1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

ANAK DURHAKA TERHALANG MEWARISI?

Oleh : Teddy Lahati, S.H.I.[1]

PENDAHULUAN

            Contoh kasus :misalnya A adalah anak durhaka, A telah menganiaya orangtuanya hingga jatuh sakit. Orangtuanya memiliki banyak harta untuk diwariskan. Beberapa tahun kemudian orangtua si A meninggal karena sakit akibat penganiayaan si A, pertanyaannya apakah si A berhak menerima harta warisan tersebut?

            Dalam ilmu kewarisan, anak berhak untuk untuk menerima harta waris sebagaimana dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 174 ayat 2 bahwa apabila semua ahli waris ada maka yang mendapat warisan hanya: anak, ayah, ibu, janda atau duda. Namun seiring dengan perkembangan zaman saat ini, secara realitas, tak bisa dipungkiri peristiwa-peristiwa yang diluar dugaan terjadi, misalnya anak yang tega menyakiti orangtuanya hingga masuk rumah sakit hingga peristiwa anak yang tega membunuh orangtuanya.

            Olehnya, Penulis mengangkat wacana ini, sebagai bahan diskusi dalam menemukan atau menerobos hukum sehingga menciptakan hukum baru. Sehingga rumusan masalah yang penulis soroti dalam artikel ini apakah anak durhaka dapat mewarisi harta orangtuanya?.


[1] Hakim Pengadilan Agama Limboto


Selengkapnya KLIK DISINI

 

Comments  

 
# Cik Basir 2017-01-25 11:41
bagus tulisannya....w ill be success...
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# abdurrahman_Pa_Kras 2017-02-09 14:47
ass...
Tulisan yang bagus namun menyisakan pertanyaan :
1. Batasan kriteria anak durhaka belum detail? bila merujuk ke pasal 173 KHI, lebih mengarah perbuatan dalm lingkup pidana?
2. Apakah hakim Pengadilan agama bisa menentukan seorang ahli waris sebagai anak durhaka saat ada perkara waris? karena bila merujuk pasal 173 harus ada putusan hakim yang BHT, bila dipahami adalah hakim pengadian negeri karena lingkupnya pidana?
Reply | Reply with quote | Quote
 

Add comment

Pembaruan MA

Layanan Info

BANNER SUBDIT HAKIM

hasil-tpm

Elearning

Banner majalah

tnde01