1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

Orang Kaya Hidup Sengsara

Oleh: Abdul Manaf

Bahagia itu ada di hati. Ada yang beranggapan kalau memiliki rumah mewah, pakaian indah, kendaraan serba “wah”, wah cantiknya, wah mahalnya, wah enaknya, maka hidupnya pasti bahagia. Tetapi tidak! Ternyata semuanya itu hanya fatamorgana. Semuanya hanyalah kebahagiaan semu. Karena, orang yang selalu mengejar dan menghimpun harta dunia, sejatinya adalah orang yang miskin jiwanya dan sengsara hatinya. Kebahagian yang dia damba, ternyata jauh panggang dari api. Bahagia itu tidak terletak pada harta, tetapi terletak di hati dan jiwa setiap manusia. Bahkan, kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa. INNAMAL GHINA, GHINAN NAFS.

Dalam sejarah ummat manusia, dikenal seorang kaya bernama Abu Lahab, harta kekayaannya dibelanjakan untuk menghambat laju dakwah yang diserukan oleh Nabi Muhammad SAW. Ternyata, hartanya tidak sanggup mengantarkannya pada kebahagian hidup, tidak di dunia apalagi di akhirat. Dia menderita dengan setumpukan hartanya. Dia mendulang dosa dan murka Allah SWT, justeru dengan fasilitas harta yang sudah didapatkannya. Bahagia itu, ketika harta dan segala fasilitas kemudahan hidup yang sudah didapat, dibelanjakan di jalan kebaikan yang mengundang cinta dan ridha dari Allah SWT.

Keluarga teladan selalu mendidik semua anggotanya termasuk dirinya untuk meletakkan status harta, jabatan, anak-anak, isteri, suami, dan segala fasilitas kemudahan hidup duniawi, termasuk kemudahan bejalan-jalan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, sebagai fasilitas pinjaman semata dari Allah SWT.

Statusnya tidak lebih sebagai alat uji. Kemudian, apakah keluarga tersebut teruji sebagai keluarga yang bersyukur dengan nikmat yang sudah didapat. Mereka berjalan di dunia nyata maupun dunia maya dengan mengundang ridha Allah SWT. Bisa jadi, justeru mereka menjadi keluarga yang gagal ujian, karena menjadi keluarga yang kufur atas segala nikmat yang sudah diperoleh. Mereka berjalan di dunia nyata maupun dunia maya dengan menentang Allah SWT dan para pendakwah-Nya, bahkan bersekutu dengan orang-orang yang selalu menentang Allah SWT dan para juru dakwah-Nya.

Alkisah, ada seorang pemuda yang mendapati warisan harta melimpah-ruah, peninggalan kedua orang tuanya. Dia berfoya-foya dengan hartanya sampai habis semuanya. Sekarang, dia menjadi orang miskin dan dijauhi teman-temannya. Pemuda tersebut mendatangi Nasrudin yang bijaksana. “Tuan tolong ramalkan nasib saya kedepannya seperti apa?” “Baiklah, kamu tidak perlu cemas akan nasibmu, karena tidak lama lagi kamu akan mendapatkan kebahagian melebihi dari yang sudah pernah kamu dapati,” jawab sang bijak. “Apakah saya akan menjadi orang kaya dalam waktu dekat?” tanya pemuda penasaran. “Tidak begitu, tetapi kamu akan bahagia dan terbiasa menjadi orang miskin serta jauh dari teman-teman, dengan syarat kamu menerima keadaanmu dengan hati yang lapang. Karena, kebahagian itu letaknya di hati, bukan pada harta benda duniawi.” [bm/iar]

Comments  

 
# ikhsanuddin, s.h. 2017-02-13 10:58
subhaanallaah.. .taushiyah yang sangat menyentuh kalbu, semoga kita mampu mensyukuri nikmat Allah sehingga dapat merasakan kebahagiaan sejati.
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Ibu Siti PTA Jkt 2017-02-13 16:03
Wah tausiyah pak Dirjen mantab sekali.....moga kita dapat mentafakuri dan mengamalkannya insya Allah. trmskh
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# wahyuningtyas Banten 2017-02-14 08:06
alhamdulillah, pagipagi dah dapat siraman rohani, semoga kita senantiasa bahagia dengan apa yang telah dimiliki..bersy ukur..intinya
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# AM Hasbi 2017-02-14 08:22
Alhamdulillah dapat pencerahan dari pak Dirjen
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Umi PAJU 2017-02-14 09:51
Alhamdulillah , terima ksh untuk pencerahannya Pak Dirjen
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# #W.Setiawan PA Cms 2017-02-14 12:50
Subhanalloh semoga kita bisa menarik pelajaran dari Tausiyah Bapak Dirjen tsb, kita bisa istiqomah dalam kebaikan serta dapat mentasorufkan pangkat, jabatan dan harta untuk jalan yang diridhai Alloh Swt.
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Djabir S PA Soasio 2017-02-14 13:37
Betul... kekayaan yg hakiki adalah ketengan jiwa... hasrat mengumpul harta, akan semakin membuat pengumpulnya haus dan selalu kekurangan... Jadi harus qanaah...
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Basir,PA ENDE 2017-02-16 09:06
Alhamdulilah kita bisa mendengar dan membaca tausiyah dari bpk dirjen, semoga kita tergolong orang yg rendah hati, amin
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# darul pa gs 2017-02-16 09:47
alhamdulillah dapat percerahan, semoga dapat mengamalkannya. . terimakasih Pak Dirjen.
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# zuhrah-MS Takengon 2017-02-16 14:05
Subhanallah, pak Dirjen Terimakasih atas kisah dan tausiah yang ispiratif, semoga menjadi i'tibar bagi warga peradilan.
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# panmud 2017-02-17 07:41
benar sih kebahagiaan itu dari hati tapi kalau kita liat apakah diperadilan kita sudah banyak orang2 yang hatinya bahagia......se moga Allah menjadikan peradilan terutama peradilan agama adalah suri teladan untuk seluruh peradilan....ja ngan takut untuk membuang oknum2 nepotisme kalau ingin hati bahagia
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Suhadak PA Surabaya 2017-02-20 07:00
Dalam dan sangat bermakna, semoga kami dapat ,engambil hikmah dari inspirasi ini..
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# dewiati 2017-02-20 14:36
subhanallah, menjd bahan renungan, bahwa benar adanya, bahagia itu sederhana tergantung pada diri pribadi kita.sehat terus bapak YM agar sennatiasa bisa membagi ilmunya untuk kami.....
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Asrofi, Ponorogo 2017-02-22 11:00
Penuh inspirasi untuk selalu bersyukur dan bersabar atas kenyataan hidup yang dihadapinya.
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# H.M.Azhari-PA Putuss 2017-02-28 14:07
Subhanalloh semoga kita bisa menarik pelajaran dari Tausiyah Bapak Dirjen tsb, kita bisa istiqomah dalam kebaikan serta dapat mentasorufkan pangkat, jabatan dan harta untuk jalan yang diridhai Alloh SwtAmin Yaarabbalalamin .
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Zulkifli S/Batang 2017-03-03 14:57
Untuk mewujudkan nilai/pesan ini, perlu upaya yang terus tiada henti kapan dan dimanapun. Karena sering juga ada bisikan yang memalingkan yang harus dilawan. Caranya mungkin seperti iktikaf di masjid dan/atau shalat malam.
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# niajimi 2017-03-06 10:32
syukron. menginspirasi untuk koreksi diri
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# HUDAYAH PA. ENDE 2017-03-07 08:10
KEBAHAGIAAN ITU LETAKNYA DI HATI
ALHAMDULILLAH
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# mazmiro PA.Palembang 2017-03-17 10:01
super sekali
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Rijal Mahdi PTA Babe 2017-03-30 10:33
Terima kasih nasehatnya pak Dirjen Badilag ( Bpk Abdul Manaf )
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Muammar PA Nabire 2017-03-31 00:39
Memang benar harta sebanyak apapun tidak bisa mendatangkan kebahagiaan.. Yg ada malah merasa kurang dan kurang dan haus untuk selalu berusaha menambah dan menambah, jika manusia diberi 1 lembah berisi emas pasti ia akan mencari lembah yg kedua ketiga dan seterusnya sampai nafas terhenti barulah ia berhenti.
Reply | Reply with quote | Quote
 

Add comment

Pembaruan MA

Layanan Info

BANNER SUBDIT HAKIM

hasil-tpm

Elearning

Banner majalah

tnde01

BANER WEB