1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

Jatuh Dari Atap Rumah Tetap Sehat

Oleh: Abdul Manaf

Alkisah Nasrudin tertimpa orang yang jatuh dari atap rumah. Justeru orang yang jatuh tersebut tidak terluka, sementara Nasrudin mengalami patah lehernya. Para tetangga menjenguk dan bertanya: “Apa hikmah di balik kejadian ini?” “Jangan percaya pada hukum sebab akibat” jawabnya. “Secara logika orang yang jatuh dari atap dia yang terluka, tetapi kejadiannya justeru saya yang tertimpa orang itu yang terluka.”

Jatuh bangun itu biasa. Kadang ada di atas kadang di bawah. Itulah roda kehidupan selalu berputar. Sekali berjaya, sekali terpuruk. Itu biasa dalam kehidupan manusia. Selamanya berjaya selamanya terpuruk, hampir tidak ada dalam sejarah kehidupan manusia pada umumnya. Seperti halnya ada siang ada malam. Ada senang ada susah. Allah pergilirkan semua kejadian kepada manusia agar mau berpikir. Berpikir positif pada kekuasaan-Nya yang tak terbatas. Berpikir optimis kepada kasih sayang-Nya yang tak bertepi.

Orang yang merasa selalu berjaya, merasa jumawa, itulah orang yang tertipu. Apalagi, kalau merasa kesuksesan yang dia raih adalah murni hasil jerih payahnya. Semata-mata hasil kerja kerasnya. Melulu karena kepandaian otak pikirnya. Ingatlah! Nabi Sulaiman AS, dengan segala raihannya sebagai cendikiawan ulung, penguasa adidaya, sosok yang gagah perkasa dia justeru menyatakan “HADZA MIN FADHLI ROBBI” ini adalah anugerah dari Tuhanku, “LIYABLUWANI AASYKURU AM AKFUR” untuk mengujiku apakah aku bersyukur kepada-Nya, atau aku mengingkari-Nya. Apakah segala fasilitas duniawi aku gunakan untuk meraih ridha-Nya atau justru mendatangkan murka-Nya.

Orang yang merasa dirinya selalu terpuruk, merasa sebagai manusia yang paling menderita di dunia, merasa hidupnya paling sial, merasa hidupnya tiada berarti, itulah orang yang gagal paham. Dunia selalu berubah tidak ada yang kekal abadi. Tidak sedikit orang yang terpuruk, kemudian pelan tapi pasti dia bangkit menaklukan dunia. Ketika hilang uang seratus ribu dari satu juta miliknya, maka yang dipikir adalah yang seratus ribu hilang kemana, dicarinya setengah mati, diingat-ingatnya hilang dimana. Gagal paham. Dia lupa bahwa di sakunya masih ada uang sembilan ratus ribu yang bisa dia manfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya.

Kalau dia kehilangan pasangan hidupnya, meninggal karena suatu musibah misalnya, langsung merasa terpuruk. Gagal paham. Dia lupa kalau masih ada anak-anak, masih ada keluarganya yang menemani hidupnya, menghadapi masa depannya. Lebih dari semuanya, dia masih memiliki Allah SWT yang selalu Memandangnya dengan Kasih Sayang-Nya dan segala Pemberian-Nya.

Kalau dia mendapati suaminya berbagi cintanya dengan wanita kedua secara sah menurut aturan agama maupun negara, dia merasa menderita. Gagal paham. Padahal, betapa masih banyak perempuan yang tidak bersuami, yang belum mendapatkan jodohnya. Padahal, suaminya juga masih setia menemaninya, merawat anak-anaknya, bertanggung jawab penuh menafkahinya. Seorang hakim wanita bertanya kepada wanita termohon di persidangan: “Saudari termohon! Kenapa memberi izin suami saudari menikah lagi? Apakah saudari tidak memiliki perasaan sebagai wanita?”. Dengan tenang termohon menjawab: “Yang Mulia! Perasaan saya sebagai wanita sama seperti Yang Mulia Ibu hakim rasakan juga. Tetapi, perasaan saya terhadap aturan syariat mengalahkan perasaan saya sebagai wanita. Izin pun dikabulkan. [bm]

Comments  

 
# syd 2017-01-18 10:27
suatu kish yang berhikmah...
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# siti 2017-01-19 09:24
Hakim ko nanya2 gitu sih......pertan yaannya yg tidak ada kaitannya dengan hukum.....peras aan ko ditanyakan dlm persidangan?
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Abinuwas Pemalang 2017-01-20 11:01
“Yang Mulia! Perasaan saya sebagai wanita sama seperti Yang Mulia Ibu hakim rasakan juga. Tetapi, perasaan saya terhadap aturan syariat mengalahkan perasaan saya sebagai wanita. Izin pun dikabulkan. Alhamdulillahir abbil'alamin, masih ada wanita shalihah yang ihlash dalam imannya seperti ini
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Engkos wsb 2017-01-23 09:35
Kita selaku hamba Allah apa mau syukur atau kufur ?
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Abd.Salam, Mataram 2017-01-23 10:44
Pak Dirjen ini memang "Isa iso ae membuat pembaca senyum-senyum"
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# pitir/Wapan PA.Jambi 2017-01-25 08:51
Subhanallah.... kisah yang sangat memberi pelajaran dan hikmah yang besar bagi diri kita...Terima kasih Yang Mulia atas kisahnya...semo ga YM sehat selalu.. Amiinn...
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# idris ismail 2017-01-25 10:12
Kisah ini membuktikan kualitas iman Termohon sebagai istri, yang dijawabnya firman Allah SWT dengan sami'na wa atha'na ghufranakan rabbana wailaika al-mashir. Ditunggu kualitas iman perempuan seperti kisah tersebut
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Tfk 2017-01-27 20:50
Diatas bumi masih ada langit
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Rosmawardani aceh 2017-01-31 18:57
Tausiyah yg luar biasa dr bapak dirjen Dan sangat bermanfaat .
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Ahmad PA GM 2017-02-02 07:38
alhamdulillah semua untaian kata dan kalimat yang sangat bermakna, terlebih pada alinea terakhir subhanallah, Insyaalloh akan menjadi sebuah pencerahan qolbu khususnya kita para aparatul pengadilan agama amin.
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Tamimudari PA Samari 2017-02-02 08:02
Bercermin dari berbagai hikmah kejadian agar kita tidak gagal paham adalah inti dari pojok Pak Dirjen.
memahami alinea terakhir tentang suami yang berbagi cinta (poligami), memerlukan perenungan yang mendalam agar tidak gagal paham dan tidak subyektif????!! !!!
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# abdurrahman_Pa_Kras 2017-02-09 14:15
ass.......
moga Allah selalu memberikan petunjuk dalam kehidupan ini dan menghindari dari orang-orang yang agagal paham..
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Zulkifli S 2017-02-10 15:01
Setuju banget pak
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Suhadak PA Surabaya 2017-02-20 07:05
Pencerahan Qolbu yang luar biasa, tentu pelajaran berharga pada diri saya dan keluarga. agar tidak terlena setelah mendapatkan amanah ini.
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# niajimi 2017-03-06 10:36
Artikel ini bagus sekali, saya terus belajar utk tidak gagal paham. syukron. Tapi ada yang menggelitik saya di bait terakhir., “Yang Mulia! Perasaan saya sebagai wanita sama seperti Yang Mulia Ibu hakim rasakan juga. Tetapi, perasaan saya terhadap aturan syariat mengalahkan perasaan saya sebagai wanita. Izin pun dikabulkan. mungkin bukan izin, tapi persetujuan.
afwan before.
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# ISHAK L PA Tarutung 2017-03-21 21:15
indah sekali paparannya ym semoga kami selalu tetap semangat membaca dan belajar sampai akhir hayat dan ridha atas segala aturanNya walaupun awalnya terasa berat menerima dan mengamalkannya. terimakasih
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# yana 2017-03-30 15:03
mg qt nggak akan menjd org yg gagagl paham.
Reply | Reply with quote | Quote
 

Add comment

Pembaruan MA

Layanan Info

BANNER SUBDIT HAKIM

hasil-tpm

Elearning

Banner majalah

tnde01

BANER WEB