Kamis, 17 Mei 2012 Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
Daftar LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet

RSS Feeder





Login Intranet



Online Support

 
 
 
 



FOKUS BADILAG

BUKU ELEKTRONIK : Sebuah Penilaian atas Website Pengadilan tahun 2011 (e-book version) | (14/05)
PENGUMUMAN : SE Pembinaan Hisab Rukyat April 2012 | (10/5)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Pelatihan Hukum Ekonomi Syari'ah ke Arab Saudi | (10/5)
PENGUMUMAN : Daftar 40 Nama Calon Peserta Diklat Ekosyar, Saudi Arabia, Angk. Ke-2 | (04/05)
PENGUMUMAN : Rumusan Bimtek Kompetensi Hakim PA Angkatan II dan III Tahun 2012 | (24/04)
PENGUMUMAN : Publikasi Informasi Perkara | (23/04)
PENGUMUMAN : Hasil Diskusi Forum Bahasa Arab (MLA Episode III) | (20/4)
PENGUMUMAN : Surat Pengembalian Peserta dan Rumusan Bimtek angkata I | (4/4)
PENGUMUMAN : Laporan Realisasi Anggaran DIPA 005.04 Triwulan I Tahun Anggaran 2012 | (3/4)




“Rumah Dirjennya hanya 200m dari sini Pak!” | (29/12/2011) PDF Cetak E-mail
Kamis, 29 Desember 2011 15:22

“Rumah Dirjennya hanya 200m dari sini, Pak!”

 

Tahun 2007, pimpinan Mahkamah Agung dan rombongan mengadakan roadshow ke wilayah Priangan Timur. Kota-kota yang dikunjungi mulai dari Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar dan berakhir di Pangandaran.

Di kota-kota itu, rombongan mengunjungi PN dan PA, serta bertemu Gubernur, Bupati dan Walikota, dengan seluruh jajarannya. Di PN dan PA yang dikunjungi, selain melihat situasi yang ada, baik fisik bangunannya maupun administrasi dan pelayanannya, pimpinan Mahkamah Agung juga memberikan tausiah-tausiahnya.

Nampak Pak Bagir, Ketua MA ketika itu, dan pimpinan lainnya, pada umumnya  senang melihat fisik bangunan pengadilan-pengadilan yang dikunjungi. Namun ketika rombongan meninjau PA Tasikmalaya, suasananya sedikit berbeda. Gedung PA Tasikmalaya yang terletak di jalan ‘tikus’, ‘mewah’ alias mepet sawah,  dengan tata ruang yang tidak keruan karena tambal sulam, membuat pimpinan Mahkamah Agung sedikit mengerutkan kening.

Begitu turunpun dari bis, Pak Bagir dan rombongan sudah nampak lain dibandingkan ketika turun dari bis di halaman PN Tasikmalaya, yang dikunjungi sebelumnya. Tidak seperti ketika menuju PN yang lancar-lancar saja, bus yang ditumpangi rombongan sulit masuk ke lokasi PA. Jalan yang sempit sedikit berkelok membuat kesulitan bagi bis untuk sampai ke lokasi. Belum lagi kalau papasan dengan kendaraan lain, bus harus menunggu dan mencari posisi  yang sedikit lapang.

Papasan dengan becak saja, bis harus berhenti dulu untuk memberi kesempatan becak lewat. Keadaan seperti itu mungkin membuat Pak Bagir dan rombongan sedikit “terganggu”. Makanya begitu turun dari bis, langsung masuk gedung yang sempit, melihat-lihat dalam gedung yang tata ruangnya acak-acakan, lalu naik ke lantai 2 di bagian belakang, langsung Pak Bagir geleng kepala sambil bertanya dengan nada sedikit tinggi, ”mengapa begini?”.

Beliau melihat pojokan ruangan, yang dindingnya tidak nyiku 90 derajat, tapi runcing. Sangat tidak sedap dipandang mata. Ketua PA menjelaskan karena tanahnya tidak persegi persis, maka bangunannya disesuaikan dengan bentuk tanah, agar tidak ada tanah yang terbuang. Dari segi logika, Ketua PA itu benar, sebab kalau bangunannya persegi maka banyak bagian tanah yang tidak terpakai, padahal luas tanah secara keseluruhan sangat sempit.  Untuk efesiensi, maksudnya. Namun dilihat dari segi keindahan, bangunan seperti itu kurang sedap dilihat.

Persis ketika Pak Bagir sedang heran, bertanya-tanya, sedikit kesal, lalu memberi arahan-arahan itulah, Pak Nurhadi, Kepala Biro Hukum Humas yang dikenal lincah tapi kadang kocak itu nyeletuk, “Rumah Dirjennya hanya 200 meter dari sini Pak”. Sontak, celetukan itu menarik perhatian rombongan dan Pak Bagir. Pak Bagir langsung bertanya, “Mana Wahyu?”.  “Saya Pak!”, jawab saya cepat, setengah berteriak, agar beliau menoleh ke arah saya, yang memang saya selalu berada di belakang beliau kalau sedang melakukan peninjauan ke  PA-PA.

“Bagaimana, kampungnya sendiri tidak diurus…”, kata beliau. Saya tidak tahu persis dengan maksud kata-katanya itu, apa beliau marah, canda atau hanya pelampiasan saja. Yang saya tahu beliau sangat kecewa melihat keadaan gedung PA Tasik itu.

**

Memang benar, rumah orang tua saya, yang biasa menjadi tujuan saya kalau pulang kampung ke Tasik, hanya sekitar 200 meter dari gedung PA. Saya sering masuk ke gedung PA atau hanya lewat depannya saja kalau hari Sabtu atau Ahad. Saya juga tahu, ketika itu gedung PA Tasikmalaya termasuk yang masih memprihatinkan dibanding gedung PA lain yang sudah dibangun baru. Gedung PA yang berlokasi di jalan tikus itu merupakan gedung lama yang sebetulnya sudah tidak pantas dijadikan suatu pengadilan yang perkaranya sekitar 4.000-5.000 setahun.


Saya pernah mengingatkan kepada kawan-kawan di PA Tasik dan PTA Bandung agar segera memperhatikan pembangunan gedung baru PA  yang Kelas IA ini. Namun karena, barangkali, belum masuk prioritas maka pembangunannyapun masih tertunda terus. Walaupun orang Tasik, bahkan rumah juga hanya 200 meter dari gedung PA, saya tidak mau mengintervensi PTA dalam melakukan prioritas pembangunan di wilayahnya, apalagi menekan mereka untuk mendahulukan pembangunan PA Tasik.

Saya yakin, kawan-kawan di PTA, baik Ketua atau Panseknya, lebih mengetahui secara detail tentang peta lapangan di wilayahnya dikaitkan dengan anggaran yang tersedia. Mana yang prioritas mana yang belum, mereka lebih faham. Saya sangat menghormati kewenangan mereka.

Saya juga senang kawan-kawan di PA Tasik atau di wilayah Jawa Barat lainnya tidak pernah minta macam-macam, sehingga merepotkan saya dalam melaksanakan tugas sebagai Dirjen. Dalam kaitan karir kepegawaian atau penyediaan anggaran dan sarana, mereka bertindak secara profesional, tidak memanfaatkan kawan selemburnya yang menjadi Dirjen. Saya senang dengan keadaan seperti itu.

Namun tetap, saya juga sering memberi saran, masukan, motivasi dan perhatian  kepada kawan-kawan di Tasik atau di PTA Bandung, sebagaimana juga kepada kawan-kawan lainnya di Indonesia. Kalaupun ada sikap khusus kepada Tasik atau Jawa Barat adalah hal yang wajar karena punya kaitan emosional tersendiri. Hanya saya selalu berusaha untuk menjaga agar sikap khusus ini dilakukan secara proporsional tidak mengganggu profesionalitas.

Oleh karena itu, ketika Pak Bagir mengatakan “…kampungnya sendiri  tidak diurus…”, saya sempat menjawab, sambil canda, kepada Pak Nurhadi, “Saya ini kan Dirjen Badilag se Indonesia, bukan Dirjennya  PA Tasik…”.

***

Saya tidak tahu, apakah  peristiwa itu mempengaruhi perhatian PTA Bandung dalam mengupayakan  pembangunan PA Tasik atau tidak. Yang jelas, tahun-tahun berikutnya saya diberitahu bahwa PA Tasik telah berhasil membeli tanah di dalam kota. PA Tasik juga telah mendapatkan sebidang tanah dari Pemda Kabupaten untuk dibangun kantor baru di komplek perkantoran Pemda dan malah pembangunan gedung baru itu sendiri telah dilakukan dan direncanakan selesai akhir tahun 2011 ini.  Sayapun telah sempat melihat tanah-tanah dan pembangunan gedung baru itu.

Di samping itu, PA Tasik yang dianggap berhasil dalam pelaksanaan program “Justice for the Poor”, dengan melaksanakan secara efektif pelayanan perkara prodeo dan sidang keliling, telah berhasil membentuk PA baru yaitu PA Kota Tasikmalaya yang peresmian operasionalnya dilakukan oleh Ketua MA di Labuan Bajo, bersama 15 PA baru lainnya, pada tanggal 16 November 2011 ini.  Saya sendiri meresmikan pelaksanaan operasionalnya di kantor Walikota.

Alhamdulillah. Telah banyak capaian-capaian yang diraih PA Tasik sejak kunjungan Ketua MA dan rombongan tahun 2007 lalu. Saya yakin, kunjungan dan capaian ini ada korelasinya. Oleh karena itu, perhatian dan arahan Ketua MA dalam melakukan kunjungan ke daerah sangat menjadi motivasi bagi daerah untuk melakukan perbaikan-perbaikan.

Saya yakin, tanpa memanfaatkan hubungan ke”salembur”an yang tidak proporsional dengan pejabat di pusat, kawan-kawan di daerahpun akan dapat melaksanakan program-programnya dengan baik dan lancar. Tidak harus diintervensi, ditekan atau diberi keistimewaan.(WW).

TanggalViewsComments
Total111130
Kam. 1710
Rab. 1630
Sen. 1420
Ming. 1310
Kam. 1030
Rab. 0910
LAST_UPDATED2
 

Comments 

 
# Arief Jauhari, PTA Yogya 2011-12-29 16:49
Salut untuk sikap PA Tasik atau PA di wilayah Jawa Barat lainnya yang tidak pernah minta macam-macam, meski Dirjennya orang 'kampung sendiri', sehingga Pak Dirjen dapat tenang dan tetap profesional dalam melaksanakan tugas. Seorang anak yang baik akan berusaha menjaga bapaknya tetap adil dan proporsional di hadapan anak yang lain ataupun masyarakat.
Reply
 
 
# Masrinedi - PA.. Painan 2011-12-29 16:52
Betul tu Pak Wahyu, memang yang selalu diperjuangkan adalah kebenaran dan profesionalitas, bukan faktor IPk tinggi(Ilmu Pendekatan). Tapi untuk peningkatan Profesionalitas diperlukan membangun komunikasi efektif dan efisien dalam rangka menyukseskan program yang telah ditetapkan pak. Saya secara pribadi berterima kasih kepada Bapak dan juga kepada warga PA se-Indonesia atas hubungan silturrahmi kita ini walaupun lewat situs badilag.net ini yang bisa kita lakukan. Semoga jalinan dan bangunan silaturrahmi kita tetap berlanjut dan bertambah intens dengan tetap mengutamakan pelaksanaan Jobs dan TUPOKSI masing-masing kita. Amin !
Reply
 
 
# D.Abdullah/KPACirebon 2011-12-29 17:25
Saya menggaris bawahi alinea terakhir pada pojok Pak Dirjen kali ini yaitu " ...Saya yakin, tanpa memanfa'atkan hubungan ke"selemburan" yang tidak proposional dengan pejabat di pusat, kawan-kawan di daerahpun akan dapat melaksanakan program-programnya dengan baik dan lancar.Tidak harus diintervensi,ditekan atau diistimewakan".....Memang betul pak,biar menjadi bahan perenungan kita bersama...
Reply
 
 
# Lily Ahmad 2011-12-29 19:10
Kira-kira jika Ketua MA datang dan berkunjung ke PA Tasik dan melihat perkembangan sekarang, apa komentarnya ya??? Yang pasti tidak berkomentar: "Pantas aja bagus...dirjennya dari sini".Karena semua memandang bahwa dirjen bukan berbuat untuk satu komunitas tertentu.

Beberapa waktu yang lalu saat mengikuti APMF, saya sempat berbicara dari perwakilan Ombudsmen Bank Dunia, beliau begitu kagum dengan perkembangan peradilan agama di Indonesia. Capaian yang didapat, begitu "amazing".

Sukses untuk bapak...
Reply
 
 
# Adli Minfadli Robby 2011-12-30 08:54
Aduh Bu, tolong tulis ya di Badilag.net, pengalaman Ibu mengikuti APMF yang antara lain ada komentar-komentar itu. Biar para pembaca mengetahuinya lebih detail. Tkasih.
Reply
 
 
# Mulawarman, Trk 2011-12-29 20:52
Benar kata Bapak Dirjen " sayakan Dirjennya PA se Indonesia, bukan Dirjennya PA Tasik saja" kalimat tersebut benar-benar arif dan kalimat yang sangat profesional menunjukkan jati diri pak Dirjen sebagai pejabat yang memandang semua PA se Indonesia harus diayomi secara adil tanpa kecuali sekalipun PA di kampung sendiri.
Reply
 
 
# Rizal -PA Tebing Tinggi 2011-12-29 22:47
Selamat dan sukses kepada teman-teman di PA Tasik, yang telah punya gedung baru tanpa memanfaatkan hubungan ke"salembur"an dengan pejabat pusat, semoga menjadi contoh di daerah.
Reply
 
 
# M.Yusuf Waka PA Kendari 2011-12-30 07:29
"Saya Ditjen Badilag se Indonesia bukan Ditjen PA Tasik".Membaca dan mendengar pernyataan seperti inisemakin menunjukkan kepada kita bahwa pak WW adalah pimpinan yg selalu berpikir menyeluruh dalam artian memberi porsi perhatian yg sama kepada semua PA. Semoga Sikap dan pandangan seperti inibisa diapresiai dan diaplikasikan oleh para Pimpinan di lingkungan Peradilan Agama terutama para pimpinan Pengadilan Tinggi Agama dst.Smoga
Reply
 
 
# uu pa.kotatasikmalaya_ptabdg@yahoo.com 2011-12-30 08:56
subhanallah itulah Pak Wahyu. Dirjen yang profesional. mampu memilah, kapan jadi Dirjen dan kapan jadi orang "lembur". Alhamdulllah, teguran Pak Bagir sudah terjawab. PA Tasik memiliki gedung yang baru. Terima kasih Pak Dirjen.
Sementara Kantor PA yang "mewah", akan menjadi kantor PA Kota Tasik sementara. Do'akan kami, Semoga tidak mengecewakan dalam pelayanan.
Reply
 
 
# niadepok 2011-12-30 12:21
dulu mewah =mepet sawah, sekarang elit= enak dilihat.
Reply
 
 
# Tamah, S.H., M.H. - PA Jaksel 2011-12-30 15:13
Hal ini membuktikan bahwa warga Pengadilan Agama tidak melakukan KKN (Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme)yang merupakan penyakit yang harus diberantas dari bumi Indonesia. Salut buat warga PA Tasikmalaya. Dan Selamat buat PA Tasikmalaya dengan gedung barunya yang tanpa KKN.....siiip deh..
Reply
 
 
# Sayuruddin Daulay/PA Stabat 2011-12-30 15:49
PA Tasik adalah salah satu gambaran keadaan PA di seluruh Indonesia pada masa lalu, bahkan di luar pulau Jawa masih banyak PA yang lebih memprihatinkan di banding PA Tasikmalaya, dengan perkembangan zaman alhamdulillah secara gradual keadaan PA di Indonesia semakin membaik contoh konkrit adalah PA Tasik. Keadaan ini harus kita syukuri dengan merubah mental dan sikap yang tidak baik di masa lalu itu menjadi sikap yang propesional, proporsional, akademis dan moralitas. Selamat tuk PA Tasik, sukses selalu.
Reply
 
 
# Mahfudin PA Rengat 2011-12-30 16:56
Waktu yang lalu PA Tasik Sedih = Selalu tidak Dihiraukan, sekarang luar bisa Senang = Selalu dikenang enak dipandang he..he..
Reply
 
 
# Syaifuddin PA Stabat 2011-12-31 16:49
Kita bersyukur PA Tasik sudah memperoleh anggaran sehingga tahun 2011 sudah memiliki kantor baru, tetapi kita dapat menjadikan tauladan sikap PA Tasik dan Pak Dirjen orang Tasik yang tetap memposisikan diri sebagai warga negara Indonesia dan Direjen Badan Peradilan Agama seluruh Indonesia.
Reply
 
 
# Masrinedi-PA. Painan 2011-12-31 21:25
“Rumah Dirjennya hanya 200m dari sini, Pak!” Didapati beberapa istilah :
1.jalan ‘tikus’, ‘mewah’ alias mepet sawah
2. hubungan ke"selemburan"
3. APMF ??? Tolong bu Lily Ahmad komentar perwakilan Ombudsmen Bank Dunia itu disampaikan lewat media ini biar kita tahu dan maklum, sesuai pula permintaan pak Dirjen.
4. dulu mewah =mepet sawah, sekarang elit= enak dilihat.
5. Waktu yang lalu PA Tasik Sedih = Selalu tidak Dihiraukan, sekarang luar bisa Senang = Selalu dikenang enak dipandang he..he..

Memang banyak tambahan wawasan dan masukan yang berharga dari para netter badilag sekalian. Tidak hanya tambahan informasi, namun juga istilah-istilah yang sederhana tetapi dalam dan sarat makna yang kita santap dari menu badilag.net ini.
Melalui media ini, saya ucapkan " Selamat kita semua warga badilag meninggalkan tahun 2011 dan semoga memasuki dan menjalani tahun baru 2012 Allah selalu memberikan kesuksesan dan kemudahan kepada kita dan mudah-mudahan dalam tahun 2012 www.badilag.net jadi Website Number ONE di Dunia dan Mendunia termasuk ke-7 Program Prioritas Pembarauan PA MOGA SUKSES. Amin !
Reply
 
 
# Suhadak Mataram 2012-01-02 07:29
Walau 200 M dari PA tasik Pak Dirjen tidak mengistimewakan untuk pembangunan PA Tasik, karena bukan Dirjennya org tasik tapi PA seindonesia. hal ini menunjukkan orang PA sangat menghindari KKN, padahal kalau mau bisa saja dari dulu PA tasik berdiri megah. Beliau sangat paham bawahan mana yg punya prestasi kerja bagus dan loyal, mana yg ihlas berjuang untuk PA.
Reply
 
 
# Lazuarman PA Manna 2012-01-02 11:16
"Saya tidak mau mengintervensi PTA dalam melakukan prioritas pembangunan di wilayahnya,saya sangat menghormati kewenangan mereka, saya selalu berusaha untuk menjaga agar sikap khusus ini dilakukan secara proporsional tidak mengganggu profesionalitas".. Inilah beberapa kalimat pak Dirjen yang sempat saya garis bawahi, dan saya yakin kalimat ini tidak akan pernah muncul kecuali dari orang yang bijaksana.Semoga sikap seperti ini menjadi suri tauladan bagi kita semua, amin..
Reply
 
 
# Mame Sadafal - PA Sidoarjo 2012-01-02 11:43
Ide dan gagasan bapak Dirjen seharusnya mengilhami seluruh aparatur PA supaya bekerja secara professional dan proporsional, memasuki tahun 2012 seharusnya menjadi landasan berpijak dalam berkarya bagi seluruh aparat PA dengan menanggalkan atribut serta kepentingan dan interes pribadi atau golongan, semata-mata ditujukan untuk bangsa dan negara yang pada akhirnya bernilai sebagai ibadah
Reply
 
 
# yanto PTA Jogya 2012-01-02 15:00
PA sudah terbiasa sejak dulu bekerja dengan fasiitas dan sarana yang minim namun semuanya tidak mengurangi kinerjanya. Salut juga dengan Pak Wahyu walaupun sering lihat dan lewat di PA Tasik tapi sikap profesionalnya benar2 ditunjukan karena beliau bukan dirjen PA Tasik tapi Dirjen PA se Indonesia.Sukses selalu untuk Pak WW
Reply
 
 
# basirun_samlawi@yahoo.com 2012-01-03 07:40
bekerja untuk semua umat
Reply
 
 
# Wawan Setiawan, SH. PA. Indramayu 2012-01-03 09:24
Ass Wr Wb. Kunjungan Pak Bagir selaku Ketua MA ke PA Tasik waktu itu adalah kunjungan yang membawa berkah dan sekarang dapat kita nikmati hasilnya. Kita yang pernah bertugas di PA Tasikmalaya selams lebih kurang 7 tahun sebelum dimutasikan ke PA Indramayu merasakan benar keprihatinan teman terutama para hakim di PA Tasik sebab ruang sidang cuma dua sehingga dengan terpaksa mushala yang berdampingan dengan wc disulap jadi ruang sidang 3 otomatis kalau menyidangkan aroma bau wc yang tidak sedap menusuk hidung dan para hakim juga harus bersabar karena
ditempatkan berdempetan di ruang atas yang tidak ada pasilitas kamar kecil sehingga kalau mau ke air harus turun ke bawah melewati pengapnya asap rokok para pengunjung yang berdiri berdesakan karena tempat duduk diruang tunggu yang tidak mencukupi, keluhan2 dan apapun bentuknya sudah sering kita sampaikan dan beruntung Pak Bagir selaku Ketua MA waktu itu berkunjung ke PA Tasik, makanya dengan spontan beliau menyampaikan kekecewaannya mengapa PA Tasik tidak diurus keadaannya sangat memprihatinkan padahal, maaf pak Dirjennya orang Tasik asli yang rumahnya cuma berjarak 200 meter. Masalah kedaerahan atau kelemburan ada efek positif dan negatifnya, tidak jarang ada pejabat yang manakala sudah pensiun pulang kampung atau mencalonkan jadi calon kepala daerah di tempat asalnya tapikurang mendapatkan simpati masyarakat dan koleganya dan kalau mencalonkan diri dalam pilkada di tempat asalnya justru kalah telak karena sang pejabat tsb sewaktu jeneng (baca: berkuasa) tidak meninggalkan kebaikan atau sesuatu yang dapat dibanggakan oleh masyarakat tempat asalnya. Wassalam
Reply
 
 
# Irmalina 2012-01-03 12:43
Narasi yang disampaikan Sdr. Wawan S(SH) sangat bagus. Hanya sayangnya teori efek positif masalah kedaerahan hanya dijanjikan untuk pejabat secara pribadi, bukan secara profesi, apalagi institusi, terlebih jauh, konstitusi. Saya yakin, PA Tasik, ataupun PA lain yang senasib (yang masih jauh lebih menyedihkan) tetaplah menjadi pemikiran Dirjen siang dan malam. tetapi apakah anda tidak bangga jika Dirjennya tidak mau memprioritaskan hanya berdasar siapa yang dekat (ataupun yang bisa mendekati) untuk 'diangkat'. Tidakkah indah, jika sikap itu dipegang seluruh pejabat di negeri ini? Think globally, act locally.
Reply
 
 
# m.Tobri-PA Kuningan 2012-01-03 10:37
Hanya saya selalu berusaha untuk menjaga agar sikap khusus ini dilakukan secara proporsional tidak mengganggu profesionalitas. ungkapan yang membanggaklan, dan perlu ditauladani oleh bapak-bapak lainnya, semoga kalimat ini bisa kita amalkan dalam melaksanakan tugas keseharian. sukses untuk kita semua.
Reply
 
 
# Ali Fikri PA.Tasik 2012-01-04 20:16
Alhamdulillah Meskipun Kantornya Sempit dan Mewah, akan tetapi Profesionalisme Pelayanan Hukum untuk Masyarakat tetap mampu memberikan pelayanan terbaik, demikian pula pelaksanaan Program SIADPA mampu melayani perkara setiap bulannya sebanyak 450 perkara..Maju teruss dan sukses untuk PA.Kabupaten Tasikmalaya, Mudah-mudahan dengan Gedung yang Baru semakin memberi Semangat serta pencerahan...
Reply
 
 
# Erlan Naofal-PA.Sidikalang 2012-01-09 08:34
Tahun 1999 sewaktu saya mengikuti praktek lapangan Fakultas Syari'ah IAIC Cipasung di Pengadilan Agama Tasikmalaya dan Pengadilan Negeri Tasikmalaya, memang sangat kontras sekali perbedaan kedua kantor tersebut yang satu di jalan protokoler dan yang satu di jalan.................yang satu berdiri megah dan gagah sedangkan yang satu lagi............Tapi itu dulu. Dan sekarang setelah one roof system diberlakukan kedua saudara kembar tersebut tidak berbeda dan memiliki kedudukan yang sama. Inilah berkah dari system satu atap. semoga keberkahan2 lain semakin nampak. amiin
Reply
 
 
# ali syarif@PA Sala3 2012-01-10 08:25
...“Saya ini kan Dirjen Badilag se Indonesia, bukan Dirjennya PA Tasik…”. Mantapp sindiran bpk!. Karena Pak Dirjen berasal dari Tasik hanya faktor kebetulan dan perhatiasn pimpinan MA terhadap PA Tasik adalah suatu kenikmatan, padahal masih banyak gedung-2 PA lain yg masih mengenaskan dn perlu perhatian.. (wallohu a'lam bi showab)
Reply
 
 
# ayep sm PA Tasikmalaya 2012-01-11 21:04
Tapi alhamdulillah hari ini, PA Tasikmalaya punya gedung yang representatif dan megah, di depannya masjid Agung, disampingnya Kemenag, kantor Legislatif dan yudikatif berjejer, dan PA Tasik sangat megah, karena itu mudah-mudahan membawa kebaikan untuk pencari keadilan di Kabupaten Tasik.
Reply
 
 
# xxxpa tsm 2012-01-17 10:54
SEMOGA DENGAN KANTOR YANG BARU JG KESEJAHTERAAN PEGAWAI BERTAMBAH KHUSUSNYA HONORER PENGADILAN AGAMA.. TANPA MEREKA KITA BUKAN APA-APA
Reply
 
 
# Subai PA. Tsm 2012-02-01 10:04
Alhamdulilah sudah menempati gedung baru dengan semangat baru dan siap melayani masarakat, tapi entah knapa pembangunan gedung ini apa memperhatikan perjalanan perkara..dari perkara masuk sampai akhir apa tidak. terutama ruang keungan yang kurang memperhatikan keamanannya..rungan 2,5x2,5 mtr. di isi oleh 3 orang pegawai, untuk bergerak saja susah. ditambah dengan semua bukti2 transaksi. kalau sya lihat ruangan yang lain biasa untuk bermain futsal...tapi ga apa2lah yang penting bisa bekerja maksimal...
Reply
 
 
# nasir pa serang 2012-02-08 11:50
ciri pimpinan yang ikhlas adalah selalu mengembalikan hasil kerjanya kepada kepentingan umum, bukan kroninya sendiri. kami salut Pak wahyu.
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 















Pembaruan MA















Pencarian
Polling
Setujukah apabila setiap putusan pengadilan ditampilkan di website
 
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS