklumi jika updating dari situs-situs itu masih ada yang tidak secepat updating badilag.net. Alasan para pengelolanya macam-macam. Ada yang karena keterbatasan SDM, karena sibuk dengan penanganan perkara, karena hosting yang tidak lancar, atau karena jaringannya yang sangat “lemot”, ditambah dengan listrik yang sering byar-pet. Saya memahaminya, terutama di daerah-daerah (ma’af) terpencil, seperti Merauke.

Bagi saya, melihat semangat kawan-kawan pengelola yang demikian tinggi dan perhatian para pimpinannya yang demikian besar, sudah cukup menyenangkan.

Menurut data terakhir, semua MSy dan PA se Indonesia telah mempunyai situsweb, kecuali 16 PA/MSy yang baru dua bulan diresmikan KMA. PA yang baru itupun, satu dua sudah ada yang mempunyai website sendiri. Saya juga merasakan betapa kawan-kawan se Indonesia telah dapat memanfaatkan kemajuan Teknologi Informasi untuk kepentingan komunikasi dan pelaksanaan tugas lainnya.


Lima tahun lalu, ketika pertama kali saya ke Australia, memimpin rombongan 22 peserta “short-course” tentang pemanfaatan TI di Family Court, saya tidak membayangkan bahwa perkembangan pemanfaatan TI di peradilan agama akan secepat seperti yang terjadi sekarang ini.

Saya masih ingat ketika itu, Kate Wood, Liaison Officer dari Family Court yang selalu mendampingi para peserta, mengatakan di akhir pelatihan bahwa suatu waktu seluruh Peradilan Agama akan dapat memanfaatkan teknologi informasi dengan baik. Rasanya kini ingin saya infokan padanya, bahwa apa yang dia katakan, kini sudah menjadi kenyataan dan bahkan sudah jauh berkembang dari yang diharapkan.

**

Ketika saya membaca komentar-komentar di Cengkareng itu, ada satu komentar yang menarik perhatian saya, dan saya ingin berbagi dengan kawan-kawan se Indonesia, terutama para pimpinan pengadilan agama di semua tingkatan.

Coba kita simak, potongan komentar dari Fahrurrozi Zawawi, atas tulisan saya, “Jadilah Pemalu, Tapi Tidak Bikin Malu”, yang ditayangkan pada tanggal 24 Januari 2012: “Terkadang saya melihat seolah-olah Pak Dirjen hidup di satu bukit dan pejabat-pejabat PA lainnya (tentu tidak semuanya) berada di bukit yang lain”.

Saya tidak tahu persis Sdr. Fahrurrozi Zawawi ini siapa dan dari mana, sebab ia tidak mencantumkan data lain kecuali nama. Hanya saya mempunyai dugaan kuat dari substansi komentarnya, ia adalah warga peradilan agama, seperti kebanyakan para pembaca badilag.net. Saya tidak tahu persis jabatannya apa dan dari mana.

Saya salut, Sdr. Fahrurrozi telah mengemukakan perasaannya secara terbuka, dengan cara kiasan dan menarik perhatian. Saya merasa, dia mengemukakan isi hatinya dengan jujur.

Apa yang dikemukakannya adalah hal yang sangat prinsipil dan perlu mendapat perhatian serius dari saya dan para pimpinan peradilan agama. Ini menyangkut “leadership” yang sangat vital dalam suatu organisasi.

Dari kiasan yang Sdr. Fahrurrozi tulis, saya mempunyai kesan bahwa antara saya dengan pejabat-pejabat PA, walau tidak semuanya, terdapat perbedaan.

Ada beberapa kemungkinan. Mungkin terdapat perbedaan persepsi, atau mungkin persepsinya sama tapi prakteknya berbeda, atau mungkin apa yang diprogramkan atau kebijakan saya di Badilag tidak difahami oleh para pejabat PA, atau mungkin saya tidak bisa menjelaskan tentang program dan kebijakan saya sehingga tidak sampai kepada para pejabat PA, atau mungkin pula saya yang tidak mampu memahami apa yang dikehendaki oleh para pejabat PA.

Saya tidak tahu yang mana persisnya yang dimaksud oleh Sdr. Fahrurrozi dengan kata-kata “seolah-olah Pak Dirjen hidup di satu bukit dan pejabat-pejabat PA lainnya (tentu tidak semuanya) berada di bukit yang lain”. Yang tahu persis adalah Sdr Fahrurrozi sendiri.

Namun, dari konteks dan juga dari masukan yang sering kali saya terima dari warga peradilan, saya yakin, “point”nya adalah bahwa masih ada perbedaan antara apa yang selama ini digaungkan oleh saya dan kawan-kawan di Badilag, dengan apa yang terjadi di PA-PA.

Keadaan seperti itu tidak boleh dibiarkan. Harus dicari penyebab dan solusinya. Visi kita sama, misi sama, wadah sama dan tujuanpun sama. Jadi, idealnya, tidak boleh ada perbedaan yang prinsipil dalam menjalankan roda peradilan agama ini. Tidak baik, satu pimpinan berada pada suatu “bukit”, sementara pimpinan lainnya ada pada “bukit” lain.

***

Yok, kita cari penyebab dan solusinya. Jika penyebabnya adalah perbedaan persepsi, maka tinggal kita satukan persepsi itu. Banyak cara untuk itu. Kita manfaatkan komunikasi dan soliditas kita yang sudah baik selama ini. Kita tingkatkan dialog dalam pertemuan-pertemuan yang sering kita lakukan, baik secara langsung maupun berjenjang.

Tidak kurang pentingnya, kita manfaatkan media yang sudah kita punyai, yang dapat kita lakukan dengan mudah dan murah. Asal kita mau. Media itu adalah website yang kita punyai.

Saya sering mengemukakan dimana-mana, bahwa website yang kita miliki mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Website yang ada pada PA/MS lebih difokuskan kepada pelayanan publik secara langsung, sementara website yang ada pada PTA/MSA difokuskan untuk pembinaan di wilayah masing-masing.

Sedangkan badilag.net lebih banyak dimanfaatkan untuk membangun komunikasi, solidasi dan pembinaan secara nasional. Penyamaan persepsi tentang tugas pokok, pelaksanaan reformasi dan pembaruan peradilan, lebih efektif dilakukan melalui badilag.net.

Oleh karena itu, pada badilag.net tidak hanya ditampilkan berita kegiatan saja, apalagi hanya foto dan keterangan foto saja. Namun lebih dari itu, berita yang ditayangkan tidak hanya sekedar berita. Di balik berita tersimpan pesan-pesan untuk dijadikan pegangan kita bersama dalam melaksanakan tugas. Bahkan pesan-pesan itulah sebenarnya yang ditonjolkan.

Di badilag.net, juga kita tampilkan pesan-pesan para pimpinan dan tokoh kita. Bahkan ruang suara pembacapun, yang notabene mayoritasnya adalah warga peradilan agama, kita sediakan. Di Badilag.net, juga kita siapkan ruang “komentar”, terhadap suatu berita, pojok, suara pembaca bahkan artikel dan lainnya. Ini semuanya dalam rangka menampung asupan dan aspirasi semua warga peradilan agama.

Saya sendiri yang selalu aktif memonitor jalannya badilag.net, tanpa membatasi kreativitas dan improvisasi kawan-kawan redaksi, minta agar komentar, suara pembaca atau tulisan-tulisan yang masuk badilag.net, tidak usah dilakukan sensor, kecuali bahasa dan substansinya tidak etis, seperti mengandung fitnah dan efek yang merusak kehormatan orang dan institusi.

Pendek kata, Badilag.net kita kembangkan untuk membangun kebersamaan, membangun citra dan membangun kinerja. Dengan itu diharapkan, kepercayaan masyarakat kepada kita meningkat dan kebanggaan kita kepada institusi tumbuh dan berkembang. Bukankah kita bangga jika institusi kita dipercaya dan dihormati masyarakat?

Itulah sebabnya, melihat demikian besarnya manfaat badilag.net, saya sangat apresiatif kepada warga peradilan agama yang tidak bosan-bosannya mengakses, membaca, memberi komentar atau mengirim tulisan kepada badilag.net.

Sebaliknya, saya seringkali prihatin, jika aparat peradilan agama kurang peduli terhadap badilag.net, tidak penah membaca atau mengaksesnya. Saya rasanya ingin menyatakan, semua aparat peradilan agama, terutama para pimpinannya, wajib membuka dan membaca badilag.net. Tapi, apakah keinginan saya itu etis, wajar, atau justeru egois dan kurang ajar?

Jadi, kembali kepada adanya perbedaan antara Dirjen dengan sebagian pimpinan PA, seperti dikemukakan Sdr. Fahrurrozi, jika masalahnya karena berbeda persepsi, maka dengan memanfaatkan Badilag.net, perbedaan itu cepat atau lambat akan hilang dengan sendirinya. Insya Allah.

Namun jika perbedaan itu bukan karena perbedaan persepsi, artinya persepsi sudah sama, namun pelaksanaan di lapangan berbeda, saya mengharapkan seluruh aparat dan warga peradilan agama untuk berani melakukan kontrol dan kritik, walaupun kepada pimpinan, termasuk pimpinan Badilag. Kritik dan kontrol yang fokus dan detil sangatlah diperlukan.

Sudah barang tentu, kontrol, kritik dan aduan ini perlu dilakukan secara santun dan arif. Saya dan kawan-kawan di Badilag sudah bertekad untuk memperhatikan kritik dan melakukan perbaikan, jika ditujukan kepada Badilag sendiri.

Namun jika kritik dan pengaduan itu ditujukan kepada Badilag mengenai suatu pimpinan PA/MS atau PTA/MSA, kami juga akan menindak lanjutinya secara arif. Percayalah, saya dan kawan-kawan di Badilag tidak akan membiarkan hal yang negatif itu berjalan terus. Hanya kadang-kadang ada kasus yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat dan ada kasus yang memerlukan waktu untuk menyelesaikannya. Dalam hal ini diperlukan pengertian semua pihak.

****

Selama 2 hari 2 malam saya berada di Merauke, banyak pelajaran yang dapat saya petik dari sana. Saya sempat dipertemukan dengan Bupati, Wakil Bupati dan beberapa pejabat lainnya. Dari informasi mereka dan juga dari kawan-kawan PA, Merauke adalah wilayah di Papua yang paling damai, padahal penduduknya sangat beragam. Kabupaten yang berbatasan dengan 2 negara lain (Papua New Guinea dan Australia) ini, dikenal yang paling aman. Merauke juga merupakan lumbung padi di Papua, punya beberapa pesawat untuk transportasi lokal, dan kesejahteraan rakyatnya relatif paling baik.

Salah satu kuncinya adalah keberhasilan konsolidasi, kebersamaan dan persatuan, terutama di kalangan pimpinannya. Jika di tingkat nasional mempunyai semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, di Kabupaten Merauke punya semboyan “Izakod Bekai Izakod Kai” (Satu Hati Satu Tujuan). Semboyan ini digaungkan dan disosialisasikan sepanjang masa dan di manapun di wilayah Merauke ini. Di mana-mana, di wilayah kabupaten Merauke, kita akan melihat semboyan ini terpampang secara menyolok. Bukan main.

Kalau Merauke yang masyarakatnya sangat plural berhasil menyatukan hati dan langkah untuk menuju satu tujuan yang sama, mengapa masyarakat peradilan agama yang tidak plural masih harus “hidup pada bukit yang berbeda”?. Betapa nikmatnya hidup bersama pada “bukit yang sama” dengan damai, tenteram dan sejahtera.

Oleh karena itu, yuk kita tekadkan kembali menyatukan hati dan langkah untuk mencapai tujuan yang sama, dengan “hidup bersama pada bukit yang sama”, bukit peradilan agama, yang berada di tataran wilayah Mahkamah Agung yang kita cintai.

Terima kasih Mas Fahrurrozi Zawawi. Saya betul-betul ingin mendengar dan dialog dengan anda lebih dalam lagi, dan juga dengan “Fahrurrozi-Fahrurrozi” lainnya di manapun anda berada. Terima kasih. (WW).

 


TanggalViewsComments
Total126669
Kam. 1710
Sel. 1520
Sen. 1450
Ming. 1330
Jum. 1130
Kam. 1030
LAST_UPDATED2
 

Comments 

 
# Asni Falah PTA BDL 2012-01-30 10:03
Semboyan “Izakod Bekai Izakod Kai” (Satu Hati Satu Tujuan) bagi peradilan agama sangat diidamkan oleh pak Dirjen sisi lain ulasan Fakhrurazi Nawawi “Terkadang saya melihat seolah-olah Pak Dirjen hidup di satu bukit dan pejabat-pejabat PA lainnya (tentu tidak semuanya) berada di bukit yang lain” membuat pak Dirjen gelisah. Memang demikian, dengan kritikan dan keinginan yang berbeda membuat kita semakin aktif dan kreatif menterjemahkan persoalan dalam kata, sikap dan tindakan. Insya Allah pak dirjen selalu dalam lindungan dan ridha Allah SWT. Amin.
Reply
 
 
# h. masruri,plk 2012-01-30 10:18
Saya kira memang masih ada rekan yang berada di bukit lain, karena yang aktif di situs situs kebanyakan angkatan muda dan berjiwa pembaharu, sebagian angkatan tua terlebih bila ia ditingkat pimpinan maka tentu suara lebih keras walau sendiri, semoga kita semakin menyatu dalam satu hati dan tujuan,selamat bapak Dirjen semoga semakin maju badilagnet.
Reply
 
 
# Rio PA Sengeti 2012-01-30 10:24
Untuk kemajuan Peradilan Agama ke depan kita harus memiliki tujuan yang sama, walaupun diwujudkan dengan seni yang berbeda-beda, seayun selangkah menuju peradilan agama yang lebih baik, peradilan agama adalah milik kita, milik bangsa Indonesia.
Reply
 
 
# Ali Fikri-PA.Taikmalaya 2012-01-30 10:26
Saya setuju dengan himbauan Pak dirjen "yuk kita tekadkan kembali menyatukan hati dan langkah untuk mencapai tujuan yang sama, dengan “hidup bersama pada bukit yang sama”, bukit peradilan agama, yang berada di tataran wilayah Mahkamah Agung yang kita cintai.Maju terus Pak Dirjen...
Reply
 
 
# umi-PAJB 2012-01-30 11:03
Artikel pak Dirjen lugas, dan sangat menyentuh hati. Beliau sangat menghargai kejujuran. Walaupun pahit kejujuran harus disuarakan. Nah itu yang kadang kita masih kurang berani utk mengatakannya apalagi menyangkut pemimpin kita.Kadang kalau kita jujur bukan persepsi yg berbeda , namun ada oknum yg mencari celah dari kebijakan yg ada, sehingga gemas kita melihatnya.Untung ada website sedikit byk ada penyaluran kegemasan tsb.Maju terus pak Dirjen
Reply
 
 
# s.romlah humaidy 2012-01-30 11:46
Menurut saya program Pak Dirjen sudah sangat bagus terbukti Peradilan Agama banyak yg sudah mereformasi diri untuk menuju peradilan yg agung dan juga sudah semakin dikenal (go public), mungkin saja yg tetap berada di bukit yg lain itu adalah karena reformasi menggunakan IT yg tidak semua orang sanggup dan mau belajar IT sehingga mereka merindukan keadaan masa lampau.
Reply
 
 
# Mame Sadafal - PA Sidoarjo 2012-01-30 11:50
Program yang dicanangkan Bapak Dirjen dari waktu ke waktu telah menyentuh dan menggugah pimpinan pengadilan beserta jajarannya di seluruh pelosok tanah air.
Hal ini telah dibuktikan dengan tingginya respon seluruh PA terhadap penggunaan TI sebab manfaatnya telah dirasakan bagi masyarakat pencari keadilan. Salah satu contoh dengan keterbatasan infrastruktur dan sarana prasarana yang dimiliki kawan-kawan di PA dalam wilayah PTA Papua dan Papua barat telah berhasil ber-rakerda dengan paperless meski jaringan lemot dan listrik byar pet.
akan tetapi tekat dan semangat saja tidak cukup dalam menghadapi perkembangan TI yang serba cepat karenanya ke depan perlu dipikirkan pengangkatan pegawai baru yang berlatar belakang informatika di setiap PA, serta memperjuangkan anggaran TI yang memadai sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan di masa depan.
Reply
 
 
# yuniati faizah PA Gunung Sugih 2012-01-30 11:54
Alhamdulillah kita memiliki pak Dirjen yang sangat sensitif. Yang menjadi pertanyaan lagi adalah, ketika sudah berada pada bukit yang sama tentunya berharap semua memiliki view yang sama. Namun apakah mungkin ya ?? Karena dari sudut yang berbeda, view-nya juga akan beda lagi...
Reply
 
 
# Yusnardi 2012-01-30 11:59
Kalau Merauke yang masyarakatnya sangat plural berhasil menyatukan hati dan langkah untuk menuju satu tujuan yang sama, mengapa masyarakat peradilan agama yang tidak plural masih harus “hidup pada bukit yang berbeda”?. Betapa nikmatnya hidup bersama pada “bukit yang sama” dengan damai, tenteram dan sejahtera.

beranjak dari kalimat ini sy mulai berpikir bahwa pak Dirjen sangat terbuka & akan sangat memahaminya, namun sebelumnya juga sy memohon maaf jika komentar sy ini "mungkin" dapat menyentil beberapa orang.
saya mencoba utk mengungkapkan apa yang sudah terpendam dlm hati saya, krn jika tidak demikian mungkin hal ini akan membuat saya teraniaya oleh sikap diri saya sendiri,shg akan mengikis keikhlasan saya dalam mengabdi.
bahwa bermula sejak keluar SK pengangkatan Cakim V MARI bulan November 2011 saya sudah mulai ragu dengan idealisme & Profesionalisme yang diagung2kan oleh MARI umumnya dan Badilag yang berlatar agamis khususnya.
saya tidak menuduh,namun dlm benak saya terus bertanya "kenapa bisa terjadi ketimpangan yang sangat jauh dlm penempatan salah seorang dari 4 orang CAKIM V MARI pada MS-Banda Aceh khususnya.
awalnya saya mencoba menghilangkan pikiran negatif itu & mencoba menjalani semua ini dg ikhlas "atas pilihan Tuhan" mungkin ini yang terbaik,disamping itu juga saya bersyukur krn isteri ingin mendampingi walaupun hrs meninggalkan pekerjaannya di Banda Aceh yg memiliki penghasilan yg jauh lebih besar drpd penghasilan saya sebagai Hakim,tp setelah beberapa bulan menetap ditempat tugas baru saya mulai kasihan dengan kondisi isteri sbg seorg dokter yang hanya tinggal dirumah krn Pemkab tidak menerima kontrak akibat tidak adanya dana,ia hanya mengandalkan izin praktek yang pasiennya tidak pernah muncul,shg rcnnya yg ingin melanjutkan pendidikan profesi keahlian/spesialis mjd terkendala akibat tidak ada lg penghasilan.
shg sy mulai berpikir yg negatif2 ttg mutasi&kebijakan2 pimpinan ini,akibat kuliah S2 saya yang tinggal Tesis hrs kandas ditengah jln, isteri yg punya cita2 utk mjd spesialis hrs dikubur dlm2 krn tdk ada lg penghasilan sbb mengandalkan penghasilan hakim hanya cukup utk mkn&kebutuhan sehari2, serta dulunya memiliki mobil skrg hnya pakai motor krn uang dr penjualan mobil telah habis utk smua kebutuhan disini yg smua hrs beli lain.
akhirnya singkat kata saya menjadi curiga jika ada sesuatu yg "diperlakukan" shg hal spt itu dapat terjadi dlm mutasi. Utk itu mohon kpd Bapak dirjen selaku pimpinan Badilag utk memerhatikan kondisi bawahan Bapak agar tidak muncul penzoliman, shg keharmonisan & kekeluargaan Badilag semakin lebih baik.
inilah curhat saya & saya siap mjd rakyat biasa jika yang saya katakan ini melanggar kode etik, mengada-ada,apalagi sampai memfitnah.
na'udzubillah.
Wassalam
Yusnardi,S.HI (PA.Mempawah)
Reply
 
 
# Pariman 2012-01-31 09:02
Saya sangat prihatin dengan kisah Yusnardi,S.HI bersama istrinya yang dokter ini. Mohon maaf, kemarin saya hanya sekelebat membaca. Kemarin saya kira tahun pengangkatannya 2001, ternyata 2011. Mungkin setelah menulis 'uneg-uneg' sekian panjang Saudara Yusnardi pasti agak lega. Tapi akan sangat melegakan lagi jika kita mau melihat sangat banyak teman-teman kita di luar sana yang berebut 'sekedar' ingin menjadi abdi negara; akan sangat senang dan sukarela, meski harus menandatangani bahkan 10 kali (di)lipat surat pernyataan bersedia ditempatkan di mana saja. Saya juga ingin bercerita tentang diri saya sendiri, yang ditinggal bersama ibu (ibu rumah tangga) di Sumatera sekian tahun, karena Bapak yang juga hakim mutasi ke mana2, bahkan hingga ke Kupang di masa transportasi tidak semurah kini dan tanpa remunerasi. Hanya sekian bulan sekali kami berkumpul. Mungkin lebih melegakan, kita tidak menganggap dunia tidak adil hanya karena melihat 4 atau 5 orang 'yang beruntung' di depan kita. Semoga apa yang dialami Sdr. Yusnardi akan semakin memupuk kesabaran dan menyuburkan keikhlasan dalam membangun peradilan kita ini.
Reply
 
 
# Teuku Mufardis Shadry PA. Dabo Singkep 2012-02-03 16:51
saya sangat memahami terhadap apa yang telah di ungkapkan oleh saudara Yusnardi, S.HI. karena apa yg dirasakannya juga saya telah lebih dahulu merasakan. dari panjang lebar curhat tersebut. satu pertanyaan yg dapat saya munculkan. APAKAH POLA MUTASI YANG DIJALANKAN SELAMA INI SUDAH SESUAI DENGAN PROSEDUR YANG BENAR..
Reply
 
 
# SQ PA Kla 2012-01-30 12:02
Salut untuk tulisan yang sangat responsif ini. Kalimat paling akhir dari tulisan Pak Dirjen ini cukup jelas mengindikasikan betapa Pak Dirjen sangat welcome untuk menerima masukan dari siapapun terlepas status apalagi jabatan seseorang.
Lebih ekstrimnya, dalam pandangan saya, kalimat tersebut adalah semacam open invitation for everyone who wants to share the reality of PA all around the country to Pak Dirjen.
Reply
 
 
# Muhammad Amin/WKPA Kabanjahe 2012-01-30 12:06
Yth Bapak Wahyu Widiana. Kalau tidak keliru, dalam komentar pak Fahrurrozi, tersirat/memberi kesan: masih ada pimpinan aparat peradilan agama yang "tidak tahu malu" melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Dan, saya mafhum adanya kesan risau pada Bapak dengan kondisi itu dari komentar pak Fahrurrozi. Namun, dari upaya keras Bapak membina kami (aparat peradilan agama), agar menjadi yang terbaik, tidaklah mengurangi nilai keikhlasan dan kerja keras Bapak. Upaya itu sangat bernilai strategis, baik bagi institusi maupun secara personal. Semoga tetap semangat! Allah Swt tetap bersama Bapak dan keluarga dalam menghadapi tugas-tugas berat.
Reply
 
 
# Muhtar-PA,Merauke 2012-01-30 12:39
mari mendukung penuh program pak dirjen dalam hal peningkatan kinerja berbasis IT... jangan beralasan koneksi jaringan atau SDM sehingga mundur bahkan anti terhadap IT...... belum terlambat untuk berbenah.....
Reply
 
 
# ahid,Lampung 2012-01-30 12:40
prediksi saya sdr Fahrurozi mengemukakan kondisi real di tempat kerjanya, substansinya adalah dukungan finansial dari pimpinan tempatnya bekerja sangat minim dan ini persoalan klasik, mudah-mudahan prediksi saya salah. wllahu'alam bishowab.
Reply
 
 
# maharnis PTA Jayapura 2012-01-30 12:44
Tidakada masalah berat yang tidak dapat diselesaikan itu kata purwadarminta dalam kamus indonesianya adanya perbedaan pendapat dan persepsi dalam pelaksanaan tugas sehari-hari itu wajar dan soal biasa semuanya bisa diatasi baik melalui komunikasi langsung, melalui internet (badilag net) bisa dilakukan untuk mewujudkan kebersamaan. untuk itu yuk kita aktif memamfaatkan badilag net sebagai sarana peemersatu daloam rangka mengurangi perbedaan terutama dalam melayani masyarakat pencari keadilan di semua nusantara NKRI ini
Reply
 
 
# Hardinal PTA Jypura 2012-01-30 13:11
Saya menilai uraian tulisan Bapak Dirjen pada pojok kali ini agak lebih panjang dan lebih detail dari biasanya. Hal ini menunjukkan betapa besar keinginan Beliau untuk menghalau ketidak "Izakod Bekai, Izakod Kai" di antara dan sesama kita dalam masa-masa membangun Peradilan yang Agung. Semoga kita berpacu dalam kesamaan forever. Terimakasih Bapak Dirjen.
Reply
 
 
# Chrisnayeti, Badilag 2012-01-30 13:32
Kalau gitu jadilah lilin dari pada mengutuk kegelapan. Karena masalah pasti ada dimana kita berada, perbedaan juga merupakan bumbu dalam kebersamaan. Tapi bila tidak cepat diobati bisa-bisa harus diamputasi... jadi ayo kita sama-sama menyelaraskan langkah pelan tapi pasti....
Reply
 
 
# Tatang Std PA Smrda 2012-01-30 13:44
Tidak ingin berubah dan stagnasi mempertahankan kebiasaan yg telah ada sehingga bukit itu tetap gersang dan tandus, meskipun Pak Dirjen telah memberikan teladan menjadikan bukit yang subur, rindang dan sejuk memberikan kemanfaatan bagi semesta
Reply
 
 
# itna- PA.Gng Sugih 2012-01-30 14:15
Dinamika pola kerja n mindset yang patut ditengarai oleh Pak Dirjen..mencapai tujuan mulia dg menyatukan persepsi,tekad, kerja keras dg hati yg ikhlas serta memberi kenyamanan n kesejahteraan lahir bathin bagi semua aparat peradilan agama....
Reply
 
 
# MARWOTO. PA. Kalianda 2012-01-30 14:15
membaca tulisan pak Dirjen di atas bagi warga PA kayaknya wajib atau setidaknya sunah muakad kali, biar gak ada senjang, gap diantara kita, terutatama pimpinan satker di daerah, yang kadang masih ada yg bergaya raja kecil, melaksanakan program seadanya belum sepenuh jiwa, meskipun telah kenal pepatah "man jadcda wajada". trimakasih pak Dirjen yang telah mengajarkan kearifan dalam menyampaikan sesuatu kepada kami
Reply
 
 
# Paskinar S PTA Jpr 2012-01-30 14:26
:lol: Betul Pak Dirjen kita perlu mengkaji dan menelusuri lebih dalam lagi kenapa masih ada warga kita yang masih ingin hidup menyendiri di bukit lain sementara Bpk di bukit lain. Seharusnya kita satu perahu dan Pak Dirjen sebagai nakhodanya. Jangan2 orang yang berbeda itu salah perpsepsi dan salah memandang. Seperti 4 orang buta yang menafsirkan seekor gajah. Kata si buta pertama, gajah adalah seperti tiang, karena yang dia pegangnya adalah kaki gajah. Kata sibuta yang kedua, gajah adalah seperti nyiru/tempayan, karena yang dia pegang adalah telinga gajah. Kata si buta yang ketiga gajah itu seperti dinding tembok, karena yang dia pegang adalah badan gajah. Kata si buta yang keempat gajah itu seperti sebatang kayu, karena yang dia pegang adalah gading gajah. Karena berbeda pandangan itu makanya terjadi perpedaan pendapat. Kepada yang berbeda pendapat dan pandangan kita himbau dan kita panggil mari kita menyamakan persepsi dan pandangan. Mudah-mudahan website atau Pojok Pak Dirjen ini dapat menyamakan persepsi kita sehingga kita dapat menjadi satu hati dan satu tujuan "Izakod bekai, izakod kai."
Reply
 
 
# m.Tobri-PA Kuningan 2012-01-30 14:30
Betapa nikmatnya hidup bersama pada “bukit yang sama” dengan damai, tenteram dan sejahtera. suatu harapan yang mudah-mudahan bisa diwujudkan di badan Peradilan, khususnya Badilag. kalimat yang mempunyai makna yang tersirat, penafsirannya berbeda-beda. apalagi untuk merealisasikannya akan menghadapi belokan dan belokan, juram yang terjal, apalagi kalau bukitnya bukit yang gundul, siap-siap kena air hujan, yang bisa menimbulkan longsor, dan malapetaka bagi yang lain. mudah-mudahan bukitnya dipenuhi pohon yang subur, dan akarnya kuat sehingga bukitnya meberikan manfaat bagi penduduk sekitarnya.
Reply
 
 
# M.Daud PA Negara Kalsel 2012-01-30 14:50
Curahan hati dari Fachrurrozi telah ditanggapi dgn sangat bijak oleh pak Dirjen, curhat dimana menurut dugaan saya adalah akibat kebijakan terdahulu yang dpt saja tdk obyektif (apalagi menyangkut mutasi). Tapi saya yakin ke depan tanpa dialogpun, apa yang dirasakan oleh Fachrurrozi tsb akan sirna dgn sendirinya jika sistem yang dibangun oleh Badilag berjalan dengan baik.
Reply
 
 
# Masrinedi-PA Painan 2012-01-30 15:00
Ya Pak Dirjen, semoga Kita Hidup Bersama di Bukit yang Sama sehigga panas, dingin, kering, basah dan hujanpun sama-sama dirasakan oleh kita warga Badilag. Kalaupun ada perbedaan mari sama-sama kita cari titik persamaan dalam rangka mengGOLKAN PA ke serambi Dunia. Amin !!!
Mari kita sukseskan peringatan 130 tahun PA.
Semoga momentum peringatan 130 tahun PA menjadi pintu gerbang BADILAG menuju serambi DUNIA. AMIIIIN!!!!
Reply
 
 
# iva 2012-01-30 15:01
sudah hukum alam kalau ada bukit ada dataran, ada atasan ada bawahan. kadang adanya bukit2 hijau di hamparan akan membuat indah dan dapat memberi kesejukan di dataran luas, begitu seharusya tabiat seorang pemimpin dapat memberi pengayoman kebawahannya :-),jadi antara bukit2 itu tidak menjadi jurang pemisah.
Reply
 
 
# Abu Syamuel 2012-01-30 15:15
Tentang "Bukit", sy langsung teringat sejarah historis Abadi Nabi Ibrahim (vide Q.S. al-Baqarah:260)...berdasarkan ayat ini, menurut kami, banyaknya bukit (gunung) tidak bs dihindari, ada Gn Krakatau di selat Sunda, Gn Puncak Jaya d Papua, Gn Bawakaraeng d Sulawesi, Gn Leuser d NAD, Gn Gamalama D Maluku Utara, Gn Bukit Raya di Kalimantan...Dirjen Badilag lah yang diberi amanah untuk mengorganisir SDA/SDM dari berbagai gunung tersebut...! analogi burung dari gunung yg berbeda pd ayat di atas, menurut sy, dpt diterapkan dalam organisasi Ditjen Badilan...siapa pun "Ibrahim"nya....?...semoga bermanfaat bg Peradilan Agama ke depan :lol:
Reply
 
 
# Asyrof - PA Manna 2012-01-30 15:29
Semoga para pimpinan dan kita semua bisa mengambil hikmah dari gunung (bukan sekedar bukit) yang sama, sehingga dengan komunikasi dan konsolidasi yang intens kita tidak akan membenarkan yang biasa, tetapi membiasakan yang benar.
Reply
 
 
# Al Fitri - PA Tanjungpandan 2012-01-30 16:02
Barangkali sudah selayaknya pimpinan peradilan juga meniru gaya kepemimpinan pak Dirjen sehingga berada di atas bukit kebersamaan....
Reply
 
 
# Alamsyah PA Sengeti 2012-01-30 16:09
Jiwa dan penafsiran pak dirjen inilah yang harus dipraktekkan oleh semua pimpinan pa/msy di daerah, mampu memahami dan menghargai kritik sekalipun terasa pedas. seorang pemimpin haruslah paham akan segala potensi yang dimiliki orang-orang yang dipimpinnya, dengan begitu akan semakin bermunculan potensi-potensi positif yang membangun kemajuan peradilan agama
Reply
 
 
# Alamsyah PA Sengeti 2012-01-30 16:16
pemikiran yang dimiliki pak dirjen ini emang harus ditiru semua pemimpin yang di bawah, mampu memahami kritik sekalipun butuh penafsiran dan pemikiran yang lebih serta terkadang kritik itu pedas.
Reply
 
 
# yanto PTA Jogya 2012-01-30 17:06
Perkembangan IT diperadilan Agama sangat pesat sekali dan lebih baik lagi bila semua pimpinan meluangkan waktu untuk masuk dalam dunia maya serta perhatian penuh pada perkembangan websitenya. Insya Allah kita dapat bersama-sama dengan Pak Dirjen dalam taman dunia maya yang sangat indah
Reply
 
 
# Mangudin PA Krui 2012-01-30 18:14
Visi dan Misi MARI 'n DITJEN BADILAG dan Peradilan yang ada dibawahnya sudah jelas, keanekaragaman dalam tataran implementasi itu manusiawi sepanjang tidak menyimpang secara subtansi. Lompatan-lompatan yg telah dicapai oleh Dirjen Badilag sebagai lokomotif membawa gerbong Peradilan Agama dari peradilan tradisionil menjadi Peradilan Modern sudah nampak, bahkan sudah mendunia kok, itu juga berkat TI. Ya jk masih ada yg belum mampu mengikuti era perobahan tersebut dengan sendirinya akan tergilas.
Reply
 
 
# Syekh Sanusi PA.Jakbar 2012-01-30 22:45
saya sungguh sangat terharu mbaca pengakuan dan ketulusan Bpk Dirjen atas kritikan atau saran dari para komentator. tipologi sprti Bpk Dirjen inilah sbnrnya pemimpin peradilan agama yg kita cari...
klu mnurut sy sindiran pak fahrurozi itu soal klasik tp nyata, mgkin sktr ksjhtraan.. dan itu sgt manusiawi. Bpk Dirjen jg btul krn seorang pemimpin hrs mberi motivasi dan contoh yg baik....oky
Reply
 
 
# Ronny Setiawan - PA Dabo Singkep 2012-01-30 23:25
Setitik pelita di kegelapan tentu akan sangat berharga jika kita mampu memaknai dan mensyukurinya...
Reply
 
 
# ayep sm PA Tasikmalaya 2012-01-31 05:39
Perbedaan pasti akan ada, tantangan psti akan ada, pro kontra pasti akan ada, karena itu, yang pro jangan jadi malah terbuai, dan yang kontra justeru jadikan pemicu untuk kita introspeksi, berkreasi, dn mencari penyebab orang kontra, tapi yakin dengan beragamnya komentar ini adalah antusias orang PA yang harus kita syukuri, di lembaga lain tidak secepat dan sepesat ini, karena itu maju terus dan lebih giat lagi di tahun 2012 ini.
Reply
 
 
# Kamali SINGARAJAPA 2012-01-31 06:29
Kita semua pasti BERHARAP semoga Pak Direktur Jenderal tetap akan energic dan selalu Uswatun Hasanah, namun kita harus ingat bahwa semua itu ada masanya, umur ada batasnya, pegawai ada pensiunnya, lantas siapakah kelak yang akan menjadi Penerus yang se LEVEL dan SELUAS WAWASAN dan jangkauan KEMAUAN seperti beliau ??..
Smoga di BADILAG sudah banyak pak Wahyu Pak Wahyu lainnya yang siap untuk membesarkan dan meneruskan cita-cita peradilan Agama khususnya dan peradilan di Indonesia pada umumnya.
Syukron wal'afwu
Reply
 
 
# Abdul Malik PA SoE 2012-01-31 07:48
Ketika terjadi perbedaan maka tentu salah satunya ada yang lebih baik, maka renungkan kembali, dan apabila terjadi persamaan maka saatnya untuk melangkah maju ke depan secara bersama-sama, untuk menggapai cita-cita yang agung.
Reply
 
 
# udinmyxtr 2012-01-31 07:51
hal-hal seperti ini sebaiknya tidak diungkap ke publik, soalnya bisa dipahami bahwa badilag tidak solid. Bisa jadi sasaran tembak yang empuk. walaupun disisi lain ada juga maslahatnya.
Reply
 
 
# basyirun maha. pa. sidikalang 2012-01-31 08:46
Melalui tulisan dan ukiran pak Dirjen menuju bukit yang sama semoga mendapat kesuburan yang sama dan sama2 menguntungkan dan membuahkan langkah yg pasti...
Reply
 
 
# aisyah 2012-01-31 08:54
Dengan adanya saran atau kritik berarti pembaca badilag.net cukup perhatian dan antusias dengan apa yg telah dimuat di badilag.net ini. Semoga kritik dan saran itu menjadi cambuk bagi warga Peradilan Agama agar lebih solid dan kompak demi kemajuan kita bersama dan mencapai cita2 menjadi Perdilan yg Agung.
Reply
 
 
# Mirwan-PA Bitung 2012-01-31 08:54
Yang namanya Makmum wajib mengikut imam, bila imam salah maka kewajiban makmum pula untuk mengingatkan agar sholat tetap sah..
Reply
 
 
# rohimah pagrt 2012-01-31 08:55
atas dorongan himbauan/anjuran pk dirjenlah alhamdulillah kami bisa mengikuti berita2 pengumuman dll melalui web ini kami dukung dan terus berjuang tuk peradilan agama yg kita cintai ini.
Reply
 
 
# H. Abd.Rasyid A., MH. PA-Mojokerto 2012-01-31 09:02
"Bersatu kita mampu", "Bersama kita bisa". Mari kita pegang teguh prinsip ini. Insya Allah segala kekurangan dan rintangan selama kita punya komitmen yang kuat, kita akan mengatasinya dan kita akan raih keberhasilan dan kesuksesan. Tetaplah semangat saudara-saudaraku di Tanah Papua. Pulau Irian burung cenderawasih, cukup sekian dari terima akish.
Reply
 
 
# Imas-Pandeglang 2012-01-31 09:50
Membaca tulisan pak Dirjen menggelitik hati saya untuk menanyakan sampai sejauh mana peran Badilag khususnya dalam menilai peran aktif tenaga honorer dalam rangka membangun kebersamaan, membangun citra dan membangun kinerja, karena banyak juga peran aktif mereka dalam hal tersebut, terutama dalam IT dan pengembangan SIADPA Plus di satkernya masing-masing, ini terjadi kadang-kadang dianggap "anak tiri" karena statusnya.
Reply
 
 
# Darul Fadli - PA Muara Sabak 2012-01-31 09:54
Terenyuh membaca komentar sodaraku Yusnardi (Hakim PA Mempawah - PTA Pontianak). Saya hanya bisa berdoa semoga saodaraku dan keluarga ada dalam lindungan Alloh SWT. harapan lebih dari tulisan ini, semoga bukit yang dimaksud tidak hanya dalam hal teknologi informasi, karena TI bukan satu-satunya parameter. bahwa dibalik itu ada hal lain yang sangat mendasar, seperti yang dialami oleh saodaraku Yusnardi, dan hampir dapat dipastikan itu dialami oleh seluruh Hakim. Semboyan “Izakod Bekai Izakod Kai” = Satu Hati Satu Tujuan semoga dapat terwujud. Semoga Pak Dirjen senantiasa sehat serta selalu berada dalam lindungan-Nya. amin.
Reply
 
 
# Mawardi Lingga Wk PA Sidikalang 2012-01-31 10:23
Memang benar antara pimpinan PTA/PA/Masya dengan Dirjen Badilag berada di bukit yg berbeda namun visi dan missi kita sama namun sering berbeda persepsi dlm menyukseskan visi dan missi tsb, karenanya kami doakan smoga pak Dirjen tetap sehat, sabar dan sukses sbg derijen (pemimpin suatu konser) sehingga dari yg berbeda tsb dapat menghasilkan nada yg harmoni dan menarik.
Reply
 
 
# adi irfan PA Waingapu NTT 2012-01-31 10:25
sebagai warga peradilan agama saya sgt mengapresiasi pak Wahyu..bnyk yg dilakukan pak dirjen utk kemajuan peradilan agama, meski demikian tentu tdk luput dari kekurangan terutama sekali yg saya lihat pada masalah mutasi, salah satu contoh ditempat saya ini yg tranportasi tergolong sulit msh ada rekan hakim yg sdh 4 tahun blum mutasi, smg kedepan hal ini mnjdi perhatian pak dirjen, pola2 siapa yg IP alias ilmu pendekataan kpd pejabat lbh berpeluang utk segala2nya lbh diminimalisir. wallahu musta' aan...
Reply
 
 
# mukti-pa.manokwari 2012-01-31 10:30
salut untuk pak dirjen....mohon diperhatikan reformasi manajemen birokrasi berbasis beban kerja di lingkungan PA. karena masih banyak PA yang perkaranya banyak tapi tenaganya sedikit sebaliknya perkara sedikit tapi tenaganya banyak.
Reply
 
 
# Ridho PA Sidikalang 2012-01-31 10:35
semua itu adalah cara berpikir dan cara pandang, ketika sesorang melihat sesuatu dari satu sudut saja, maka ia tidak tahu bahwa ada sudut lain yang ternyata dapat membawa suatu pemikiran dan cara pandang yang sangat berbeda, maka dari itu pandanglah sesuatu secara keseluruhan (komprehensif), dan tampaknya pak dirjen menyikapi komentar dari sdr. fahrurozi secara utuh, sehingga beliau menerimanya dengan terbuka, for my brother seperjuangan, sdr, yusnardi, ane sangat salut atas pengorbanan yang sdh ditempuh, tetapi yakinlah bahwa allah akan memberikan lebih banyak lagi jalan untuk membalas pengorbanan itu, bahkan dengan yang lebih baik lagi, amiin. ingat bro dengan mutasi ini insya allah dapat membuka pikiran kita sehingga kita tidak seperti katak dalam tempurung yang hanya tahu tempat itu-itu saja, dan membuat kita dapat beradaptasi dengan lingkungan yang baru, dan dapat lebih berkembang. seperti anak panah yang meninggalkan busurnya untuk melesat jauh menuju sasaran kemenangan. njuah-njuah bah dari tanah sidikalang kab. dairi (pak-pak barat)
Reply
 
 
# Misbah-PA.Purwakarta 2012-01-31 11:14
Satu hati dalam menuju satu tujuan, diperlukan kesadaran lebih dari semua warga peradilan Agama.
Reply
 
 
# MROISAR PAKDR 2012-01-31 11:23
Membaca keluhan Mas Yusnardi diatas sy kok jadi ingin ikut berpesan " Ya sabar ta Mas" karena yang senasib seperti anda itu mungkin banyak cuma beda ceritnya. Jika anda bersabar Insyaalloh akan diberi jalan yang lebih baik. Mudah2an. Amin.
Reply
 
 
# Mazharuddin_Balige 2012-01-31 11:39
Hidup bersama dgn damai dalam satu dunia...,
smg Badilag mjd uswatun khasanah bagi dunia peradilan lainnya...
Reply
 
 
# Firda, PA TB 2012-01-31 13:25
Selamat dan sukses buat Pak Dirjen, mari kita hidup bersama di bukit berbunga, smg hidup kita lebih indah, seayun selangkah utk kemajuan warga Peradilan agama dan tetap bersatu....amin.
Reply
 
 
# Nursal-PA Muara Bungo 2012-01-31 15:00
perkataan yang mengandung majaziah, tentu memeliki penafsiran yang tentunya ada maksud tertentu dari sang penulisnya,, tetaplah yakin bersama Pak Dirjen insya Allah kalau perlu di bukit berbunga dalam kebersamaan.
Reply
 
 
# # Zaenal Badilag 2012-01-31 15:03
satu hati satu tujuan itu idealnya, tp untuk mencapai itu smua pasti ada hambatan yg harus ditempuh,,terlebih lg untuk PA-PA didaerah yg notabennya terpencilnya dan sgt sulit terjangkau serta dgn sarana dan prasarana yg kurang memadai,,,pasti byk kendala yg mereka hadapi,,yg sdh pasti mrk sendiri yg tau,,sebagai contoh kecil, kejadian yang saya alami ketika berkunjung ke PA gorontalo ketika memonitor meja informasi dan pelayanan publik,,saya merasa prihatin dngn keadaan gedungnya yg hanya berukuran kurang lebih 300 m tetapi disatu sisi mrk hrs menerapkan program yg diterapkan badilag,,sehingga mreka berprinsip untuk menanamkan program tersebut semaksimal mungkin serta menerapkan didlm hati mrk masing2 krn sngt sulit utk diterapkan digedung yg sngt kecil,,jngnkn untuk memisah antara aparat keadilan dgn pencari keadilan agar terhindar dr hubungan yg tdk proporsional, untuk ruang tunggu pencari keadilan saja hrs bedesak desakan,,bagi saya ini pelajaran yg sngt berharga,,bahwa setiap program yg badilag terapkan belum tentu bs mereka terapkan sepenuhnya,,ini disebabkn bukan karena mereka tdk mau tetapi krn ada faktor2 lain,,inilah yg hars kita pikirkan bersama serta solusinya,,dan hrs ada keterbukaan tersendiri dr PA-PA didaerah untuk mengemukakan hambatan2 yg mrk alami agar dr pihak pusat bs membantu untuk mencari solusi dan duduk bersama-sama untuk mencari jalan terbaik untuk kemajuan bersama,,jngn ada kata malu untuk menceritakan hambatan yg kita alami, terutama untuk PA-PA didaerah apalagi untuk kemajuan bersama,,smoga kedepannya kita smua bs menjadi satu hati dan satu tujuan,,amin
Reply
 
 
# Herman , PA Krui 2012-01-31 15:41
Apa yang diungkapkan oleh Mas Yusnardi mungkin adalah pendapat karena masih banyaknya pengadilan2 yg masih tertinggal dan belum dapat menjangkau seperti apa yg dicanangkan oleh pak Dirjen atau mengikuti seperti apa yg diharapkan oleh Pak Dirjen, tetapi saya yakin dan percaya walaupun kita berada di bukit yg jauh dari Pak Dirjen Beliau akan senantiasa mamantau dan meneladani kita dari tempatnya..
Reply
 
 
# H. Asril. 2012-01-31 15:44
Petua kita telah bilang dan rasanya sampai kapanpun masih akan tetap akan terpakai istilah itu " Kebukit sama mendaki, Kelurah sama menurun, Kemudik serangkuh dayung, ke hilir serentak galah, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing" dan lain-lain ungkapan kebersamaan yang semestinya dilakukan dalam setiap urusan bersama apalagi bagi orang-orang yang punya visi dan misi yang sama dalam mencapai tujuan yang sama. smoga kedepan kita lebih kompak dan sepaham dalam meujutkan peradilan yang agumg dibawah Payung Mahkamah Agung yang sama-sama kita junjung....
Reply
 
 
# amboasse@rocketmail.com 2012-01-31 19:16
"Pak Dirjen telah membangun bukit yang indah,sebagian KPA masih ada dibukit lain" sebenarnya pak Dirjen hampir setiap saat mengajak menyatu dibukit yang sama (Bukit Indah) itu, TETAPI mereka tidak dapat hidup dibukit yang indah, karena dibukit indah penuh Teknologi Informasi, keterbukaan, kejujuran dan kearipan, sementara mereka tak mampu menggunakan sarana bukit indah itu, karena menderita penyakit TBC (Tidak Bisa Compuer)sehingga tidak tahu menggunakan PC Computer atau Lap Top, lebih-lebih membuka internet, membuka wesite Badilag/peradilan agama lainnya,sehingga kehidupan tradisionil, penuh kegelapan, telah menjadi kebiasaan bagi mereka, olehnya itu Pak Dirjen tidak usah gelisan dengan istilah si Fakhrorrozi itu, regenerasi kita terus berjalan mereka akan tertinggal dan tergilas gemerlapnya teknologi modern, ujung-ujungnya akan menyatu dalam bukti indah yang pak Dirjen bangun.-
Reply
 
 
# Noprizal-PA Bangko 2012-02-01 06:12
Luar biasa, tulisan yg sungguh memiliki makna. Saling merasakan, dan memahami realita yg terjadi di bawah, tentunya akan menjadikan sumber evaluasi utk perkembangan ke depan,,,bravo Peradilan Agama
Reply
 
 
# subhan PA Kuningan 2012-02-01 07:27
Hati yang menyatu dapat memudahkan pencapaian visi, misi dan tujuan kita. Karena itu kita harus selalu mentajdidkan niat mengabdi di peradilan ini.
Reply
 
 
# Ulfa Fithriani-PA.Soe 2012-02-01 08:25
idealnya adalah pak dirjen bersama seluruh aparat peradilan berada dalam 1 perahu, ketika berlabuh juga pada satu bukit yang sama, namun semua perjuangan tetap ada tantangannya sebagaimana nabi nuh jug mendapat tantangan dari keluarganya sendiri ketika diajak naik ke perahu nabi nuh, yang penting KERJA KERAS dan DOA untuk yang terbaik karena ALLAH hanya melihat pada sejauh mana usaha kita...Semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan Umur panjang kepada pak Dirjen dan memberkahi kebaikan kepada seluruh pimpinan kita serta jajarannya, sehingga apa yang menjadi cita-cita untuk mewujudkan peradilan yang agung dapat tercapai untuk kita semua. amin...BRAVOOO....!!!
Reply
 
 
# M.Yusuf Waka PA Kendari 2012-02-01 10:08
Semboyan Merauke "Izakod Bekai Izakod Kai" satu hati satu tujuan.tidak ada salahnya dijadikan sebagai pemicu semangat untuk membangun Peradilan Agama.Seruan perubahan oleh Mahkamah Agung itu bisa dicapai kalau kita satu hati satu tujuan sebagaimana pula ajakan pak WW pada akhir tulisan ini.
Reply
 
 
# Ali Mhtrm@PA Tj. Redeb 2012-02-01 15:29
Beda pandangan dan beda persepsi itu wajar, yang terpenting bisa menyatukan pandangan dan dalam tujuan memajukan peradilan Agama.
Reply
 
 
# Hatta Chano 2012-02-01 16:02
Luar biasa, Ide Kecil dari sahabat Kami "FAHRURROZI" memberikan inspirasi yg luar biasa kepada Pa. DIRJEN dlm menggambarkan begitu luarbiasanya Masyarakat Peradilan Agama yg berkarakter. Sadar ataupun tidak itulah gambaran Masyarakat PA Sekarang. " Bagi saya keberadaan kita baik itu di satu bukit atau dibukit yg lain, diperahu yg satu atau perahu yg lain atau alat apapun itu yg kita gunakan. Mari kita jadikan BADILAG.NET (Pojok Dirjen) sebagai instrumen yg dapat menjebatani perbedaan ini. semoga amin.
Reply
 
 
# djazrl darwis babel 2012-02-02 13:54
djazril darwis.pta babel. Semoga harapan Pak Wahyu menjadi kenyataan, hingga warga PA sama-sama hidup di atas bukit yang sama yaitu BUKIT BERBUNGA, tentu kuncinya terpulang kepada kita bersama.
Reply
 
 
# a. ghofur.. kpa wonosari DIY 2012-02-02 14:20
Subhanalloh, betapa mulia perjuangan Pak Dirjen. Betapa berat tantangan beliau. Betapa banyak energi beliau yang terkuras untuk membangun sebuah peradaban baru peradilan agama. Yakinlah Pak Dirjen Alloh tidak menyia-nyiakan amal jihad Bapak. Hampir seluruh waktunya, beliau curahkan demi kemajuan peradilan agama. Tetaplah dalam keikhlasan, kesederhanaan, dan kepedulian. Tetaplah menjadi penolong Alloh, maka Alloh akan menolong Pak Dirjen.
Reply
 
 
# lukman PA Takalar 2012-02-02 23:00
Hidup dalam bukit Indah idaman kita semua warga peradilan Insyah Allah akan dicapai, dan kita semua harus optimis serta tetap menggandeng tangan saudara2 kita yang belum bisa melangkah seperti langkah pa dirjen,dengan demikian tidak ada lagi yang tertinggal dan pada akhirnya kita akan mencapai bukit indah tersebut dengan kebersamaan dan hidup didalamnya dengan damai dan sejahtera.
Reply
 
 
# Salmah-PA Mungkid 2012-02-09 11:43
Perjuangan kita dan pengadilan Agama akan berlangsung 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun dan tidak akan pernah mati selamanya...... semangat berjuang!
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 















Pembaruan MA















Pencarian
Polling
Setujukah apabila setiap putusan pengadilan ditampilkan di website
 
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS