Wawancara Eksklusif dengan Hakim PA yang Kuliah S-2 di Melbourne University
Tiga tahun lalu, ia masih berkutat di pedalaman Sumatera. Siapa sangka, angin perubahan telah membawanya terbang ke Australia, kuliah di kampus nomer satu di negeri kanguru itu, sekaligus menjadi orang pertama dari lingkungan peradilan agama yang melanjutkan studi ke Australia atas beasiswa AusAID.
Namanya Achmad Cholil. Ia memulai karir hakimnya di Pengadilan Agama Maninjau, Sumatera Barat. Berkat kelebihannya di bidang bahasa Inggris, alumnnus Fakultas Syariah IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat ini kemudian terpilih menjadi staf khusus Dirjen Badilag bidang kerjasama luar negeri. Ia pun dipindah dari PA Maninjau ke PA Pandeglang, Banten, sebelum terakhir berstatus sebagai hakim PA Bekasi, Jawa Barat, sembari mengejar titel Master of Laws (LLM) di Melbourne University.

Sejak pekan lalu, Pak Cholil pulang ke Tanah Air. Selain mengikuti English Meeting Club (EMC)—forum diskusi berbahasa Inggris yang mula-mula dirintisnya—bapak tiga anak ini juga menyempatkan diri menemui atasan dan kolega-koleganya. Tentu saja kesempatan berharga ini tidak kami sia-siakan.
Hermansyah dari badilag.net telah menodongkan sejumlah pertanyaan untuk dijawab penggemar kopi hitam ini. Dan inilah hasil wawancara selengkapnya:
Sejak kapan Pak Cholil punya keinginan belajar ke luar negeri?
Belajar ke luar negeri adalah obsesi saya sejak lama. Dulu, menjelang akhir tahun 2004, saya sempat mendapatkan beasiswa Interdisciplinary Islamic Studies (IIS) yang merupakan proyek kerjasama antara Kementerian Agama melalui UIN Jakarta dengan McGill University Canada. Beasiswa ini urung saya lanjutkan karena di tengah-tengah mengikuti program EAP (English for Academic Purposes) untuk beasiswa itu, saya diterima sebagai CPNS/Cakim pengadilan agama.
Sejak menjadi Cakim dan Hakim pun keinginan untuk belajar ke luar negeri itu tetap membara. Terlebih, setahu saya sejak 2006, MA melalu BUA selalu mengumumkan pemberian beasiswa dari pemerintah Australia melalui program ADS (Australian Development Scholarships). Saya pun rajin memantau website ADS (www.australiaawardsindo.or.id) untuk mempelajari segala hal termasuk persyaratan dan proses aplikasi beasiswa tersebut. Saya juga mendapat banyak masukan dari beberapa teman yang sudah terlebih dahulu belajar di Australia atas beasiswa ADS ini.
Bagaimana prosesnya hingga Pak Cholil bisa mendapatkan beasiswa S-2 ke Australia? Apa pula persyararatannya?
Persayaratan lengkapnya dapat dilihat di website ADS. Ada dua tahap seleksi, yaitu seleksi administrasi atau biasa disebut dengan shortlisted dan wawancara plus test IELTS. Untuk tahap awal, ada dua syarat utama yaitu nilai skor TOEFL dan izin/rekomendasi dari pimpinan bagi pelamar yang berstatus pegawai negeri.
Saya sangat bersyukur mendapat dukungan penuh dari Pak Dirjen dan pimpinan lainnya di Badilag. YM Bapak Ketua MA dan Bapak Sekretaris dan para pimpinan MA juga memberikan dukungan yang sama. Begitu juga pimpinan di PA Bekasi. CJ Diana Briant, Leisha Lister, Cate Sumner dan Terria Lamsihar (mantan pejabat IALDF) juga besar dukungannya.
Biaya apa saja yang ditanggung oleh pemerintah Australia?
Semua biaya kuliah, living allowance dan ongkos sekali pergi dan pulang ditanggung oleh pemerintah Australia. Tapi biaya keluarga, untuk istri dan anak-anak, tidak ikut ditanggung. Jadi bagi yang membawa keluarga, biayanya ditanggung sendiri.
Di Melbourne University, apa fokus studi Pak Cholil? Kira-kira berapa lama?
Saya mengambil general LLM (Master of Laws). Keuntungan mengikuti program ini, saya bisa mengambil delapan mata kuliah yang sesuai dengan minat, latar belakang dan pekerjaan saya sekarang. Program ini diselesaikan dalam satu setengah tahun. Insya Allah jika semuanya lancar, saya akan menyelesaikan program ini pada Desember 2012 nanti.
Bagaimana realita perkuliahan di sana? Apa bedanya dengan di tanah air?
Perkuliahan disana sangat tough, challenging sekaligus stressful. Terlebih ketika kita ‘berkompetisi’ dengan mayoritas mahasiswa yang mother tounge-nya memang Bahasa Inggris. Kalau ditanya apa bedanya, ya mungkin tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Tapi setidaknya ada lima hal yang sangat dijunjung tinggi disana: Critical thinking, Kejujuran Akademis, Reliable Methodology, Independensi, dan originalitas pemikiran.
Satu hal lagi yang menjadi momok besar, yaitu soal plagiarisme. Aturan plagiarisme ini sangat ketat sekali, tidak bisa main-main. Contohnya, mengutip pendapat seseorang tidak diperkenankan copy paste kecuali dalam hal-hal tertentu yang sangat terbatas. Meskipun kita sebutkan kredit penulis asli dalam bentuk footnote, tapi kalau kata atau kalimatnya sama, itu terhitung plagiat kecuali kutipan itu diletakkan dalam tanda kutip (quotation marks). Tapi kan tidak mungkin juga kita membuat paper yang semua alineanya berupa kutipan langsung dalam tanda kutip.
Sebagian besar atau mungkin hampir semua rujukan bisa dilacak secara online. Semua paper mahasiswa diperiksa orisinalitasnya melalui sistem yang handal, namanya Turnitin. Sekali saja kita ketahuan plagiat, kita bisa langsung di-drop out alias DO.
Apa urgensi fokus studi yang Pak Cholil pilih, dikaitkan dengan peradilan agama di Indonesia?
Saya kira urgensinya lebih terletak pada perbandingan sistem hukum, administration of justice dan manajemen peradilan. Banyak hal saya kira yang bagus untuk dikaji dan mungkin diterapkan dalam sistem peradilan kita.
Saya sangat tertarik dengan cara hakim di sana menangani perkara, menggali reasonings dalam pembuatan putusan dan manajemen peradilan. Beberapa mata kuliah yang saya ambil seperti ‘What is it that Judges Do?’, ‘Alternative Dispute Resolution’, ‘Proof in Litigation’, ‘Current Issues in Family Law’, dan ‘Statute in 21st Century’ dapat menggambarkan hal itu.
Bisa Pak Cholil kisahkan suka-dukanya kuliah di Australia?
Sukanya sama banyak dengan dukanya. Suka karena ini salah satu impian saya, kuliah di luar negeri. Terlebih Melbourne University adalah universitas nomor satu di Australia, dan fakultas hukumnya menempati ranking sembilan di dunia. Saya bangga bisa kuliah disini. Dukanya ketika dikejar deadline menyelesaikan tugas kuliah, stress luar biasa.
Lalu, bagaimana cara mengatasi kerinduan terhadap keluarga?
Yang jauh lebih berat memang saat harus berpisah dengan keluarga, isteri dan anak-anak yang masih kecil-kecil. Karena beberapa alasan, saya tidak mengajak keluarga saya ke Melbourne. Sedih sekali sebetulnya. Tapi hidup memang pilihan dan penuh pengorbanan. Komunikasi dengan keluarga saya lakukan dengan menelpon isteri dan anak-anak setiap hari, selain kadang-kadang pakai Skype atau Yahoo Messenger. Tapi tetap saja tidak bisa mengatasi kerinduan.
Selain kuliah, apa saja aktivitas Pak Cholil di sana?
Di waktu luang saya kadang-kadang mengunjungi pengadilan-pengadilan di sana selain terkadang mengambil part time job untuk sekadar membantu untuk beli buku. Saya ikut juga perkumpulan mahasiswa Indonesia yang mengadakan pengajian di sana. Kalau liburan, ya refreshing.
Bagaimana pandangan umum warga Australia terhadap lembaga peradilan Indonesia, khususnya peradilan agama?
Ini mungkin bukan pandangan umum ya, karena saya belum pernah mengadakan survey untuk itu. Tapi setidaknya dari beberapa referensi yang saya baca dan diskusi dengan beberapa kawan-kawan di sana, pandangannya masih belum begitu positif. Hal ini bisa jadi salah satunya disebabkan masih amat minimnya publikasi dalam bahasa Inggris, dalam bentuk buku dan lain sebagainya, yang menggambarkan perkembangan terkini dunia peradilan Indonesia. Publikasi yang ada, terbit sekitar 10 tahun ke belakang.
Tapi banyak dari kawan-kawan yang saya ajak ngobrol mengaku salut dengan gebrakan Indonesia dalam memberantas korupsi dengan mendirikan KPK dan pengadilan Tipikor, di samping adanya MK.
Bagi mereka yang concern dengan dunia peradilan Indonesia, saya kira pandangan mereka tentang peradilan agama merupakan pengecualian. Sejak tahun 2000, pandangan positif para ahli terhadap peradilan agama terus terjaga sampai sekarang. Ini bisa dilacak dari tulisan-tulisan tokoh seperti Daniel S. Lev, Mark E. Cammack, Cate Sumner, Timothy Lindsey dan Michael Feener misalnya.
Apa saja saran Pak Cholil kepada warga Peradilan Agama, khususnya para hakim, yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri seperti Australia?
Saya pribadi sangat berharap banyak kawan-kawan yang dapat melanjutkan studi ke Australia dan negara-negara lainnya. Ini penting untuk penguatan SDM peradilan kita. Sudah banyak hakim dan pegawai peradilan kita yang merampungkan S2 dan S3 nya didalam negeri. Mereka itu kumpulan SDM yang akan menentukan masa depan peradilan. Akan sangat ideal sekali jika dikombinasikan dengan banyaknya SDM yang memiliki latar belakang pendidikan dari Timur Tengah dan negara-negara barat.
Penguasaan Bahasa Inggris mutlak jika ingin studi ke Australia. Kawan-kawan yang ingin melanjutkan studi ke sana paling tidak harus memiliki nilai TOEFL resmi 550 paling sedikit.
Mungkin ada hal lain yang ingin Pak Cholil sampaikan?
Banyak hal menarik dan penting selama studi di sana. Tapi ada satu hal yang selalu saya camkan untuk saya jadikan motivasi bagi saya pribadi. Manusia itu dikenal dengan karya dan perbuatannya. Tidak begitu penting setinggi apa pendidikan yang diraihnya, tapi yang lebih penting adalah sejauh mana kita memberikan karya nyata yang bermanfaat untuk masyarakat dan lingkungan sekitar. Bagi aparat peradilan agama tentunya sejauh mana kita mampu memberikan sumbangsih demi kemajuan peradilan agama yang kita cintai. Itu yang jauh lebih penting.
Saya sendiri belum berbuat apa-apa untuk peradilan agama. Saya iri dengan kawan-kawan yang sudah banyak berbuat demi kemajuan peradilan agama, seperti mereka yang aktif menulis artikel di media massa cetak dan elektronik dan menerbitkan bukunya, kawan-kawan yang aktif menulis artikel di badilag.net, mereka yang aktif di publikasi putusan, kawan-kawan yang tekun mengelola IT (website & Siadpa), kawan-kawan yang berkutat di pelayanan publik dan mereka yang setiap hari berusaha melayani justice seekers.
Saya mohon doa dari semuanya agar apa yang saya dapatkan bisa bermanfaat untuk kemajuan peradilan agama yang kita cintai dan banggakan.
(hermansyah) | Tanggal | Views | Comments |
|---|
| Total | 34039 | 66 | | Kam. 17 | 1 | 0 | | Rab. 16 | 5 | 0 | | Sel. 15 | 4 | 0 | | Sen. 14 | 4 | 0 | | Ming. 13 | 2 | 0 | | Sab. 12 | 6 | 0 |
|
Comments
Sebaiknya mas Kholil secara rutin menceritakan tentang model pengadilan di sana begitu pula sistem hukumnya. Semoga bermamfaat.
Thanks sharing pengalamannya pak, menarik sekali...saya juga msh ingat bagaimana pak cholil waktu masih d PA.Min (PA.Maninjau) dulu, menyiapkan berkas2 utk scholarship ini, ternyata mmg impian dari dulu yg sempat tertunda ya...
Ngomong2 part time job nya disana ngapain tuh pak...?!
sukses selalu akhi, may ALLah SWT bless you and makes everything easy for u
Saya sendiri belum berbuat apa-apa untuk peradilan agama. Saya iri dengan kawan-kawan yang sudah banyak berbuat demi kemajuan peradilan agama, seperti mereka yang aktif menulis artikel di media massa cetak dan elektronik dan menerbitkan bukunya, kawan-kawan yang aktif menulis artikel di badilag.net, mereka yang aktif di publikasi putusan, kawan-kawan yang tekun mengelola IT (website & Siadpa), kawan-kawan yang berkutat di pelayanan publik dan mereka yang setiap hari berusaha melayani justice seekers". MANTAP BANGET
Good luck !!!!
Saya berdoa semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan lahir batin sehingga Bapak cepat selesai study sesuai rencana, amin.
b(^_^)d
mudahan seribu kader lagi yang bisa meniru jejak langkah om cholil, tetap semangat menghinspirasi...best ragard, your brother